ANJURAN IMAM SYAFI’I & IMAM NAWAWI UNTUK ZIARAH & TABARUK DI MAKAM ORANG SHOLEH

Posted: September 29, 2016 in AMAL GENERASI SALAF, STOP MENUDUH BID'AH !!, SUNNAH - ADAB & NASIHAT
Tag:, ,

ziarah kubur Saudi

Imam Syafi’i berziarah & tabaruk di makam Imam Abu Hanifah, dalam kitab  Tarikh Baghdad, karya al Imam al Hafizh Abu Bakr Ahmad bin Ali; yang lebih dikenal dengan al Khathib al Baghdadi (w 463 H) :

Aku mendengar Imam asy Syafi’i berkata: Sesungguhnya saya benar-benar melakukan tabarruk (mencari berkah) kepada Imam Abu Hanifah, aku mendatangi makamnya setiap hari untuk ziarah, jika ada suatu masalah yang menimpaku maka aku shalat dua raka’at dan aku mendatangi makam Imam Abu Hanifah, aku meminta kepada Allah agar terselesaikan urusanku di samping makam beliau, hingga tidak jauh setelah itu maka keinginanku telah dikabulkan”.

IMAM AN-NAWAWI MENGANJURKAN ZIARAH DAN TABARRUK KEMAKAM PARA SHALIHIN 

Dalam kitab Al-Adzkar, karya: Imam Nawawi Halaman: 168, beliau berkata:

وَيُسْتَحَبُّ الإِكْثَارُ مِنَ الزِّيَارَةِ، وَأَنْ يُكْثِرَ الوُقُوْفَ عِنْدَ قُبُوْرِ أَهْلِ الْخَيْرِ وَالْفَضْلِ

Disunnahkan untuk memperbanyak ziarah kubur dan disunnahkan pula untuk berlama-lama disisi makam ahlul khair wal fadhl (Para Shalihin dan Ulama Amilin).”

■ Perkataan Beliau tsb juga di Nukil Oleh:
◎ Imam Al-Khathib Asy-Syarbini
◎ Kitab: “Mughnil Muhtaj Ila Ma’rifati Ma’ani Alfazhil Minhaj,
◎ Juz: 1.
◎ Halaman: 543.

“Berkata Mushannif (pengarang Al-Minhaj, Imam An-Nawawi): “Di Sunnahkan untuk Memperbanyak Ziarah Kubur dan  di Sunnahkan pula untuk berlama-lama di sisi Makam para Ahlul Khair wal Fadhl (para Shalihin dan Ulama Amilin).”

Faedah dan Anjuran dari Beliau tentang Tawassul, Tasyaffu’, dan Istighotsah di Makam Nabi Saw,  Ketika seseorang ber-Ziarah ke Makam Baginda Nabi Saw, Beliau Menerangkan Tata Cara Ziarah Kubur Nabi Saw dan Beliau menganjurkan untuk Membaca Bacaan Istighotsah dalam  Kisah Al-‘Utbi, salah seorang Guru Imam Syafi’i:

– Kitab: Al-Idlah Fi Manasikil Hajj Wal ‘Umrah.
– Karya: Imam An-Nawawi.
– Halaman 454 – 455

“Lalu Hendaknya Peziarah Kembali ke tempatnya Semula,  Yaitu menghadap Wajah Rasulullah Saw,  Bertawassul dengan diri Nabi Saw untuk kepentingan dirinya, Dan meminta Syafaat melalui Nabi Saw kepada Allah Swt.

Termasuk Bacaan yang paling Baik adalah apa yang diriwayatkan oleh Ash-Hab Kami (para ulama Syafi’iyyah) dari  Al-‘Utbi, dan mereka semua Merekomendasikan bacaan ini, yaitu:
Al-‘Utbi berkata:

“Aku Duduk di samping Makam Nabi Saw, Lalu Datanglah seorang Arab Badui dan berkata:

(ini permulaan Bacaannya yang dimaksud Imam An-Nawawi): “Assalamu ‘Alaika yaa Rasulallah…!!

Aku Mendengar Allah berfirman:

“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rosul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”
(an-Nisaa’: 64).

Dan Aku datang Padamu sebagai orang yang meminta ampun atas dosaku kepada Tuhanku dan meminta Syafa’at Melaluimu kepada Tuhanku”.

Lalu Arab Badui tersebut Bersyair:

“Wahai sebaik-baik Manusia, yang tulang-tulangnya dikuburkan dalam Tanah ini, Maka dengannya Harumlah Tanah dan Bukit.

Jiwaku sebagai penebus bagi Kubur yang engkau Tempati,  Yang di dalamnya terdapat Kesucian, Kemurahan, dan Kemuliaan.

Engkau adalah Pemberi Syafa’at yang diharapkan Syafa’atnya, Untuk menunjukkan jalan ketika Kaki Tak Bisa Melangkah.

Dan kedua Sahabatmu (Abu Bakar dan ‘Umar) yang Tak akan Pernah Aku Lupakan untuk selamanya, Salam dari ku untuk Kalian yang tak bisa Terlukis dengan Pena.”

Al-‘Utbi lalu berkata:

“Laki-laki tersebut Pergi dan tiba-tiba Mataku sangat Mengantuk dan Tertidur.
Aku melihat Rasul Saw dalam Mimpi,  Beliau Saw berkata: “Hai ‘Utbi..!!, Kejarlah laki-laki itu dan kabarkan padanya bahwa Allah telah Mengampuninya.”

Imam An-Nawawi juga Menuliskan Kisah ini dalam  Kitabnya yang lain, yaitu dalam Kitab:

~ “Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, juz 8 halaman 217,
~ Al-Adzkar, Halaman 93.

☆ Catatan Penting:

Ada sebuah percetakan Kitab di Arab Saudi yang Memalsukan Kitab Al-Adzkar,
Yaitu dengan Membuang Kisah Al-‘Utbi di atas karena Mereka Menganggap bahwa itu adalah Kesyirikan,  Yaitu cetakan: *Darul Huda, Riyadl, tahun 1409 H..

Source: Habib Hasan Barom & pondokhabib.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s