10 HAFIDZ HADITS YANG JUGA SUFI

Posted: September 27, 2016 in TASAWUF, TOKOH
Tag:, , ,
pujian-imam-izudin-abdi-salam-kepada-sufi

Ilustration Pic By KH. Munir M Lombok

AL HAFIDZ dengan berbagai tingkatannya, merupakan gelar tertinggi bagi seseorang yang menguasai Sunnah serta disiplin ilmunya. Huffadz hadist, terkadang hanya menguasai disiplin ilmu hadits, namun terkadang juga menguasai disiplin ilmu lainnya selain ilmu hadits, semisal fiqih, tarikh, tafsir, lughah atau tashawuf, dan yang terakhir inilah yang menjadi tema dalam tulisan ini.

Merujuk Tadzkirah Al Huffadz, yang merupakan karya besar Imam Adz Dzahabi yang berisi mengenai para huffadz hadits yang memilki otoritas dalam berbicara mengenai status periwayat hadits, kita memperoleh informasi bahwa di jajaran para huffadz Hadits terdapat para tokoh sufi. Dalam hal ini, terkadang Adz Dzahabi sendiri menyampaikan bahwa sang huffaz adalah tokoh sufi, juga terkadang juga ia mengutip dari sumber lain.

Dari paparan Imam Adz Dzahabi, kita ambil 10 dari huffadz yang merupakn tokoh sufi di masanya. Dan tentu, para huffadz hadits yang juga sufi tidak terbatas dalam jumlah tersebut. 10 dari hafidz hadits yang juga penganut tasawuf antara lain:

1. Al Hafidz Hibatullah bin Abdil Warits bin Ali

Imam Ad Dzhahabi menyatakan,”Al Hafidz Al Mufid Al Jawwal Abu Qasim Asy Syirazi,menyimak di Khurasan, Iraq, Yaman, Mesir, Syam, Jazirah, Persia, Jabal…”

As Sam’ani menyatakan,”Ia tsiqah, shalih, baik, banyak melakukan ibadah, sibuk terhadap diri sendiri.”

Abdul Ghafir menyatakan dalam Tarikhnya,”Ia adalah syeikh yang menjaga kehormatan, shufi yang memiliki keutamaan, telah mengelilingi negeri-negeri dan telah menyimak dari banyak orang.” (lihat, Tadzkirah Al Huffadz, 4/1215-1216)

2. Al Hafidz Muhammad bin Thahir bin Ali

Imam Adz Dzhabi menyatakan,”Al Hafidz, Al Alim, Al Muktsir, Al Jawwal Abu Al Fadh Al Maqdisi…”

Abu Mas’ud Abdurrahim Al Haji menyatakan,”Aku mendengan Abu Thahir berkata,’Aku kencing darah dua kali karena menuntut hadits, sekali di Baghdad, sekali di Makkah. Aku berjalan dengan kaki telanjang di bawah terik hingga aku menderita hal itu. Dan aku tidak pernah naik kendaraan sama sekali dalam menuntut hadits. Aku membawa buku-buku di atas punggungku. Aku tidak pernah meminta saat menuntut hadits dan aku hidup dari apa-apa yang datang kepadaku.’”

Ad Daqqaq menyatakan dalam Risalahnya,”Ia Shufi Malamati, tinggal di Ray lalu Hamadzan, ia memilki kitab Shafwah At Tashawwuf.”

As Silafi berkata,”Ia orang yang memiliki keutamaan, memiliki pengetahuan namun (berucap dengan) lahnah. Telah berkata kepada orang yang bisa dipercaya yang pada waktu itu di kediaman Syeikh Al Islam di Harat. Saat itu syeikh (Abu Thahir) menggerak-gerakkan kepalanya seraya berkata,’la haula wala quwwata illa billah.’” (lihat, Tadzkirah Al Huffadz, 4/1242-1244)

3. Al Hafidz Asy Syirazi

Adz Dzahabi menyatakan,” Al Imam, Al Hafidz, Ar Rahhal, Abu Ya’qub bin Yusuf bin Ahmad bin Ibrahim Ash Shufi, mufid Baghdad, syeikh sufi di Rubath Al Arjawani dan penulis Al Arbain Al Baladiyah…” (lihat, Tadzkirah Al Huffadz, 4/1356)

4. Al Hafidz Ibnu Al A’rabi

Adz Dzahabi menyatakan,”Al Imam Al Hafidz Az Zahid Syeikh Al Haram Abu Said Ahmad bin Muhammad bin Ziyad bin Bisyr bin Dirham Al Bishri Ash Shufi, penulis sejumlah karya…”

As Sulami mendengar dari Muhammad bin Al Hasan Al Khasyab yang mendengar dari Ibnu Al A’rabi,”Ma’rifah adalah pengakuan akan kebodohan, tashawuf adalah meninggalkan perkara yang berlebihan, zuhud adalah mengambil dari apa-apa yang harus diambil.”

