PERAN, TUGAS & JASA ULAMA DALAM MENERUSKAN RISALAH NABI KEPADA UMAT ISLAM

Posted: Januari 27, 2016 in SUNNAH - ADAB & NASIHAT
Tag:
Muktamar Ulama2

Pic By: Neverblast.com

Kita sering saksikan fenomena yang merebak di akhir zaman ini, banyak pemuda yang baru belajar agama (kemarin sore), bersikap seolah ia telah belajar agama dari kecil dan telah beramal & berperilaku persis seperti yang Allah & Rasul Ajarkan, hingga timbullah rasa ‘ujub, sombong dan paling benar sendiri atas hal tersebut berkembanglah sikap berani menyalahkan, menuduh, memfitnah bahkan membunuh para ulama-ulama yang memang sejak lama telah berperan besar mengajarkan agama ini kepada umat Islam.

Lalu sudah berapa puluh tahun kah Anda & sudah tuntaskah Anda menuntut satu ilmu agama dari berpuluh-puluh cabang ilmu dalam agama ini?, sudah berapa puluh atau berapa ratuskah guru-guru Anda? Tahukah anda bahwa Jumlah guru Imam Abu Hanifah رحمه الله (Lahir th 80 Hijriah-wafat th 150 Hijriah) adalah 4000 (empat ribu) guru/Syekh, jumlah guru Imam Bukhari رحمه الله (lahir th 194 Hijriah-wafat tahun 256 Hijriah) 1080 (seribu delapan puluh) guru.

Berdasarkan informasi di atas, tidak layak dan tidak etis jika ada seorang ustadz menganjurkan kepada muridnya agar jangan menuntut ilmu kepada ustadz-ustadz aliran lain atau golongan lain yang tidak sependapat dengannya, (bahkan sampai mencela mereka).

Firman Allah سبحانه وتعالى :
”يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ “
Artinya : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi pengetahuan beberapa derajat. (Surah Al-Mujadalah:11).

ILMU  dalam Islam memiliki kedudukan yang istimewa, karena kehidupan manusia tidak akan tegak lurus tanpa ilmu. Dan ilmu merupakan sifat yang melekat pada para nabi.

Antara rahmat Allah yang diberikan kepada manusia adalah tidak mencabut ilmu dengan meninggalnya para nabi, karena para nabi mewariskan ilmu kepada sekelompok manusia untuk menggantikan kedudukan mereka dalan mengemban amanah Allah dalam mengajarkan manusia dan mengemban tugas para nabi ketika masih hidup, hanya saja kelompok tersebut tidak didukung oleh wahyu secara langsung dan tidak pula ma’shum. Kelompok yang dimaksud adalah para ulama.

Dari Abu Darda’ Radhiallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam bersabda:

“Barangsiapa melalui satu jalan yang di dalamnya terdapat ilmu, maka Allah akan memberinya jalan menuju surga. Dan sungguh para malaikat meletakkan sayapnya bagi penuntut ilmu sebagai bentuk keridhaannya atas apa yang diperbuat, dan seluruh penduduk langit dan bumi meminta ampun bagi orang yang berilmu, bahkan ikan-ikan di air juga melakukan hal yang sama. Dan keutamaan ahli ilmu atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang, para ulama adalah orang yang mewarisi Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, mereka hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak”, (At-Tirmidzi, Kitabul Ilmi, Bab Fadlul alal Ibadah, No. 2682).

Di akhir hadis Nabi di atas, sangat jelas bahwa para nabi tidak mewariskan harta benda atau kekuasaan, namun justru mewariskan ilmu. Dan siapa pun yang mengambil bagian dari ilmu para nabi maka sesungguhnya ia telah mendapat hikmah. Dan siapa yang diberi hikmah, sesungguhnya telah dikaruniai kebaikan yang banyak. Begitu firman Allah (QS. Al-Baqarah [2]: 269).

Hadis di atas juga menjelaskan keutamaan ilmu dan kedudukan ulama, sampai-sampai para malaikat meletakkan sayapnya bagi para penuntut ilmu sebagai bentuk dukungan dan penghormatan. Rasulullah juga mengkhususkan dengan jelas bahwa makhluk yang ada di bumi dan langit memohonkan ampun untuk seorang ulama, termasuk makhluk yang ada di dalam air.

Pada kesempatan lain, juga membandingkan ulama dengan ahli ibadah, Sabda Nabi, Dari Abi Umamah al-Bahily:

Bahwasanya disebutkan dua orang pertama ahli ibadah dan yang lainnya ulama, maka Rasulullah bersabda, Keutamaan ulama atas ahli ibadah adalah seperti antara kedudukanku dengan orang yang paling rendah di antara kalian, lalu ia kembali bersabda, Sesungguhnya para malaikat, para penduduk langit dan bumi, para semut di liangnya, bahkan ikan pun turut mendoakan kebaikan kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” (At-Tirmidzi, Kitabul Ilmi, Bab fiqhi alal Ibadah, no. 2685).

Antara keutamaan ulama berbanding dengan ahli ibadah, karena ahli ibadah yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu maka dia bisa saja sesat bahkan menyesatkan orang lain. Seperti halnya penduduk Makkah di zaman Rasulullah yang mengakui bahwa beribadah kepada Allah tetapi tanpa ilmu, maka mereka tetap dalam kekafiran dan kesesatan, (QS. Az-Zumar: 3).

