BERBUAT BAIKLAH KEPADA SEMUA MAHLUK MESKIPUN KEPADA SEEKOR ANJING

Posted: April 9, 2016 in AMAL GENERASI SALAF, SUNNAH - ADAB & NASIHAT
Ust. Abdul Wahab sedang memberi makan anjing

Pic Ust. Abdul Wahab: “puncak agama adl cinta”

Imam Ahmad & Perawi Hadits

KEGIGIHAN Imam Ahmad bin Hambal dalam menuntut ilmu sudah menjadi rahasia umum. Di manapun lokasinya, ketika beliau mendengar ada sumber ilmu di daerah tersebut, maka beliau akan bergegas untuk mendatanginya, demi mendapatkan ilmu, meski harus mengorbankan banyak hal, termasuk dirinya sendiri.

Misal, sewaktu Imam Ahmad pergi ke Yaman untuk mencari ilmu, ternyata bekalnya habis, akhirnya diapun menyewakan dirinya kepada tukang onta agar dapat pergi menemui Gubernur Shan’a.

Padahal teman-temannya telah menawarkan binatang tunggangan untuknya, namun dia tidak mau menerima satu pun tawaran dari mereka.

Suatu ketika, Imam Ahmad mendapat informasi bahwa ada seseorang yang tinggal di negeri yang sangat jauh, dan dia meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.

Mendapat berita itu, tanpa pikir panjang, beliau langsung bergegas menuju alamat yang diterima.
Sesampainya di lokasi yang dituju, beliau langsung memfokuskan diri mencari sosok perawi hadits yang dimaksud. Tak lama berselang, sosok yang dicari-caripun ketemu. Dan saat itu, dia (si perawi) nampak tengah memberi makan seekor anjing.

Imam Ahmad memberi salam kepadanya. Yang diberi salampun menjawab salam dengan sempurna. Meski demikian, sedikitpun ia tak menoleh kepada Imam Ahmad. Ia masih sibuk memberikan makan kepada anjing yang ada di hadapannya.

Setelah selesai memberi makan anjingnya, barulah sang perawi hadits mengalihkan diri kepada Imam Ahmad. Kepada sang Imam, beliau berucap, “Barangkali Anda mempertanyakan kepada diri Anda, mengapa aku mengurus anjing ini?,” tanyanya.

“Iya,” jawab Imam Ahmad singkat.

Mendengar jawaban dari Imam Ahmad, si perawi hadits pun langsung mengurai alasannya dengan menyetir satu hadits.

Ucapnya, “Berkata padaku Abu Ziyad dari A’raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Barangsiapa yang memutuskan harapan orang yang mengharap kepadanya, maka Allah akan memutuskan harapan orang itu pada hari Kiamat dan dia sekali-sekali tidak akan masuk surga,” ucap beliau meriwayatkan sebuah hadits kepada Imam Ahmad bin Hambal.

“Anjing ini”, lanjutnya kemudian, “Telah datang menemuiku, karena itu aku takut memutuskan harapannya kepadaku.”

Mendengar penjelasan yang demikian, Imam Ahmad langsung berkata, “Cukuplah bagiku hadits satu ini,” dan beliaupun langsung kembali pulang

IBNU DAQIQ AL EID

Disamping merupakan seorang ahli ilmu, beliau juga ahli zuhud dan ibadah.

Ibnu Daqiq Al Eid juga dikenal sebagai ulama dua madzhab, dimana beliau menjadi imam panutan dalam madzhab Maliki dan Madzhab As Syafi’i dan mengajar dua madzhab, namun para muridnya semuanya bermadzhab Syafi’i.

Ibnu Daqiq Al Eid amat sering menghadap penguasa untuk memberi membantu mereka yang sedang terbelit masalah dengan penguasa. Pernah putra Ibnu Daqiq Al Ied menyembunyikan baju sang ayah agar ia tidak pergi kepada penguasa, namun ketika ada yang meminta bantuan, Ibnu Daqiq Al Ied tetap berangkat meski tidak mengenakan baju atasan.

