APAKAH TEPAT, UNGKAPAN BERAGAMALAH DENGAN DALIL BUKAN DENGAN AKAL??

Posted: Februari 24, 2016 in SUNNAH - ADAB & NASIHAT

Beragama dengan Dalil

Beragamalah dengan dalil, bukan dengan akal. Kalimat ini sering kita dengar dan baca dari tokoh-tokoh agama manhaj tetangga sebelah yang seringkali mengecam penggunaan akal di dalam memahami ajaran agama. Argumentasi mereka adalah bahwa ajaran agama itu telah jelas disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Baiklah, kita terima saja argumentasi sederhana itu. Lalu pertanyaannya bagaimana kita bisa mengetahui bahwa satu ayat Al-Qur’an itu dinasakh (dihapus keberlakuannya) atau tidak? Mereka menjawab, ” ya dengan membaca riwayat hadits atau atsar sahabat.”

Baik, kita terima juga jawaban di atas, tapi pernyataannya tidak berhenti di situ. Muncul pertanyaan baru, “bagaimana mengetahui periwayatan hadits atau atsar tadi benar atau tidak?” Jawaban yang mungkin muncul adalah, ” ya dengan menggunakan ilmu diroyah dan riwayah (ilmu hadits).”

Baik, kita terima lagi argumentasi itu. Tapi tidak berhenti di situ. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menentukan kebenaran penalaran di dalam ilmu hadits itu sendiri? Perangkat manusiawi apa yang digunakan? Tidak mungkin, jawaban yang diberikan itu adalah dengkul atau bokong. Sampai di sini, dengan terpaksa AKAL itu akan digunakan.

Demikian pertimbangan akal digunakan ketika terjadi diskontinuitas dalil. Al-Qur’an tidak berbicara tentang kafirnya kedua orang tua Nabi Muhammad. Yang secara jelas dikisahkan di dalam Al-Qur’an adalah kafirnya paman Nabi Ibrahim, putera dan istri Nabi Nuh, serta putera dan istri Nabi Luth. Sedangkan hadits riwayat Muslim, yang menyebut ucapan Nabi tentang “ayahnya” di neraka, itu diperdebatkan keshahihan maknanya, seperti diuraikan oleh Imam al-Qasthalany di dalam al-Mawahib al-Muhammadiyyah. Di sini, kemudian akal mempunyai peran untuk melihat hubungan-hubungan di antara dalil itu. Jika dikatakan “jangan gunakan perasaan”, lho bagaimana mungkin bisa kesampingkan perasaan, wong yang dibicarakan ini adalah figur Nabi Muhammad bukan sampeyan ustad.

Berbicara tentang figur Nabi tidak bisa mengesampingkan perasaan, ini haditsnya:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس اجمعين

Tidak dianggap sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga aku lebih ia cintai daripada kedua orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia (HR al-Bukhari)

Jika akal dipandang tidak bermanfaat di dalam beragama kenapa ada ayat:

افلا تعقلون
Tidakkah kalian gunakan akal

Kata cak Lontong MIKIR

Oleh : KH. Abdi Kurnia J

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s