MENGUPAS KATA “KULLU” DARI PERSPEKTIF DUA DISIPLIN ILMU

Posted: Maret 7, 2016 in NGAJI ONLINE, STOP MENUDUH BID'AH !!, SUNNAH - ADAB & NASIHAT, TAFSIR & QOUL ULAMA
Tag:, ,
Bid'ah Hasanah

Pic by: akhbarona.com

Banyak polemik di tengah masyarakat yang jika terus dibiarkan tanpa ada solusi konkret akan dapat menimbulkan perpecahan di tubuh kaum muslimin. Dewasa ini, telah muncul beberapa kelompok yang dianggap sudah tidak sejalan lagi dengan para ulama salaf saleh, seperti kelompok yang gemar menuduh sesama muslim lainnya dengan sebutan kafir, syirik, dan keluar dari Islam. Jika diperhatikan, salah satu penyebabnya adalah karena mereka keliru dalam memahami dan menginterpretasikan teks-teks Al-Quran dan Sunnah. Seorang muslim tidak bisa langsung mengambil hukum dari keduanya tanpa memiliki landasan ilmu yang kuat.

Dalam sebuah riwayat, Nabi SAW. bersabda:

عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، تمسكوا بها، وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم و محدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة.

Perbedaan yang mendasar dalam menginterpretasikan teks dapat kita lihat pada hadis seputar bid’ah di atas. Ada yang berpendapat bahwa makna lafal (كل) bermakna “semua dan keseluruhan”. Dan ada yang berpendapat bahwa maknanya adalah “sebagian”. Lantas mana dari keduanya yang benar?

Berangkat dari fenomena di atas, kitab “Ahkâmu Kull wama ‘alaihi Tadull” sangat sesuai untuk menjadi solusi dari perbedaan pendapat tentang hakikat makna lafal (كل) dalam hadis tersebut. Kitab ini merupakan salah satu karya agung yang disusun oleh al-Imam al-Qâdhi Abu al-Hasan Ali bin Abd al-Kafi Taqiyuddin al-Subki al-Syafi’i. Beliau dilahirkan pada tanggal 1 Shafar  tahun 683 H. di daerah Sabak al-Abĩd, Provinsi Manufiah, Mesir. Beliau dibesarkan dalam keluarga ulama, ayahnya Zain al-Dĩn Abu Muhammad Abd al-Kâfi adalah seorang imam besar madzhab Syafii, yang terkenal dengan sifat wara’ dan zuhud. Sang ayah adalah guru pertama beliau dalam belajar ilmu syariat semasa kecilnya, dan saat beranjak ke usia remaja beliau pindah ke Kairo, untuk menuntut ilmu pada banyak ulama besar di masanya, diantaranya Ibnu Daqiq al-‘Id, Saif al-Dĩn al-Baghdâdi, al-Syaraf al-Dimyâthi, Ali al-‘Ala al-Bâji, Abu Hayyân, Abdullah al-Ghumari al-Maliki dan banyak ulama lainnya, sehingga beliau menjadi ulama besar yang ahli di berbagai disiplin ilmu.

Dalam kitab “Thabaqât al-Syâfi’iyyah al-Kubrâ” disebutkan bahwa Imam Taqiyuddin al-Subki adalah seorang pakar fikih, hadis, tafsir, mantiq, ilmu qiraat, ilmu kalam, ushul fikih, nahwu, bahasa dan sastra. Setelah menguasai semua cabang ilmu, beliau membuka berbagai majelis ilmu di Mesir, seperti di kota Al-Mansuriyah, Masjid Al-Hakim dan madrasah al-Hikâriyah, sehingga beliau mendapatkan julukan Syaikhul Islam (guru besar umat Islam). Setelah beberapa tahun menyebarkan ilmunya di Mesir, sekitar tahun 746 H. beliau berhijrah ke Syam (Suriah) dan mengajar di Dâr al-Hadĩst al-Asyrâfiyah, dan diangkat menjadi Qhâdi (hakim agung) Negeri Syam setelah wafatnya Jalaluddin al-Qazwĩni. Selain aktivitas mengajar di banyak majelis ilmu, beliau juga dikenal sebagai seorang ulama yang sangat produktif dalam menulis. Beliau wafat pada tahun 756 H. dan lebih dari 50 judul kitab telah berhasil diselesaikan semasa hidupnya.

Kitab “Ahkâmu Kull wama ‘alaihi Tadull” adalah sebuah karya yang ditulis untuk mengupas tuntas kaidah-kaidah (كل) dari sudut pandang ilmu ushul fikih dan nahwu. Al-Subki menyebutkan beberapa alasannya menggabungkan dua unsur ilmu dalam kitab ini, diantaranya adalah sebagai sanggahan kepada orang yang menganggap bahwa ushul fikih tidak penting untuk dipelajari seperti ilmu-ilmu lainnya, padahal ia adalah ilmu yang sangat dibutuhkan oleh seorang ahli fikih dalam memahami sebuah hukum. Bahkan, para ulama ushul fikih lebih detail dalam menafsirkan kata-kata Arab secara terperinci, seperti kata perintah (اِفعلْ) yang menunjukkan makna wajib, atau kata larangan (لا تفعلْ) yang menunjukan makna haram, atau lafal (كل) yang menunjukkan makna umum, dan lain sebagainya.

