DR. AIDH ALQARNI : MUSLIM INDONESIA TERKENAL DENGAN AHLAKNYA

Posted: Maret 3, 2016 in SUNNAH - ADAB & NASIHAT
adh-al-qarni-kh-mustafa

Bersama Imam besar Istiqlal

SIANG nan panas itu suasana tak biasa meliputi Masjid Istiqlal, Jakarta. Ribuan umat Islam datang lebih banyak dibanding hari-hari sebelumnya. Di lantai 2 ruang shalat utama, para jamaah sudah memadati shaf-shaf hingga melimpah ruah. Padahal, waktu shalat belum juga tiba.

Istiqlal terasa berbeda dibanding hari dan pekan sebelumnya. Jumat, 18 Rabiul Awwal 1436 H itu, para jamaah kedatangan tamu istimewa dari luar negeri.

“(Yaitu) pejabat pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang akan memberikan sambutan setelah shalat Jumat,” ujar salah seorang pengurus masjid mengumumkan, sesaat sebelum muazin menjalankan tugasnya.

Pejabat yang dimaksud adalah Syeikh Dr Aidh Abdullah al-Qarni. Penulis buku terkenal La Tahzan ini kembali mengunjungi Indonesia. Salah satu agendanya ialah mengisi ceramah di Masjid Istiqlal.

Tampil dengan seragam kebesaran khas pejabat Arab Saudi, sang syeikh pun memulai sambutannya dengan mengapresiasi bumi Nusantara. Ia mengaku sangat terkesan dengan Indonesia. Masyarakat di negara ini ia nilai sangat ramah, baik, dan berakhlak.

Betapa saya bangga dengan warga Indonesia yang terkenal dengan kemurahannya, yang terkenal dengan akhlaknya, karena ucapan yang baik merupakan sedekah, senyum adalah sedekah. Dan itulah yang saya dapatkan dari masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Saking terkesannya, ia mengungkap, kekagumannya dengan Indonesia hampir bisa mempengaruhi buku fenomenalnya, La Tahzan (Jangan Bersedih!), yang terkenal seseantero dunia itu.

Kalau seandainya saya mengarang buku ini setelah berkunjung ke Indonesia, barangkali judulnya akan lain. Saya melihat di negeri ini sangat indah, dengan airnya, dengan kehijauannya, dan dengan keramahan dari wajah-wajah bapak-bapak dan masyarakat Indonesia secara umum,” paparnya di depan para jamaah yang berkerumun membentuk setengah lingkaran.

Pujian itu membuat kebanyakan jamaah tak bisa menyembunyikan kegirangannya. Sebab Aidh al-Qarni mungkin bermaksud mengatakan, judul La Tahzan tidak cocok bagi masyarakat Indonesia yang ia rasa begitu menggembirakan dan seakan tanpa kesedihan.

Pria kelahiran Arab Saudi tahun 1379 H (1960 M) ini pun menjelaskan alasan pemilihan judul La Tahzan . Judul itu terinspirasi dari momen sejarah, saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersama Abu Bakar ash-Shiddiq memasuki Gua Hira. Sebelum mereka berhijrah ke kota Yatsrib (Madinah al Munawwarah) itulah Allah mewahyukan “Laa Tahzan…” kepada Nabi Muhammad.

“Saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada bapak-bapak, ibu-ibu sekalian yang ada di (Istiqlal) sini, dan juga kepada masyarakat Indonesia yang begitu ramah sekali setiap saya berkunjung ke sini. Baik itu kepada orang yang berkunjung sebagai wisatawan, ataupun dengan maksud-maksud tertentu datang ke sini,” ujarnya.

Oleh karena itu,” ia melanjutkan, “banyak di antara saudara-saudara kita di Arab Saudi berkunjung ke sini, kemudian tidak pulang lagi. Saya khawatir, dengan keramahtamahan Anda ini, jangan-jangan (membuat) masyarakat ataupun saudara-saudara kita yang ada di Arab Saudi banyak ke sini dan tidak kembali lagi ke sana.” Segenap jamaah pun tertawa mendengarnya.

Berceramah hampir 1 jam, Aidh al-Qarni menyampaikan pesan tentang kiat-kiat menggapai bahagia. Ada 7 kiat dia sebutkan, yang paling pertama adalah beriman kepada AllahSubhanahu Wata’ala.

Ia juga menyerukan umat Islam seluruh dunia bersatu. Sebab, katanya, kalimat Tauhid merupakan pemersatu umat, tanpa peduli kebangsaan seseorang.

Acara lantas ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin Aidh al-Qarni. Sambil menundukkan pandangan dan mengangkat kedua tangan, ia mendoakan kebaikan bagi umat Islam se-dunia. Seperti Palestina, Yaman, Suriah, dan negara-negara Muslim lain yang tengah dirundung berbagai ujian dan kesedihan.

Sempat di Penjara Kerajaan Saudi hingga akhirnya mengeluarkan kitab fenomenal Laa Tahzan

Yang mungkin tidak banyak diketahui bahwa Laa Tahzan lahir dari balik jeruji penjara.  Tidak semua memang, hanya sebagian. “Sekitar 100 halaman,” kata al Qarni. Sisanya ia selesaikan setelah ia keluar dari penjara.

Al Qarni masuk bui karena menentang kehadiran pasukan Amerika Serikat di Arab Saudi. Ia kemudian di cokok pemerintah Arab Saudi dan dijebloskan di penjara selama 10 bulan pada 1996.  Selama di penjara ia baca membaca buku soal musibah dan problematika manusia, pembunuhan serta hubungan bapak dan ibu atau hubungan anak dan orangtua. Dari membaca inilah lalu muncul ide menulis Laa Tahzan.

Source: hidayatullah.com

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s