FITNAH & KEKERASAN KEPADA SYAFI’IYYAH, AKANKAH TERULANG??

Posted: Agustus 26, 2016 in SUNNAH - ADAB & NASIHAT, WAHABI - SALAFY AHLI TAKFIR & TABDI, WAHABI - SALAFY HALALKAN SEGALA CARA
Tag:

Al-Kalamu fit Tarikh

Fitnah Hanabilah Masa Lalu, what?

Hari ini saya hanya ingin bercerita. Ini sejarah, apakah akan berulang? waAllahu A’lam. Silahkan dinikmati dulu dengan seksama. Ini hanya cerita.

Fitnah Hanabilah tahun 447 H

Ibnu Katsir (w. 774 H) bercerita tentang keadaan Baghdad pada tahun 447 H[1].

وفيها وقعت الفتنة بين الأشاعرة والحنابلة، فقوى جانب الحنابلة قوة عظيمة، بحيث إنه كان ليس لأحد من الأشاعرة أن يشهد الجمعة ولا الجماعات.

Disana terjadi fitnah antara Asya’irah dan Hanabilah, pihak Hanabilah memiliki kekuatan yang sangat besar. Sampai-sampai tak ada satupun Asya’irah yang boleh menghadiri Shalat Jum’at dan jama’ah.

Ibnu al-Atsir (w. 630 H), seorang Ulama’ sejarawan memperjelas cerita yang terjadi di Baghdad tahun 447 H[2].

في هذه السنة وقعت الفتنة بين الفقهاء الشافعية والحنابلة ببغداذ، ومقدم الحنابلة أبو يعلى بن الفراء، وابن التميمي، وتبعهم من العامة الجم الغفير، وأنكروا الجهر ببسم الله الرحمن الرحيم، ومنعوا من الترجيع في الأذان، والقنوت في الفجر، ووصلوا إلى ديوان الخليفة، ولم ينفصل حال، وأتى الحنابلة إلى مسجد بباب الشعير، فنهوا إمامه عن الجهر بالبسملة، فأخرج مصحفا وقال: أزيلوها من المصحف حتى لا أتلوها.

Di tahun ini (477 H) terjadi fitnah antara Fuqaha’ as-Syafi’iyyah dan Hanabilah di Baghdad. Pemimpin Hanabilah saat itu adalah Abu Ya’la al-Farra’, Ibn at-Tamimi dan diikuti oleh banyak orang awam. Mereka mengingkari mengeraskan membaca Bismillah [pent: pada awal surat], mencegah tarji’ (memelankan suara ketika membaca syahadatain, lalu mengulanginya dengan keras[3]) kala adzan, mencegah do’a qunut. Sampai akhirnya hal ini sampai ke khalifah, tetapi belum ada keputusan pasti.

Akhirnya Hanabilah mendatangi masjid Bab as-Sya’ir, mereka mencegah Imamnya mengeraskan bacaaan basmalah. Lalu imam itu mengeluarkan mushaf, dan berkata; “Kalo githu, hilangkan saja tulisan basmalah dari Al-Qur’an, agar aku tidak membacanya.

Jika Ibnu Katsir (w. 774 H) menuliskan bahwa fitnah terjadi antara Hanabilah dengan Asya’irah, maka Ibnu al-Atsir (w. 630 H) menuliskan fitnah terjadi antara Hanabilah dan Syafi’iyyah. Kedua Ulama’ sejarawan disini sedang menceritakan kejadian di tahun yang sama dan tempat yang sama. Sebenarnya konfliknya sama, hanya beda sudut pandang. Antara Hanabilah dan Syafi’iyyah Asy’ariyyah.

Fitnah Hanabilah Tahun 323 H

Ibnu al-Atsir (w. 630 H) bercerita juga tentang keadaan Baghdad tahun 323 H[4].

وفيها عظم أمر الحنابلة، وقويت شوكتهم، وصاروا يكسبون من دور القواد والعامة، وإن وجدوا نبيذا أراقوه، وإن وجدوا مغنية ضربوها وكسروا آلة الغناء، واعترضوا في البيع والشراء، ومشى الرجال مع النساء والصبيان، فإذا رأوا ذلك سألوه عن الذي معه من هو، فأخبرهم، وإلا ضربوه وحملوه إلى صاحب الشرطة، وشهدوا عليه بالفاحشة، فأرهجوا بغداذ.