Adapun dalam menyusun kitab ini, metode yang digunakan oleh al-Subki dalam memaparkan permasalahan-permasalahan sangatlah detail, beliau membagi keadaan (كل) secara garis besar menjadi tiga bagian. Pertama, saat ia disandarkan kepada isim nakirah, kedua saat ia disandarkan kepada isim ma’rifat, dan ketiga saat ia berdiri sendiri, atau tidak disandarkan kepada isim nakirah maupun isim ma’rifat. Dan setelah memaparkan kaidah-kaidah dasar (كل), beliau mengaplikasikan dalam contoh yang langsung diambil dari Al-Quran, hadis, dan syair-syair Arab. Ada sekitar 51 ayat Al-Quran, 11 matan hadis, dan 72 syair Arab disebutkan sebagai syâhid (bukti) untuk memperkuat kaidah tersebut.

Pada bab pertama, al-Subki menguraikan secara gamblang keadaan (كل) saat disandarkan kepada isim nakirah. Dalam keadaan ini lafal (كل) bermakna umum (universal), dan mencakup seluruh komponen penyusunnya. Sedangkan dari sisi nahwu, lafal (كل) akan berefek pada khabar dalam susunan kalimat tersebut. Beliau berkata: “Jika mudhaf ilaih-nya isim mufrad (tunggal), maka khabar-nya juga harus isim mufrad, jika mudhaf ilaih-nya isim mutsanna (dual) maka khabar-nya juga isim mutsanna, jika mudhaf ilaih-nya isim jama’ (jamak), maka khabar-nya juga isim jama’, jika mudhaf ilaih-nyamudzakkar, maka khabar-nya juga mudzakkar, dan jika mudhaf ilaih-nya muannats, maka khabar-nya juga muannats”. Contohnya pada kalimat (كل شيئٍ هالكٌ إلا وجهَه), dan (كل نفسٍ ذائقةُ الموت), keduanya mengandung lafal (كل) dan di-idhafah-kan pada isim nakirah. Kemudian khabar dari keduanya, yaitu kata (ذائقةُ) dan (هالكٌ) sama-sama mengikuti mudhaf ilaih-nya.

Kemudian pada bab selanjutnya, al-Subki menjelaskan tentang (كل) saat disandarkan kepada isim ma’rifat. Dalam keadaan ini makna (كل) lebih global dan tidak mencakup satu-persatu dari komponen penyusunnya. Sedangkan dari sisi nahwu, apapun bentuk mudhâf ilaih pada susunan ini, baik bentuk tunggal maupun jamak, maka khabar dari (كل) harus tetap tunggal. Contoh, (كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته), meskipun mudhâf ilaih pada kalimat tersebut berbentuk jamak (كم), tapikhabar-nya harus tetap isim mufrad (tunggal), yaitu (راع).

Di akhir pembahasan dijelaskan bahwa saat (كل) tidak disandarkan kepada isim nakirah maupun isim ma’rifat, makakhabar pada bentuk kalimat ini bisa dalam dua model, baik tunggal maupun jamak. Contoh, (كل في فلك يسبحون ) dan (قل كل يعمل علي شاكلته), khabar pada kalimat pertama adalah (يسبحون) dan bentuknya adalah jamak. Sedangkan pada kalimat kedua,khabar-nya adalah (يعمل) yang berbentuk tunggal.

Kitab “Ahkâmu Kull wamâ ‘alaihi Tadull”, bagi penulis adalah sebuah kitab turats yang meskipun sedikit rumit dari segi bahasa, namun isi dan kandungannya sangat jelas. Semua permasalahan yang dihadirkan dikupas secara mendalam dan langsung diaplikasikan dalam sebuah contoh yang ringan, sehingga membuat pembaca menjadi paham dan mudah memetakan kaidah-kaidah pokok dalam kitab ini. Dan terakhir, kitab ini sangat bermanfaat bagi para penuntut ilmu, khususnya bagi yang gemar menggeluti bidang ushul fikih dan nahwu.

ahkam-kullJudul buku: Ahkâmu Kull wamâ ‘alaihi Tadull

Penulis: Abu al-Hasan Ali bin Abd al-Kâfi Taqiyuddin al-Subki al-Syâfi’i

Penerbit: Dâr al-Imâm al-Râzi

Tebal buku: 217 halaman

Resentator: Achmad Dzulfikar Fawzi

 

 

 

Wallâhu Ta’âla A’lam bis Shawâb

Source: ruwaqazhar.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s