KITAB-KITAB TAFSIR AL-QUR’AN KARANGAN ULAMA INDONESIA

Posted: Oktober 17, 2016 in KHAZANAH ISLAM, KITAB KARYA ULAMA NUSANTARA, KONTRIBUSI ULAMA ASWAJA, SUNNAH - ADAB & NASIHAT
Tag:,

Tafsir Midadurrahman-115 vol_ karya Syaikh Mufti KH. Shohibul Faroji Azmatkhan

Tradisi penulisan tafsir di Nusantara sebenarnya telah ber­gerak cukup lama, dengan keragaman teknis penulisan, corak dan bahasa yang dipakai. Uraian berikut ini akan mengungkap tentang perjalanan dan sejarah penulisan tafsir yang pernah muncul di wilayah Nusantara dari masa ke masa.

Sebenarnya sejak abad ke-16 di Nusantara telah muncul proses penulisan tafsir. Ini dapat dilihat dari naskah Tafsir Surah al-Kahfi [18]: 9. Teknis tafsir ini ditulis secara parsial berdasarkan surah tertentu, yakni surah al-Kahfi dan tidak diketahui siapa penulisnya. Manuskripnya dibawa dari Aceh ke Belanda oleh seorang ahli bahasa Arab dari Belanda, Erpinus (w.1624) pada awal abad ke-17 M. Sekarang, manuskrip itu menjadi koleksi Cambridge University Library dengan katalog MS Ii.6.45. Diduga manuskrip ini dibuat pada masa awal pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M), di mana mufti kesultanannya adalah Syams al-Din al-Sumatrani, atau bahkan sebelumnya, Sultan ‘Ala’ al-Din Ri’ayat Syah Sayyid al-­Mukammil (1537-1604), di mana mufti kesultanannya adalah Hamzah al-Fansuri.9

Dilihat dari corak atau nuansa tafsir, Tafsir Surah al-Kahfi tersebut sangat kental dengan warna sufistik. Ini tentu mencerminkan bahwa penulisnya adalah orang yang mempunyai pandangan spiritual yang tinggi, atau bahkan pengikut tarekat yang mapan pada saat itu di Aceh, yaitu tarekat Qadiriah. Dari sisi referensi, merujuk pada Tafsir al-Khazin dan Tafsir al-Baydlawi. Hal ini juga menunjukkan bahwa penulisnya seorang yang menguasai bahasa Arab dengan baik dan mempunyai keilmuan yang tinggi.

Satu abad kemudian, muncul karya tafsir Tarjuman al-Mustafid yang ditulis oleh ‘Abd al-Ra’uf al-Sinkili (1615-1693 M) lengkap 30 juz. Tahun penulisan karya ini tidak bisa diketahui dengan pasti. Namun Peter Riddel, setelah melihat informasi dari manuskrip tertua karya ini, mengambil kesimpulan tentatif, karya ini ditulis sekitar tahun 1675 M.10

Sesudah itu, dipenghujung abad ke-18, Syekh Nawawi al-Bantani (1813-1879 M)memunculkan tafsir-nya Marah Labib li Kasffi Ma’na al-Qur’an al-Majid atau yang lebih dikenal dengan Tafsir al-Munir, diterbitkan di Makkah pada tahun 1880. Tafsir ini ditulis dalam bahasa Arab, bukan bahasa Melayu seperti bahasa yang dipakai oleh ‘Abd al-Ra’uf al-Sinkili dalam Tarjuman al-Mustafid.11

Agaknya penulisan tafsir al-Qur’an yang terbanyak di Nusantara muncul dalam renta-ngan masa abad ke-20. Pada awal abad ini bermunculah beragam literatur tafsir yang mulai ditulis oleh kalangan Muslim Indonesia. Karya-karya tafsir tersebut disajikan dalam model dan tema yang beragam serta bahasan yang beragam pula. Kita mengenal Mahmud Yunus dengan karya tafsirnya yang berjudul Tafsir Qur’an Karim (l938), A. Hassan menulis tafsirberjudul al-Furqon (1956), T.M. Hasbi ash-Shiddieqy menerbitkan karya di bidang tafsir di bawah judul Tafsir al-Bayan (1971), dan Hamka dengan tafsirnya yang berjudul Tafsir al-Azhar (1967). Mereka itu  sebagai generasi yang lahir terkemudian yang masing-masing menulis tafsir genap 30 juz dengan model penyajian runtut (tahlIli) sesuai dengan urutan surah dalam mushaf Ustmani. Di samping itu, banyak nama­nama lain yang menulis tafsir bukan dengan model runtut, tetapi dengan model tematik.12 Ini merupakan suatu keunikan tersendiri di dalam sejarah penulisan tafsir al-Qur’an di Indonesia.