Disana [Baghdad] Hanabilah semakin kuat dan mempunyai kekuasaan. Mereka memainkan peran militer dan sipil. Jika mereka menemukan Nabidz [minuman yang dibuat dari perasan anggur atau kurma[5]] maka langsung dialirkan/dibuang, mereka memukul para penyanyi dan merusak alat musiknya. Jika ada seorang laki-laki dan wanita beserta anak-anak sedang berjalan bersama, maka lantas ditanya; siapakah itu?. Jika bisa menjawab, maka dilepaskan. Jika tidak, maka akan dipukul dan diserahkan ke polisi dan menuduhnya telah berbuat fakhisyah/ kejelakan.

Ceritanya, Hanabilah saat itu sedang memerankan polisi Syariah, yaitu ketika mempunyai cukup kekuatan di Baghdad.

Lebih lanjut, Ibnu al-Atsir menuliskan:

وزاد شرهم وفتنتهم، واستظهروا بالعميان الذين كانوا يأوون المساجد، وكانوا إذا مر بهم شافعي المذهب أغروا به العميان، فيضربونه بعصيهم، حتى يكاد يموت.

Fitnah itu semakin bertambah kejelekannya. Orang-orang awam yang berada di Masjid, ketika ada seseorang yang bermadzhab Syafi’i lewat depan mereka, maka akan dipukuli. Bahkan sampai hampir meninggal.

Sampai akhirnya Pemerintah turut campur, Khalifah ar-Radhi Billah Abu al-Abbas Ahmad bin al-Muqtadir Billah (w. 329 H) mengeluarkan putusan:

فخرج توقيع الراضي بما يقرأ على الحنابلة ينكر عليهم فعلهم، ويوبخهم باعتقاد التشبيه وغيره، فمنه تارة أنكم تزعمون أن صورة وجوهكم القبيحة السمجة على مثال رب العالمين، وهيئتكم الرذلة على هيئته، وتذكرون الكف والأصابع والرجلين والنعلين المذهبين، والشعر القطط، والصعود إلى السماء، والنزول إلى الدنيا، تبارك الله عما يقول الظالمون والجاحدون علوا كبيرا، ثم طعنكم على خيار الأئمة، ونسبتكم شيعة آل محمد – صلى الله عليه وسلم – إلى الكفر والضلال، ثم استدعاؤكم المسلمين إلى الدين بالبدع الظاهرة والمذاهب الفاجرة التي لا يشهد بها القرآن، وإنكاركم زيارة قبور الأئمة، وتشنيعكم على زوارها بالابتداع…

Point-point putusan ar-Radhi Billah bisa disimpulkan:

§ Ar-Radhi Billah Mengingkari perilaku Hanabilah saat itu

§ Mengingkari Aqidah Tasybih mereka, mereka menyangka bahwa wajah mereka yang jelak itu serupa dengan wajah Allah [subhanahu wa ta’ala amma yashifun], menyebutkan telapak tangan, dua kaki, naik ke langit, turun ke dunia.

§ Mereka mencela orang-orang pilihan umat ini, menisbatkan pengikut keluarga Nabi Muhammad [red: Habib], kepada kekufuran dan kesesatan. Menyangka bahwa umat Islam telah masuk kepada kebid’ahan dan madzhab yang tercela.

§ Mereka mengingkari ziarah kepada Qubur orang para Imam dan mengatakan bahwa hal itu adalah bid’ah.

Siapakah ar-Radhi Billah?

Al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H) menuliskan sejarah Khalifah ar-Radhi Billah dalam Tarikhnya[6]:

قلت: كان للراضي فضائل كثيرة، وختم الخلفاء في أمور عدة، فمنها أنه آخر خليفة له شعر مدون، وآخر خليفة انفرد بتدبير الجيوش والأموال، وآخر خليفة خطب على منبر يوم الجمعة، وآخر خليفة جالس الجلساء ووصل إليه الندماء، وآخر خليفة كانت نفقته وجوائزه وعطاياه وجراياته وخزائنه ومطابخه ومجالسه وخدمه وحجابة وأموره، كل ذلك يجرى على ترتيب المتقدمين من الخلفاء.

Saya [red: al-Khatib al-Baghdadi] berkata: ar-Radhi mempunyai banyak keutamaan, termasuk khalifah terakhir dalam beberapa hal. Dia adalah khalifah terakhir yang mempunyai diwan/ kumpulan syi’ir, khalifah terakhir yang secara pribadi mengatur tentara dan harta Negara, khalifah terakhir yang berkhutbah pada hari Jum’at, khalifah terakhir yang blusukan ikut nimbrung pada rakyatnya, ikut mendengar keluh kesah mereka…

Lalu, Siapakah Ibnu Al-Atsir?