Ibnu Al A’rabi juga merupakan sahabat Junaid, tokoh sufi masyhur di Baghdad. (lihat, Tadzkirah Al Huffadz, 3/852)

5. Al Hafidz Muhammad bin Dawud bin Sulaiman

Adz Dzahabi menyatakan,”Al Hafidz Az Zahid Al Hujjah Syeikh Shufiyah Abu Bakr An Naisaburi…ia dihitung termasuk dari para wali.”

Ad Daraquthni menilai bahwa Muhammad bin Dawud bin Sulaiman adalah seorang yang tsiqah dan memiliki keutamaan. Daraquthni mengutip darinya,”Aku makan ketika masa paceklik satu roti dalam 40 hari. Aku jika lapar mambaca Yasin dengan niat agar memperoleh kekenyangan.” (lihat, Tadzkirah Al Huffadz, 3/902)

6. Al Hafidz Athiyah bin Said

Imam Ad Dzahabi menyatakan,”Al Hafidz, Syeikh Al Islam Abu Muhammad Al Andalusi Al Maghribi Al Qafashi Ash Shufi…”

Al Humaidi menyatakan,”Ia bermukim di Naisabur sesaat dan ia seorang sufi yang mengambil jalan tawakkal dan mengutamakan orang lain di saat ia membutuhkan.” (lihat, Tadzkirah Al Huffadz (3/1088)

7. Al Hafidz Abu Dzar Al Harawi

Adz Dzahabi menyatakan,”Al Imam Al Allamah Al Hafidz Abd bin Ahmad bin Muhammad bin Abdillah bin Ghafir Al Anshari Al Maliki…”

Abdul Ghafir dalam Tarikhnya,”Abu Dzar adalah seorang zuhud, wara’, alim, syeikh yang tidak pernah menyimpan sesuatu apa pun dan menjadi salah satu dari para syeikh Al Haram, tertuju kepadanya ajaran tashawwuf…” (lihat, Tadzkirah Al Huffadz, 3/1106)

8. Al Hafidz Az Zahrawi

Adz Dzahabi berkata,”Al Hafidz Al Imam Al Muhaddits Al Andalus Abu Hafs Umar bin Abdillah Ad Duhli Al Qurthubi Az Zahrawi…”

Ibnu Mahdi dan Abu Al Al Ghassani serta lainnya mengatakan,”Ia tsiqah mutqin dan pengamal tashawwuf.” (Lihat, Tadzkirah Al Huffadz, 3/1127)

9. Al Hafidz Al Muadzin

Adz Dzahabi menyatakan,”Abu Shalih Ahmad bin Abdil Malik bin Ali bin Ahmad An Naisaburi Al Hafidz Al Muhaddits di masanya….”

Abdul Ghafir menyatakan,”Abu Shalih Al Muadzin Al Amin Al Mutqin Al Muhaddits Ash Shufi yang berjalan sendiri di tariqahnya…kami tidak mengetahui hafalan sebadning dengannya dalam Al Qur`an juga dalam mengumpulkan hadits-hadits…” (lihat, Tadzkirah Al Huffadz, 3/1162,1163)

10. Al Hafidz Al Kattani

Adz Dzahabi menyatakan,”Al Imam al muhaddits al mutqin mufid Damaskus dan muhadditsnya Abu Muhammad Abdul Aziz bin Ahmad bin Muhammad bin Ali At Taimi, Ad Dimasyqi Ash Shufi…”

Adz Dzahabi menyatakan,”Memungkinkan untuk disifati sebagai hafidz di masanya. Dan kalau seandainya ada di zaman kita tentulah ia dihitung termasuk huffadz…” (lihat, Tadzkirah Al Huffadz, 3/1170).

Demikianlah, contoh dari mereka yang berkecimpung dalam dunia tashawuf juga menguasai hadits dalam penguasaan tertinggi..

Source: hidayatullah.com

***

KH. Munir Mahyudin Al Makki mengutip:

“إن هؤلاء القوم قعدوا على الشريعة وقعد غيرهم على الرسوم”.

“Sungguh mereka* adalah kelompok (manusia pilihan) yang benar-benar melimpahkan segenap perhatian untuk mengamalkan syari’at (sepenuh jiwa & raga), sementara selain mereka cenderung hanya menitik beratkan perhatian sebatas raga”.

Qultu: Mereka* (kaum shufi)

By: Sayidi Al ‘Izz ibnu ‘Abdis Salam رضي الله عنه

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s