INILAH 130 PAKAR HADITS DARI NUSANTARA (INDONESIA)

Posted: Juni 14, 2016 in KONTRIBUSI ULAMA ASWAJA
Tag:

Hadits

Dalam Kitab Tuhfah Al-Ahwadzi syarh Jami’ At-Tirmidzi, Al-‘Allamah Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al-Mubarakfuri membuat suatu pasal yang menjelaskan bahwa kebanyakan ulama menonjol dalam Islam bukan berasal dari bangsa ‘Arab, melainkan lebih didominasi orang-orang non-‘Arab. Sebelumnya, Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya juga menjelaskan demikian. Hal ini disebabkan, antara lain, karena orang-orang ‘Arab lebih menyibukkan diri mengurusi politik ketimbang dunia intelektual. Nah, pada saat itulah orang-orang non-‘Arab beramai-ramai mempelajari Islam dan berhasil menyumbang perpustakaan Islam yang tak terhitung jumlahnya.

Sebagai bentuk permisalan, kita lihat sosok Imam Al-Bukhari. Ulama pakar hadits yang memiliki nama lengkap Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhari ini mewakafkan seluruh hidupnya demi kepentingan Islam. Kitabnya yang paling terkenal, Shahih Al-Bukhari, disebut-sebut sebagai kitab paling valid sedunia. Seluruh manusia, yang di Barat maupun di Timur, sepakat menerimanya, tanpa ragu.

Lalu bagaimana dengan negeri tercinta ini? Apakah ada ulama yang semasyhur Imam Al-Bukhari?

Kalau ulama semasyhur Imam Al-Bukhari tentu tidak ada. Namun ulama yang mengikuti jejak Imam Al-Bukhari banyak kita jumpai. Hanya saja tidak sedikit masyarakat kita yang enggan mengenal mereka. Ya maklum saja. Negeri kita ‘kan memang buta sejarah. Sejarahnya saja baru mulai dibukukan oleh orang-orang kafir. Anggap saja seperti bayi yang baru bisa berjalan tertitah-titah. Harus ada yang menuntunnya.

Tapi tenang. Pembaca yang khawatir. Melalui media ini, saya ingin mengajak pembaca yang budiman mengenali ulama-ulama besar asal negeri kita yang berhasil mengukir sejarah dan membawa nama harum bangsanya. Tentu saja ini saya tulis bukan karena saya fanatisme bangsa. Akan tetapi saya bermaksud untuk mengikuti jejak mereka. Kalau memang dahulu ada orang-orang hebat muncul dari negeri ini hingga membuat seluruh makhluk bernama manusia memperhitungkan mereka, kenapa kita tidak bisa?

Oleh sebab itu, saya tidak hanya sekedar mengenali mereka saja. Akan tetapi saya juga mengajak pembaca sekalian agar tidak ketinggalan menggapai prestasi gemilang sebagaimana yang pernah mereka gapai. Caranya? Caranya dengan terus belajar, belajar, dan belajar.

Baiklah. Rasanya pembaca sudah tidak sabar lagi untuk mengenali leluhur mereka yang hebat itu. Tapi sebelumnya saya ingin menyampaikan permintaan maaf, karena pada kesempatan ini saya baru bisa mengenalkan ulama-ulama Nusantara yang memiliki spesialis di bidang hadits. Sedangkan untuk ulama-ulama di bidang lainnya, akan saya perkenalkan di lain kesempatan. In sya Allah.

Namun demikian, bukan berarti ulama-ulama pakar hadits tersebut tidak pandai ilmu lainnya. Mereka bahkan menguasai hampir seluruh cabang keilmuan. Hanya saja di bidang ini mereka lebih matang lagi.

Dalam catatan kakinya untuk kitab Kifayah Al-Mustafid Lima ‘Ala Lada At-Tarmasi min Al-Asanid hlm. 6, Syaikh Abul Faidh Muhammad Yasin bin Muhammad ‘Isla Al-Fadani Al-Makki mengatakan bahwa ada sekitar 130 ulama pakar hadits riwayah yang berasal dari Nusantara. Antara lain beliau menyebutkan:

Syaikh ‘Aqib bin Hasanuddin Al-Filimbani (w. 1182 H). beliau meriwayatkan dari Syaikh ‘Abdullah Al-Bashri, Syaikh Ahmad An-Nakhli, dan lainnya.
Syaikh ‘Abdush Shamad bin ‘Abdurrahman bin ‘Abdul Jalil Al-Filimbani (w. 1211 H). Beliu ini terkenal sebagai ulama pakar pemikiran Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi. Pasalnya beliau banyak menghabiskan waktunya menekuni karya-karya sang imam, terutama Ihya ‘Ulum Ad-Din. Bahkan diriwayatkan beliau pernah menulis kitab tentang keutamaan kitab tersebut yang lazim disebut Fadhail Al-Ihya’. Karya-karya peninggalan Syaikh ‘Abdush Shamad lainnya adalah Siyar As-Salikin Ila ‘Ibadah Rabb Al-‘Alamin, Hidayah As-Salikin Ila Suluk Maslak Al-Muttaqin, Fadhail Al-Jihad fi Sabilillah, dan banyak lagi lainnya.

Al-Fadani menyebutkan, bahwa Syaikh kita ini meriwayatkan antara lain dari Syaikh Yahya bin ‘Umar Maqbul Al-Ahdal Az-Zabidi, Sayyid ‘Umar bin Ahmad bin ‘Aqil As-Saqqaf Al-Makki.

Syaikh ‘Abdul Ghani bin Shubh Al-Bimawi Al-Makki. Beliau meriwayatkan dari Syaikh ‘Umar bin ‘Abdul Karim Al-‘Aththar Al-Makki, Syaikh Ahmad bin ‘Ubaid Al-‘Aththar Ad-Dimasyqi, Sayyid Muhammad Murtadha Az-Zabidi, penulis Ittihaf As-Sadah Al-Muttaqin Syarh Ihya’ ‘Ulum Ad-Din, Syaikh Sa’id bin ‘Ali As-Suwaidi Al-Baghdadi, Khairuddin bin Syihabuddin Al-Maidani Ad-Dimasyqi.
Syaikh Muhammad Mahfuzh bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Mannan bin Ahmad bin ‘Abdullah Al-Jawi At-Tarmasi Al-Makki. Beliau ini termasuk ulama yang paling mumpuni dalam banyak bidang. Bahkan tidak keterlaluan jika kita katakan bahwa beliau pakar di hampir seluruh disiplin keilmuan. Hal ini karena beliau buktikan dengan banyaknya kitab yang beliau wariskan yang antara lain meliputi tafsir, hadits, fiqih, ushul fiqih, sejarah, dan seterusnya. Karya fonumentalnya yang masih terus dipelajari di berbagai belahan dunia ialah Mauhibah Dzi Al-Fadhl ‘Ala Syarh Ibn Hajar Ba Fadhl sebesar 7 jilid besar dan Manhaj Dzawi An-Nazhar Syarh Manzhumah ‘Ilm Al-Atsar.

Dalam tsabt-nya yang bertajuk Kifayah Al-Mustafid, beliau antara lain menyebutkan beberapa gurunya seperti sang ayah Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul Mannan Al-Jawi At-Tarmasi Al-Makki, Syaikh Muhammad Shalih bin ‘Umar Al-Jawi As-Samarani atau yang lebih akrab disapa Kyai Shaleh Darat, Syaikh Syaikh Muhammad Al-Minsyawi (w. 1314 H) yang bergelar Al-Muqri’ –artinya sang pengajar Al-Quran-, Syaikh ‘Umar bin Barakat Asy-Syami (w. 1313), Syaikh Mushthafa bin Muhammad bin Sulaiman Al-‘Afifi (w. 1308), dan lainnya.

Syaikh ‘Abdul Hamid bin Muhammad ‘Ali bin ‘Abdul Qadir Kudus Al-Khathib Al-Makki.

Ulama kebesaran yang menguasai banyak disiplin asal Kudus Jawa Tengah ini termasuk ulama paling produktif dalam tulis menulis. Di antara karya peninggalannya adalah Al-Anwar As-Saniyyah yang tak lain merupakan syarah untuk kitab karya Syaikh Abu Bakar bin Muhammad Syatha Al-Makki bertajuk Ad-Durar As-Saniyyah Fima Yalzam Al-Mukallaf min Al-‘Ulum Asy-Syar’iyyah. Satu lagi di antara kitab-kitab peninggalan beliau yang cukup menakjubkan ialah kitab Lathaif Al-Isyarat, yaitu sebuah syarah untuk nazham Al-Waraqat karya Syarafuddin Al-‘Amrithi berjudul Tashil Ath-Thuruqat.

