BENARKAH ALHAFIZH AHMAD ALGHUMARI MENYESATKAN ASY’ARIAH?

Posted: April 12, 2016 in STOP MENUDUH BID'AH !!, WAHABI - SALAFY AHLI TAKFIR & TABDI, WAHABI - SALAFY HALALKAN SEGALA CARA
Tag:

Yazid jawaz

Kritik ulama-ulama Ahlus sunnah wal jamaah terhadap para Ustadz & ulama dari Salafy, khususnya Salafy Indonesia, semisal Ust. Yazid Jawaz terhadap penyesatannya kepada umat Islam ahlus sunnah wal jama’ah yakni yg bermadzhab aqidah As’ariyah dalam artikel, ceramah dan buku-bukunya yang tersebar, mendapatkan tanggapan dari kalangan Salafy sendiri hingga mencatut nama ulama-ulama ahlus sunnah sendiri untuk membela Ust. Yazid tsb.

Seperti halnya kutipan dari salah satu Ust. Salafy yang bernama Abu Khansa, kutipannya sbb:

“Ustadz Yazid itu bukan yg pertama menyesatkan asy’ariyah…yg jauh lebih alim dr beliau jg ada yg menyesatkan asy’ariyah, contohnya Al Hafidz Ahmad bin Shiddiq Al Ghumari dlm al jawab alnmufid bab tauhid dan dalam kitab ju’nah al aththar…monggo ditubggu status “waspada kitabnya Syaikh Ahmad bin Shiddiq Al Ghumari”.

Dalam hal ini kami menjawab dan membantah apa yang di tuduhkan oleh Ust Salafy tsb:

1. Jika Sayyid Ahmad al-Ghumary memang benar pernah mengkritik Asy’ariyyah, kritikan yang dialamatkan itu tidak memuat pesan permusuhan kepada semua pengikut Asy’ariyyah. Nah, itu berbeda jauh dengan yang dilakukan oleh Yazid Abdul Qadir Jawwas. Beliau membangun permusuhan terhadap Asy’ariyyah dengan mengatasnamakan kritik. Di sinilah, kami membedakan antara intensi dan substansi. Meskipun secara tertulis terkesan sama, tapi intensi tulisan keduanya yang berbeda.

Saya akan lacak dari beberapa orang yang pernah berjumpa dengan Sayyid Ahmad al-Ghumary, untuk menanyakan apakah benar Sayyid al-Ghumary membenci Asy’ariyyah? Inilah enaknya ngaji sanad dan talaqqy.

2. al-Haafidz al-‘Allâmah al-Muhaddits Abdullah ibn Muhammad ibn ash-Shiddiq al-Ghumari dalam kitabnya ‘Aqidah Ahl al-Islam Fi Nuzul ‘Isa: “an-Naisaburi dalam menafsirkan firman Allah: “Wa Raafi’uka Ilayya” (Ali ‘Imran ayat 55) mengatakan bahwa kaum Musyabbihah telah berpegang tegung kepada zahir ayat-ayat semacam ini untuk menetapkan adanya tempat bagi Allah, yaitu menurut mereka adalah arah atas. Namun demikian dalil-dalil yang sangat kuat dan pasti telah menunjukan bahwa Allah maha suci dari tampat dan arah. Dengan demikian maka wajib memahami ayat semacam ini tidak dalam makna zhahirnya, tapi dengan metode takwil. Dan makna ayat tersebut di atas ialah bahwa Allah telah mengangkat Nabi Isa ke langit, ke tampat yang dimuliakan oleh Allah.”
Wa Allah A’lam.

3. Dalam Kitab Ju’nah al-Aththar, Syaikh al-Ghumari bercerita: “Pada tahun 1356 H ketika saya menunaikan ibadah haji, saya berkumpul dengan tiga orang ulama Wahhabi di rumah Syaikh Abdullah al-Shani’ di Mekkah yang beliau juga seorang ulama Wahhabi dari Najd.
Dalam pembicaraan itu, mereka menampilkan seolah-olah mereka ahli hadits, amaliahnya paling sesuai dengan hadits dan anti terhadap taqlid. Tanpa terasa, pembicaraan pun masuk pada soal penetapan ketinggian tempat Allah SWT dan bahwa Allah SWT itu ada di atas ‘Arasy sesuai dengan ideologi Wahhabi.
Mereka menyebutkan beberapa ayat al-Qur’an yang secara literal (zhahir) mengarah pada pengertian bahwa Allah SWT itu ada di atas ‘Arasy sesuai keyakinan mereka. Seperti ayat ;
الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى
“Ar Rahman yg bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS Thoha : 5)
ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى العَرْشِ
“Kemudian IA bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS Al A’raf : 54)

