INILAH PERWIRA PETA & TNI DARI KALANGAN SANTRI

Posted: Oktober 6, 2016 in KONTRIBUSI ULAMA ASWAJA, TOKOH, ULAMA ASWAJA PEJUANG NKRI
Tag:

pejuang-kemerdekaan-01

Para kiai dan santri terlibat di lapangan dalam membela tanah air yang akan diserang kembali oleh Belanda para perang kemerdekaan. Setelah perang usai, sebagian besar kelompok santri kembali ke pesantren untuk mengajar agama, tetapi ada beberapa yang akhirnya tetap aktif dalam dunia militer.

Berikut nama-nama perwira TNI yang merupakan hasil didikan Hizbullah, salah satu kelompok pasukan perlawanan yang berasal dari kelompok santri seperti disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PBNU H Slamet Effendy Yusuf.

1. Mayor KH. Mustofa Kamil-Banten
2. Mayor KH. Mawardi-Surakarta
3. Mayor KH. Zarkasi- Ponorogo
4. Mayor KH. Mursyid-Pacitan
5. Mayor KH. Sahid-Kediri
6. Mayor KH. Abdul Halim-Majalengka
7. Mayor KH. Thohir Dasuki-Surakarta
8. Mayor KH. Raji’un-Jakarta
9. Mayor KH. Munasir Ali-Mojokerto
10. Mayor KH. Wahib Wahab-Jombang
11. Mayor KH. Hasyim Latif-Surabaya
12. Mayor KH. Zainuddin-Besuki
13. Mayor KH. Zein Thovib-Kediri

Selain yang berasal dari Hizbullah, terdapat beberapa perwira TNI berlatar belakang santri ex-PETA. Berikut nama-namanya.

1. Brigjen KH. Sulam Syamsun
2. Brigjen KH. Zein Toyib
3. Brigjen KH. M. Rowi
4. Brigjen KH Abdul Manan Wijaya
5. Brigjen KH Iskandar Sulaiman
6. Brigjen KH. Abdullah Abbas

Peran kalangan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan tak diragukan lagi. Pada zaman Jepang, para santri ikut memanfaatkan pelatihan militer Pembela Tanah Air (PETA) yang terbukti sangat bermanfaat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari Belanda yang berupaya kembali lagi menjajah.

pejuang-kemerdekaan-02

Berikut nama-nama perwira PETA yang berasal dari kalangan santri sebagaimana disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PBNU H Slamet Effendy Yusuf.

1. KH M Basoeni (Daidancho Pelabuhan Ratu, Bogor),
2. KH Soetalaksana (Daidancho Tasikmalaya, Priangan),
3. KH Pardjaman (Daidancho Pangandaran, Priangan),
4. KH Hamid (Kastaf Daidan 11 Pangandaran, Priangan),
5.KH R Aroedji Kartawinata (Daidancho Cimahi, Priangan),
6. KH Masjkoer (Daidancho Bojonegoro),
7. KH Tubagus Achmad Chatib (Daidancho Labuan, Banten),
8. K E. Oyong Ternaja (Daidancho Malingping, Banten),
10. KH Sjam’oen (Daidancho Cilegon, Banten),
11. KH R.M. Moeljadi Djojomartono (Daidancho Manahan, Surakarta),
12. KH ldris (Daidancho Wonogiri, Jogja),
13. KH R Abdoelah bin Noeh (Oaidancho Djampang Kulon, Bagor),
14. KH lskandar Sulaiman {Daidancho Daidan lV Malang),
15. KH Doerjatman (Daidancho Tegal),
16. KH R Amien Ojakfar (Daidancho Pamekasan, Madura),
17. KH Abdoel Chamid Moedhari Daidancho Daidan III Ambunten, Sumenep).

Nama-nama di atas adalah perwira PETA berpangkat daidancho (mayor) yang memimpin batalyon. Hamid Rusdi, pahlawan yang jadi nama jalan di Malang adalah Ketua Gerakan Pemuda Ansor Malang, perwira PETA dengan pangkat syudanco (komandan kompi), Brigjen Abdul Manan Wijaya adalah santri Tebuireng juga didikan PETA, termasuk Brigjen KH Sullam Syamsun.

Source: Nu.or.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s