Beliau meriwayatkan, antara lain, dari Syaikh Muhammad ‘Ali bin ‘Abdul Qadir Kudus, ayahnya sendiri, Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan, Syaikh ‘Umar bin Muhammad Syatha, Syaikh ‘Utsman bin Muhammad Syatha, Syaikh Abu Bakri bin Muhammad Syatha, Syaikh Husain bin Muhammad Al-Hibsyi, Syaikh Muhammad ‘Abdul Baqi Al-Ahdal, Syaikh ‘Abdul Hamid bin Husain Ad-Daghistani, dan lainnya. Oleh karena beliau seorang Musnid yang dicari para pelajar, sehingga beliau pun menyempatkan diri menulis tsabt yang kemudian diberinya tajuk Al-Mafakhir As-Saniyyah fi Al-Asanid Al-‘Aliyyah Al-Qudsiyyah.

Syaikh Muhammad Mukhtar bin ‘Atharid Al-Bughuri yang terkenal dengan sapaan Al-Batawi Al-Makki. Di antara karya ilmiahnya adalah Ittihaf As-Sadah Al-Muhadditsin bi Musalsalat Al-Ahadits Al-Arba’in, Ash-Shawa’iq Al-Muhriqah, Ushul Ad-Din, dan lainnya. Sedangkan gurunya antara lain Syaikh Abu Bakar bin Muhammad Syatha, Syaikh Abu Bakar bin Muhammad Syatha, Syaikh Muhammad Zainuddin bin Badawi As-Sumbawi, Syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Minsyawi, dan banyak lagi seperti yang beliau sebutkan sendiri dalam tsabtnya yang berjudul Al-Manhal Al-Warid fi Asanid Ibn ‘Atharid.
Syaikh Abul Faidh, ‘Alamuddin, Muhammad Yasin bin Muhammad ‘Isa Al-Fadani Al-Makki. Beliau memiliki ratusan guru yang beliau tuangkan dalam Bughyah Al-Murid min ‘Ilm Al-Asanid sebesar 4 jilid besar. Atau biasa juga dijumpai dalam Bulugh Al-Amani Fi At-Ta’rif Bi Musnid Al-‘Ashr Muhammad Yasin bin Muhammad ‘Isla Al-Fadani karya muridnya yang bernama Syaikh Muhammad Mukhtaruddin bin Zainal ‘Abidin Al-Filimbani Al-Makki.
Sayyid Salim bin Jindan.

Selain ulama-ulama di atas, bolehlah kita sebutkan beberapa ulama di bawah ini yang beberapa di antaranya masih hidup:

Syaikh Baqir bin Muhammad Nur Al-Jugjawi Al-Mariki Al-Makki. Beliau merupakan pemilik tsabt berjudul An-Nasyir fi Asanid Baqir. Salah satu gurunya adalah ulama Salafi terkenal bernama Syaikh Ahmad bin Ibrahim bin ‘Isa An-Najdi. Sedangkan guru-guru lainnya ialah seperti Syaikh Ahmad bin ‘Abdul Lathif Al-Khathib Al-Minangkabawi, Syaikh Muhammad Mahfuzh bin ‘Abdullah At-Tarmasi, Syaikh ‘Abdul Karim bin Hamzah Ad-Daghistani, Syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Minsyawi, Syaikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah Al-Makki, Syaikh ‘Ali bin Zhahir Al-Witri, Syaikh Muhammad Amin bin Ridhwan Al-Madani, Syaikh Syu’aib Ar-Ribathi, dan banyak lagi.

Masih banyak lagi contoh ulama-ulama kepulauan Nusantara yang berhasil mengukir dan dikenang sejarah karena keintelektualan dan sumbangan mereka di dunia Islam. Kesimpulannya, orang-orang kepulauan Nusantara juga berhak menjadi ulama besar, bukan hanya orang ‘Arab saja. Akan tetapi hal tersebut tidak akan pernah tercapai dan terealisasi kecuali dengan terus belajar pantang menyerah sesulit apapun materi yang dipelajari. Tentu saja dengan tak henti-hentinya berdoa dan memohon pertolongan kepada Allah.

Jadi, jangan ragu untuk terus berjuang mendalami lautan ilmu. Karena itu tidak hanya untuk orang ‘Arab, namun juga untuk orang-orang Indonesia pula!!!

Wallahua’lam. []

Pondok Gede, 20 September 2014 H

Source: Ust. Firman Hidayat Marwadi via mauhub.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s