Akhirnya saya (Ahmad Al-Ghumari) berkata kepada mereka:
“Apakah ayat-ayat yang Anda sebutkan tadi termasuk bahagian dari al-Qur’an?”
Para Ulama Wahhabi itu menjawab: “Ya.”
Saya berkata: “Apakah meyakini apa yang menjadi maksud ayat-ayat tersebut dihukumi wajib?”
Para ulama Wahhabi serentak menjawab: “Ya.”
Saya berkata: “Lalu bagaimana dengan firman Allah SWT
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَمَا كُنْتُمْ
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada” (QS. al-Hadid : 4).
Apakah ini juga termasuk al-Qur’an?”
Para ulama Wahhabi tersebut menjawab: “Ya, tentu saja termasuk al-Qur’an.”
Saya berkata: “Lalu bagaimana dengan firman Allah SWT
مَا يَكُوْنُ مِنْ نَجْوَى ثَلاَثَةٍ إِلاَّ وَهُوَ رَابِعُهُمْ
“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya….” (QS. al-Mujadilah : 7).
Apakah ayat ini termasuk al-Qur’an juga?”
Para ulama Wahhabi itu menjawab: “Ya, itupun termasuk al-Qur’an.”
Saya berkata: “(Kedua ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT tidak di langit). Lalu mengapa Anda menganggap ayat-ayat yang Anda sebutkan tadi yang menurut asumsi Anda menunjukkan bahwa Allah SWT ada di langit lebih utama untuk diyakini dari pada kedua ayat yang saya sebutkan yang menunjukkan bahwa Allah SWT tidak ada di langit..? Padahal kesemua ayat tersebut juga dari Allah SWT?”
Para ulama Wahhabi itu menjawab: “Imam Ahmad yang mengatakan demikian.”
Saya berkata kepada mereka: “Nah, mengapa kalian kali ini malah taklid kepada pendapat Imam Ahmad dan tidak mengikuti dalil..?”
Tiga ulama Wahhabi itu pun terbungkam. Tak satu kalimat pun keluar dari mulut mereka.

4. Beliau al-Ghumari memang lebih condong kepada tafwidh (menyerahkan makna ayat dan hadits mutasyabihat kepada Allah SWT), namun beliau tidak menafikan takwil (seperti yang jug sudah posting di atas contohnya). Kedua metode itu dipergunakan oleh para Salaf Ash-Shalih. Tidak ada penyesatan kepada Asy’ariyah, karena dua metode itu juga yang dianut oleh Asy’ariyah.
Jadi, ini perkara prefer saja. Yang jelas, beliau tidak mengikut faham dhahiri (menggunakan makna dhahir untuk ayat mutasyabihat).

5. Di buku itu banyak kritikan yg beliau sampaikan, salah satunya juga kritikan kepada salafi dan juga beberapa ulama al-Azhar…. Orang Syiah juga bisa menjadikan buku ini sebagai senjata, karena di awal2 buku terdapat riwayat yg menyatakan bahwa Muawiyah meminum khamr.. Sy pun dapat buku ini dr website Syiah, (Silahkan klik link ini http://www.narjes-library.com/2011/11/blog-post_3314.html?m=1) Jadi, ya siapapun bisa mengambil pernyataan dr siapapun ketika kebetulan mendukung ide yg dy usung

6. Pencatutan nama sepertiyg terjadi pada Syekh Muhammad bin Siddiq al Ghumari, yang seperti ini juga pernah diungkapkan oleh salah seorang kawan salafi bahwa Syekh Abdul Qodir al Jailani dlm al Gunyah menyatakan bahwa asy’ariyah sesat. Padahal kalau dibaca informasinya tdk demikian, beliau hanya memaparkan bagaimana seharusnya di dalam memahami sifat2 allah. Ternyata manhaj yg diambil oleh beliau adalah tafwid yg berbeda dengan asyairoh yg mentakwilkan sifat Allah. Hanya ini pembahasan tentang asyairoh dlm kitab beliau. Di dalam kitab ini juga disebutkan beberapa kelompok sesat, dan asyairoh tdk disebut di dalamnya.

Lihat gambar kitab al ghunyah.

Kitab Al Gunyah yang di tahrif Wahabi-Salafy

 

Wallahu a’lam

Source: Ust. Abdi Kurnia. J, Ust. Fahmi Hasan, Ust. M Daud Arif K & Ust M. Abdan Syarif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s