Ad-Dzahabi (w. 748 H) menuliskan biografi Ibnu al-Atsir Ali bin Muhammad bin Muhammad (w. 630 H) dalam Siyarnya[7]:

الشيخ، الإمام، العلامة، المحدث، الأديب، النسابة، عز الدين، أبو الحسن علي بن محمد بن محمد بن عبد الكريم بن عبد الواحد الجزري، الشيباني، ابن الشيخ الأثير أبي الكرم، مصنف التاريخ الكبير الملقب بـ(الكامل) ، ومصنف كتاب (معرفة الصحابة).. وكان إماما، علامة، أخباريا، أديبا، متفننا، رئيسا، محتشما، كان منزله مأوى طلبة العلم، ولقد أقبل في آخر عمره على الحديث إقبالا تاما، وسمع العالي والنازل.

(Dia) seorang Syeikh, al-Imam, al-Allamah, al-Muhaddits, al-Adib, Ahli Nasab, Izzuddin Abu al-Hasan Ali binMuhammad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Abdul Wahid al-Jazari, pengarang kitab at-Tarikh al-Kabir atau sering dikenal dengan nama al-Kamil, kitab Ma’rifat as-Shahabah. Dia seorang Imam al-Allamah, sejarawan, sastrawan, cendikiawan, rumahnya menjadi rujukan pencari ilmu, di akhir hayatnya beliau mempelajari Hadits dengan sangat mendalam.

Imam ad-Dzhahabi tentu tidak main-main menggelari Ibnu al-Atsir dengan bermacam-macam gelar, sampai al-Allamah. Cukup dua kitab Ibnu al-Atsir; Usud al-Ghabah fi Ma’rifat as-Shahabah dan al-Kamil fi at-Tarikh menjelaskan keluasan ilmu Ibn al-Atsir.

Meski ada saja orang yang menuduh Ibnu Al-Atsir cenderung Syiah. Ah, kok mudah sekali menuduh syiah. With Us or against Us, jika tidak tidak mendukung kami maka mendukung Syiah. Paling tidak, itu yang saya baca dari beberapa tulisan tentang Ibnu al-Atsir di dunia maya.

Belajar Dari Sejarah

“Tilka ummatun qad khalat”, Itu adalah cerita kehidupan mereka. Sama sekali saya tidak bermaksud menjelekkan Ulama’ Hanabilah. Disini saya bercerita tentang kejadian masa lalu, yang dari situ kita akan belajar untuk masa depan.

Itu terjadi di Negeri Baghdad pada ratusan tahun yang lalu. Entah apakah sekarang juga terjadi di Negeri seberang sana yang [katanya] menganut Madzhab Hanbali. Saya tidak tahu, karena belum pernah kesana. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengijinkan saya pergi kesana, sehingga saya bisa melanjutkan cerita ini.

Entah juga, cerita itu akan terjadi di Negeriku ini atau tidak! Semoga tidak.

Oleh: Luthfi Abdu Robbihi

Footnote:

[1] Abu al-Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi (w. 774 H), al-Bidayah wa an-Nihayah, (Daar al-Fikr, 1407 H), juz 12, hal. 66

[2] Abu al-Hasan Ali bin Abi al-Karam Muhammad bin Muhammad bin Abdul Karim as-Syaibani Izzuddin Ibn al-Atsir (w. 630 H), al-Kamil fi at-Tarikh, (Baerut: Daar al-Kitab al-Arabi, 1417 H), juz 8, hal. 129

[3] Wizarat al-Auqaf al-Kuwait, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, juz 11, hal. 176

[4] Abu al-Hasan Ali bin Abi al-Karam Muhammad bin Muhammad bin Abdul Karim as-Syaibani Izzuddin Ibn al-Atsir (w. 630 H), al-Kamil fi at-Tarikh, juz 8, hal. 129

[5] Majma’ al-Lughat al-Arabiyyah, al-Mu’jam al-Wasith, juz 2, hal. 897

[6] Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit bin Ahmad bin Mahdi al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H), Tarikh Baghdad, (Baerut: Daar al-Gharb al-Islami, 1422 H), juz 2, hal. 520

[7] Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman ad-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’ (w. 748 H), (Muassasah ar-Risalah, 1405 H), juz 22, hal. 354

Source: Ust. Hanif Luthfi, Lc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s