AL-IMAM AL-SYAFI’I FI MAZHAB AL-QADIM WA AL-JADID KARYA DR. KH. A.NAHRAWI ABDUSSALAM AL INDUNISI

Posted: April 27, 2016 in KITAB KARYA ULAMA NUSANTARA, KONTRIBUSI ULAMA ASWAJA
Tag:

Al -Imamu assyafi'i

Ulama Betawi yang memiliki karya intelektual dan diakui secara luas di dunia Islam sangatlah sedikit. Salah satu yang sedikit itu adalah Syaikh Dr. Ahmad Nahrawi Abdussalam Al-Indunisi. Karya-karyanya antara lain Muhammad fil Qur’ an, Mukhtasar al-Bukhari wa Muslim, dan AI-Qiraat al’ Ashr’.

Namun, yang monumental adalah kitab karangannya yang berjudul AI-Imam As-Syafi’i fi Madzabihi al-Qadim wal al-Jadid yang telah diterjemahkan oleh Jakarta Islamic Centre (JIC) dan diterbitkan bersama penerbit Hikmah pada tahun 2008 dengan judul Ensiklopedia Imam Syafi’i. Kitab ini merupakan disertasi beliau dalam meraih gelar Doktor dengan predikat imtaz untuk bidang Perbandingan Mazhab dari Universitas AI-Azhar, Kairo, yang Juga mengukuhkannya sebagai orang Indonesia pertama yang mendapatkan gelar doktor dari. universitas Islam yang mendunia tersebut.

Menurut Prof Syaikh Abdul Gliani Abdul Khaliq, Guru Besar di universitas tersebut, kitab dari desertasi tersebut merupakan karya yang monumental, luar biasa, dan sangat bermanfaat karena membahas semua aspek yangberkaitan dengan Imam Syafi’i. Selain itu, menurut Syaikh KH. Saifuddin Amsir, salah seorang Rais Syuriah PBNU dan pengurus MUI Pusat, tidak ada satu karya yang membahas Imam Syafi’i di dunia Islam yang selengkap karya Syaikh Dr. Ahmad Nahrawi Abdus Salam ini. Begitu berbobotnya kitab ini, nyaris tidak ada satu pun penulis tentang mazhab Syafi’i, khususnya di Indonesia, yang tidak menjadikan kitab ini sebagai refrensinya. Karena lsinya yang berharga, sebuah penerbitan di Malaysia mengajukan permohonan kepada JIC untuk menerbitkan buku tersebut dalam bahasa Malaysia.

Edisi asal kitab ini merupakan thesis PhD Dr Ahmad Nahrawi di Universitas al-Azhar Mesir. Kitab ini pertama kali dicetak di Mesir pada tahun 1988. Kitab ini menjadi rujukan penting para mahasiswa perguruan tinggi di Timur Tengah yang membuat kajian ilmiah mereka mengenai mazhab al-Syafi’i. Hingga kini, kitab ini masih dijual di toko-toko buku di Mesir.

Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “ Ensiklopedia Imam Syafi’i ” oleh Usman Sya’roni, S.Ag, Lc. Manakala editor penerbitannya adalah Amirah Ahmad Nahrawi, Lc yaitu anak perempuan kepada Dr. Ahmad Nahrawi. Buku setebal 773 halaman ini telah diterbitkan dengan cetakan pertamanya pada tahun 2008 oleh Penerbit Hikmah, Indonesia.

Ensiklopedia Imam Syafi'i

courtesy pic abusahmin.blogspot.com

Dalam kitab ini, Dr. Ahmad Nahrawi membahaskan mengenai karya-karya dan pendapat-pendapat Imam al-Syafi’i ketika di Iraq dan Mesir. Bahkan beliau telah membincangkan secara khusus mengenai kedudukan kitab al-Umm, adakah benar ia karya Imam al-Syafi’i. Beliau menegaskan bahwa para ulama sepakat bahwa kitab al-Umm adalah karya Imam Syafi’i yang diriwayatkan oleh al-Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi.

Selain itu, pendapat yang mengkritik penisbahan kitab al-Umm kepada Imam Syafi’i muncul dari seorang yang bernama Dr. Zaky Mubarak. Malangnya, kritikannya hanya mengekori pendapat Abu Thalib al-Makki dan al-Ghazali sebelumnya. Dr. Ahmad Nahrawi sekali lagi membawakan pendapat seorang tokoh hadis terkenal Syaikh Ahmad Syakir yang telah membantah pandangan Dr. Zaky Mubarak tersebut dalam mukaddimah tahqiqannya terhadap kitab al-Risalah karya Imam al-Syafi’i

