TEPATKAH UNGKAPAN INI: JIKA ADA YANG SHAHIH MENGAPA PILIH YANG DHOIF??

Posted: Agustus 23, 2016 in SUNNAH - ADAB & NASIHAT
Tag:

Hadits

Pernah membaca atau mendengar “Jika ada yang shahih, mengapa pilih yang dhaif?” Ada benarnya dan ada sisi tidak tepatnya. Boleh jadi kebetulan benar, boleh jadi juga pengucapnya belum memahami dengan baik apa yang diucapkannya.

1. Ada dua riwayat hadis yang berbicara tentang kasus A atau objek yang sama. Salah satunya shahih, dan yang satu lagi dhaif, namun pandangan masing-masing riwayat terhadap kasus ini itu saling bertolak belakang. Manakah yang diambil? Tentunya yang shahih. Bahkan riwayat dhaif yang bertolak belakang dengan riwayat shahih dapat masuk kategori munkar.

Pada kasus seperti ini, statement “jika ada yang shahih, mengapa pilih yang dhaif”, memang tepat. Lagi pula rasanya tidak ada ulama yang memakai yang dhaif lalu meninggalkan yang shahih.

2. Ada sebuah kasus atau objek amalan motivasi yang tidak ada sama sekali riwayat shahihnya, yang ada hanya riwayat dhaif. Meski memang tidak ada dalil-dalil yang mendukungnya secara eksplisit, yakni amalan itu hanya didukung secara implisit oleh dalil-dalil umum.

Dalam kasus seperti ini, statement “jika ada yang shahih, mengapa pilih yang dhaif”, tidak tepat dan tidak ada faedahnya sama sekali karena memang tidak ada dalil shahihnya. Kebanyakan riwayat-riwayat dhaif yang dipakai oleh para ulama dalam masalah targhib wa tarhib adalah dalam kondisi seperti ini. Bahkan tanpa ada riwayat khusus pun, amalan yang dinilai baik secara akal sehat pun layak diamalkan, dan tentunya tetap berada di bawah pengawasan dalil-dalil yang bersifat umum.

Jomblo yang berdoa; “Ya Allah, jodohkanlah daku dengan wanita persia”, tidak ada dalil shahihnya, dhaifpun tidak, tapi boleh-boleh saja. Atau yang ingin seperti Nabi saat mendoakan antara Umar dan Abu Jahl yang diberi petunjuk. Misalnya; “Ya Allah, berilah ahok petunjuk agar kembali muslim”, tidak ada dalil shahihnya, dhaif pun tidak, tapi sah-sah saja. Urusan Allah yang akan mengabulkan atau tidak.

Kira2 begitu mengenai topik-topik dalam memahami hadis. Jangan sampai ikut-ikutan menghapal mahfuzhat “jika ada yang shahih mengapa pilih yang dhaif”, jika belum mengerti betul duduk persoalannya.

Source: Multaqa Hadis & Tashawwuf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s