Begitu juga ahli ibadah yang beribadah hanya berdasarkan prasangka yang salah, maka tentunya ibadah mereka tidak diterima, dan hanya akan mendapatkan kerugian, (QS. Fishshilat: 23). Imam Al-Darimi menceritakan bahwasanya Umar bin Abdil Aziz pernah mengirim surat pada penduduk Madinah yang isinya, Sesungguhnya orang yang beribadah tanpa ilmu maka dampak kerusakannya lebih banyak dari kemaslahatannya. (Az-Dzahabi, Tadzkiratul Huffadz, 1/439).

Abdullah bin Mas’ud bahkan menyatakan bahwa kedudukan ulama lebih utama daripada para mujahid, beliau berkata, Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sesungguhnya orang yang mati syahid di jalan Allah mengharapkan agar Allah mengutus kepada mereka ulama karena mereka mengetahui keutamaannya. (Abu Hamid Al-Gazali, Ihya Ulumuddin, 1/8).

Hasan al-Bashri berkata, ketika tinta ulama ditimbang dengan tinda syuhada, maka tinta ulama lebih unggul.

Sekilas pernyataan Hasan Al-Bashri rahimahullah tanpak berlebihan, namun jika ditelaah secara mendalam maka argumennya bisa diterima karena keutamaan jihad tidak akan pernah diketahui kecuali dengan ilmu. Seorang tidak akan berangkat berjihad tanpa mengetahui keutamaannya, dan syarat serta rukun jihad dapat diketahui dengan ilmu, termsuk status hukumnya, fardhu ain atau kifayah.

Orang yang tidak berilmu dapat menyebabkan meninggalkan jihad yang fardhu dan mendahulukan amalan sunnah, tentu saja ini salah. Demikian pula, orang yang pergi berjihad tanpa ilmu, boleh jadi melanggar ketentuan-ketentuan seperti membakar pemukiman warga, merusak tanaman, membunuh orang yang dilarang dibunuh, dan sejenisnya. Ilmu akan memberikan pengetahuan batas-batas dalam berjihad. Tanpa adanya ulama yang hakiki maka tidak akan ditemukan pula para mujahid yang hakiki.

Contoh kongkrit adalah golongan Khawarij, rajin beribadah kepada Allah, menegakkan kewajiban, dan berjihad di jalan Allah. Sayang, mereka berbuat tanpa ilmu, sehingga hal tersebut  menjerumuskan mereka dalam lubang kesesatan atau bahkan mengeluarkan mereka  dari Islam tanpa sadar, bahkan merasa paling mulia kedudukannya di hadapan Allah.

Ilmu Dicabut dengan Wafatnya Ulama Meski Ada Buku

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إِنَّ الله لا يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعَاً يَنْتَزِعُهُ من العِبادِ ولَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ حتَّى إذا لَمْ يُبْقِ عَالِمٌ اتَّخَذَ الناس رؤسَاً جُهَّالاً ، فَسُئِلوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا-البخاري

Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menggengam ilmu dengan sekali pencabutan, mencabutnya dari para hamba-Nya. Namun Dia menggengam ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga, jika tidak disisakan seorang ulama, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Maka mereka tersesat dan menyesatkan. (Riwayat Al Bukhari)

Al Munawi menjelaskan bahwa yang dimaksud ilmu di sini adalah ilmu untuk makrifatullah dan iman kepada-Nya serta ilmu mengenai hukum-hukum Allah, karena ilmu hakiki adalah ilmu yang berkenaan dengan hal ini. Dengan wafatnya para ulama maka proses mengajar akan berhenti, sehingga tidak ada yang menggentikan ulama-ulama sebelumnya.

Ulama Diangkat dan Buku Tidak Bisa Menggantikan

Imam Ahmad menyebutkan bahwa hadits ini disampaikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ketika haji wada’. Di riwayat lain disebutkan bahwa seorang badui bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,”Wahai Nabi Allah, bagaimana ilmu diangkat sedangkan ada pada kami mushaf-mushaf, dan kami telah belajar darinya apa yang ada di dalamnya dan kami mengajarkan istri-istri, anak-anak dan para pembantu kami?”

Maka, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mendongakkan wajah dan beliau marah lalu bersabda,”Ini orang-orang Yahudi dan Nashrani ada pada mereka lembaran-lembaran, mereka tidak mempelajari darinya mengenai apa yang datang kepada mereka dari para nabi mereka”.

Al Munawi menyatakan bahwasannya hadits di atas menunjukkan bahwa adanya buku-buku setelah ilmu diangkat dengan meninggalnya para ulama, buku-buku itu tidak berguna apapun bagi orang yang bodoh. (Faidh Al Qadir, 2/274)

Imam As Syatibi juga menyatakan bahwa di masa lalu, ilmu itu di dada para ulama, kemudian berpindah ke buku-buku, namun kuncinya masih di tangan para ulama. (Al Muwafaqat, 1/31).

Source: Masjid Al-Irsyad Bandung & hidayatullah.com

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s