Tentang Pengarang

DR Nahrowi Abdussalam

Courtesy pic ulamamampang.wordpress.com

Nama lengkapnya adalah Ahmad Nahrawi Abdus Salam, lahir di Jakarta 30 Agustus 1931. Sedangkan nama Al-Indunisi adalah tambahan ketika beliau di Mesir yang menunjukkan bahwa beliau berasal dari Indonesia. Beliau adalah cucu dari Guru Mughni Kuningan, Jakarta Selatan dari jalur ibu, salah seorang dari enam guru Betawi yang terkemuka (the six teachers). Menurut penuturan putrinya, Amirah Lc., semasa kecil, pendidikan formal pertama kali yang beliau tempuh adalah Taman Kanak-Kanak Belanda. Setelah itu, atas saran kakeknya, Guru Mughni, beliau kemudian meneruskan pendidikannya Jamiatul Khair, Tanah Abang, Jakarta sampai tingkat SLTA. Selain itu, beliau juga mengaji kepada KH. Abdullah Suhaimi, bapak dari KH. Abdul Adzim Abdullah Suhaimi, MA, ulama Betawi dari Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Pencarian ilmu pengetahuan ke Mesir dimulai pada usianya yang ke-21 tahun, tepatnya pada Oktober 1952, yaitu ketika beliau pergi haji bersama kedua orang tuanya. Setelah melaksanakan ibadah haji, beliau tidak kembali ke tanah air. Beliau mengurus visa di Arab Saudi untuk pergi belajar di Mesir. Di negeri kaya peradaban itu, beliau meraih sejumlah gelar kesarjanaan. Gelar B.A diraih tahun 1956 dari Fakultas Syari’ ah Universitas Al-Azhar, Kairo. Kemudian dua gelar M.A diraihnya pada universitas yang sarna, yakni M.A jurusan kehakiman (1958) dan M.A jurusan Pengajaran dan Pendidikan (1960). Pada tahun 1961, beliau mendapat gelar Diploma I Jurusan Hukum, selanjutnya Diploma II diraihnya pada tahun 1962, keduanya diperoleh di Akademi Tinggi Liga Arab, Kairo. Kedua Diploma tersebut setara dengan M.A. Perjalanan studinya terus berlanjut. Pada tahun 1966, beliau mendapat M.A Personal Statute dan Perbandingan Mazhab dari Universitas Al-Azhar, Kairo. Minatnya yang tinggi terhadap disiplin ilmu tersebut diteruskan dengan meraih gelar Doktor dalam bidang Perbandingan Mazhab dari Fakultas Syari’ah dan Hukum, Universitas Al Azhar, Kairo.

Sejumlah aktivitas keorganisasian pernah dijalaninya. Pada tahun 1950, beliau mendirikan Ikatan Pelajar Indonesia Hijaz (IPIH),dan menjadi ketuanya sampai tahun 1952. Pada tahun 1953, beliau mendirikan Organisasi Pelajar Indonesia di Mesir (PIM) yang kemudian diganti menjadi Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) dan menjadi ketuanya sampai awal tahun 1960-an. Kemudian pada tahun 1970, mendirikan PPI di Damaskus, Syiria, sekaligus menjadi ketuanya dalam beberapa tahun kepengurusan.

Perjalanan karir beliau, antara lain, adalah menjadi penyiar dan penerjemah pada Radio Mesir seksi siaran Bahasa Indonesia (1954 sampai dengan 1970). Pada tahun 1958 sampai dengan tahun 1968, beliau menjadi guru bahasa Indonesia pada Akademi Bimbingan dan Kader Al-Azhar Cabang Universitas Al-Azhar untuk luar negeri. Beliau juga pemah menjadi dosen bahasa Indonesia pada Fakultas Bahasa Indonesia Cabang Univeritas ‘Ain Syamas, Kairo. Pada tahun 1970 sampai dengan tahun 1974, beliau menjadi pegawai lokal
KBRI Damaskus dan memegang jabatan sebagai Wakil Pimpinan Redaksi Majalah Indonesia dalam bahasa Arab yang diterbitkan oleh KBRI. Beliau juga pemah menjadi penyiar dan penerjemah Radio Saudi Arabia seksi Bahasa Indonesia di Jeddah dari tahun 1974 sampai tahun 1988.

Pada tahun akhir tahun 1989, beliau pulang ke tanah air, Jakarta, tempat terakhir pengabdian dirinya sampai akhir hayat. Di Jakarta, beliau mendirikan Yayasan An-Nahrawi yang diantaranya bergerak di bidang pencetakan kitab-kitab beliau, seperti kitab Muhammad fi Qur’an dan lainnya. Namun, yayasan ini belum aktif lagi setelah beliau wafat. Seperti ulama Betawi lainnya, selama di Jakarta Beliau mengajar juga di beberapa majelis taklim di berbagai masjid, diantaranya di Masjid Al-Munawar, Pancoran, Jakarta Selatan yang dekat dengan rumahnya, Masjid Agung At-Tin, Masjid Istiqlal dan di Majelis Albahhsy wattahqiq Assalam yang mengkaji tentang fiqh Imam Syafi’ i yang kini diteruskan oleh KH. Ahmad Kazruni Ishak Selain mengajar di majelis taklim, beliau juga pemah menjadi dosen di Fakultas Syari’ah lAIN (kini UIN) Ciputat. Dikarenakan jarak yang jauh dari tempat tinggal dan kesibukan lainnya, beliau hanya sempat mengajar di lAIN tersebut hanya satu semester. Meskipun mengajar di majelis taklim, beliau jarang disebut Kiyai. Bahkan lebih sering dipanggil doktor saja atau sering dipanggil syaikh. Sebagaimana budayawan Betawi H Ridwan Saidi tidak menyebutnya kyai ketika mengisahkannya di buku Orang Betawi dan Modernisasi Jakarta. Selain mengajar, beliau juga tercatat sebagai pengurus di Majelis Ulama Indonesia Pusat, yaitu di Komisi Fatwa dan Hukum, bahkan pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Pengkajian Obat Makanan (LPPOM) MUI Pusat, dan salah seorang ketua MUI Pusat.

Pada tanggal 21 Syawal atau 7 Februari 1999, masyarakat Betawi dan umat Islam di Indonesia kehilangan salah satu ulama terbaiknya. Syaikh Dr. Ahmad Nahrawi Abdussalam AlIndunisi pada tanggal tersebut, di usia 68 tahun, wafat dengan meninggalkan karya yang begitu berharga bagi umat Islam. Beliau dimakamkan di pemakan keluarga di Pedurenan (Belakang JMC), Jakarta Selatan.

Source: abusyahmin, jakarta.go.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s