Pernah pejabat pemerintahan mendatangi seseorang karena ia tidak membayar pajak, dan saat itu musim dingin dan ia akan dihukum. Ibnu Daqiq Al Ied pun menangis sambil mencium lutut pejabat tersebut seraya mengatakan,”Janganlahlah engkau hukum ia dalam kondisi dingin seperti ini.”

Ibnu Daqiq Al Eid juga mendatangi rumah seorang pejabat Nasrani, agar menghapus pungutan untuk orang-orang faqir.

Pada suatu saat Badr Ad Din Jama’ah bertamu kepada Ibnu Daqiq Al Ied dan ia melihat Ibnu Daqiq Al Ied mengenakan baju perang. Badr Ad Din Jamaah pun bertanya mengenai hal itu. Ibnu Daqiq Al Eid menjawab bahwa ada seorang fakir datang kepadanya dalam keadaan tidak memiliki pakaian untuk menutup auratnya. Akhirnya Ibnu Daqiq Al Ied pun memberikan baju satu-satunya yang ia miliki kepada si fakir dan ia sendiri tetap tinggal di rumah. Saat itu ada seorang tentara datang dan memberikan baju perangnya, maka Ibnu Daqiq Al Ied pun mengenakan pakaian tersebut.

Pernah ketika berjalan, Ibnu Daqiq Al Ied melihat ada seekor anjing betina mati setelah melahirkan. Ibnu Daqiq Al Ied pun membawa anak-anak anjing itu dengan sajadahnya ke rumahnya dan merawat anjing-anjing itu hingga mereka mandiri. (Al Kawakib Ad Durriyah, 2/486-488).

Ampunan Dari Allah Setelah Berbuat Baik Kepada Anjing

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ، ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: «ﺑﻴﻨﻤﺎ ﺭﺟﻞ ﻳﻤﺸﻲ ﺑﻄﺮﻳﻖ اﺷﺘﺪ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﻌﻄﺶ، ﻓﻮﺟﺪ ﺑﺌﺮا، ﻓﻨﺰﻝ ﻓﻴﻬﺎ ﻓﺸﺮﺏ، ﺛﻢ ﺧﺮﺝ ﻓﺈﺫا ﻛﻠﺐ ﻳﻠﻬﺚ ﻳﺄﻛﻞ اﻟﺜﺮﻯ ﻣﻦ اﻟﻌﻄﺶ، ﻓﻘﺎﻝ اﻟﺮﺟﻞ ﻟﻘﺪ ﺑﻠﻎ ﻫﺬا اﻟﻜﻠﺐ ﻣﻦ اﻟﻌﻄﺶ ﻣﺜﻞ اﻟﺬﻱ ﻛﺎﻥ ﺑﻠﻎ ﻣﻨﻲ، ﻓﻨﺰﻝ اﻟﺒﺌﺮ ﻓﻤﻸ ﺧﻔﻪ ﻣﺎء، ﺛﻢ ﺃﻣﺴﻜﻪ ﺑﻔﻴﻪ ﺣﺘﻰ ﺭﻗﻲ ﻓﺴﻘﻰ اﻟﻜﻠﺐ ﻓﺸﻜﺮ اﻟﻠﻪ ﻟﻪ ﻓﻐﻔﺮ ﻟﻪ» ﻗﺎﻟﻮا: ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﻭﺇﻥ ﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻟﺒﻬﺎﺋﻢ ﻷﺟﺮا؟ ﻓﻘﺎﻝ: «ﻓﻲ ﻛﻞ ﻛﺒﺪ ﺭﻃﺒﺔ ﺃﺟﺮ» رواه البخاري ومسلم

Sabda Nabi: Seseorang berjalan mengalami kehausan. Ia menemukan sumur, ia turun lalu minum. Setelah itu ia melihat anjing menjulurkan lidahnya dan menjilat tanah, karena haus. Ia berkata: “Anjing ini kehausan seperti aku”. Ia turun ke sumur, sepatunya diisi air penuh, lalu diminumkan pada anjing. Ia bersyukur pada Allah, dan Allah mengampuninya. Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kita dapat pahala dari hewan-hewan ini?” Nabi bersabda: “Setiap tenggorokan yang basah, ada pahala” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Source: Hidayatullah & Ust. Ma’ruf khazin

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s