Diperkirakan banyak manuscript kitab-kitab tafsir karangan Ulama Nusantara yang tidak dicetak, atau bahkan menghilang karena tidak di jaga dengan baik oleh kita. Berikut ini adalah sebagian kecil saja daftar nama-nama kitab-kitab Tafsir Al-Qur’an karangan ulama Nusantara, beberapa di antaranya bahkan di ajarkan dan di sebarluaskan ke luar Negeri:

1.  Tarjuman Al-Mustafid

Nama lengkap pengarang tafsir Tarjuman Al-Mustafid adalah Syaikh Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuri as-Sinkili. Di dalam tafsir Tarjuman Al-Mustafid ini, penulis menggunakan metode tahlili. Hal ini bias dibuktikan dengan adanya ragam pendekatan dalam menafsirkan ayat Al-Quran, seperti qira’ah, penjelasan suku kata, latar belakang turunnya ayat, nasikh-mansukh, dan munasabatul ayat. Tafsir ini pertama kali dicetak di Kota Istanbul Turki pada tahun 1615-1693 M. Tafsir ini diduga kuat sebagai tafsir pertama karya ulama nusantara yang menafsirkan Al-Quran 30 juz secara lengkap. Salah satu ciri khasnya yang lain dari kitab ini adalah pendekatan pada nilai-nilai tasawuf.

2. Marah Labid li Kasyfi Ma’na Quran Majid

Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Itulah nama lengkap pengarang kitab tafsir ini, atau lebih dikenal Syaikh Nawawi Banten. Kitab yang terbit pada 1818-1897 ini juga dikenal dengan nama Al-Munir li Ma’alimit Tanzil. Kedua nama ini memang tampak di sampul kitab tafsir ini. Nama tafsir Al-Munir diperkirakan diberikan oleh pihak penerbit. Sedangkan nama Marah Labid berasal dari Syaikh Nawawi langsung.
Tafsir Marah Labid dapat digolongkan sebagai salah satu tafsir dengan metode ijmali (global). Dikatakan ijmali karena dalam menafsirkan setiap ayat, Syaikh Nawawi menjelaskan setiap ayat dengan ringkas dan padat, sehingga mudah dipahami. Sistematikan penulisannya pun menuruti susunan ayat-ayat dalam mushaf. Tafsir Marah Labid terlihat sangat detail dalam menafsirkan setiap kata-perkata pada setiap ayat.

3. Tamsyiyatul Muslimin

Kitab tafsir karya KH. Ahmad Sanusi ini memiliki nama lengkap Tamsyiyatul Muslimin fi Tafsiri Kalami Rabbil ‘Alamin. Tafsir ini terbit secara berkala, yakni satu bulan sekali, pada 1 Oktober 1934 dan dicetak di percetakan Al-Ijtihad Sukabumi. Cetakan ini kemudian beredar di Jakarta, Bengkulu, Bandung, dan Singapura.

Tafsir ini telah dicetak ulang berpuluh kali dan sampai sekarang masih dipakai oleh majlis-majlis ta’lim di wilayah Jawa Barat. Karya lainnya adalah serial Tamsyiyatul Muslimin dalam bahasa Melayu. Setiap ayat-ayat Al-Quran ditulis dengan huruf Arab sekaligus ditulis (transleterasi) dalam huruf latin.

4. Al-Quranul ‘Adzim

Tafsir Al-Quranul ‘Adzim berbeda dengan tafsir pada umunya. Kitab tafsir ini lebih dikenal dengan nama Tafsir Tiga Serangkai karena H. Abdul Halim Hasan menyusunnya bersama dua ulama lain, H. Zainal Arifin Abbas dan Abdurrahim Haitami. Kitab tafsir ini disusun dan diterbitkan pada tahun 1937.

5. Al-Ibriz

Dari sekian kitab hasil karya KH. Bisri Mustofa, yang paling terkenal adalah kitab tafsirnya yang bernama Al-Ibriz. Tafsir Al-Ibriz ini bersumber dari ijtihad Kyai Bisri yang menggunakan Bahasa Jawa dan ditulis dengan huruf Arab pego (pegon). Alasan ayah KH. A. Musthofa Bisri ini menulisnya menggunakan pegon adalah supaya kaum muslimin yang berada di Jawa dan waktu itu belum banyak yang bias membaca huruf latin dapat memahami makna Al-Quran dengan mudah dan dapat memberi manfaat di dunia ataupu akhirat.

Penulisan kitab Al-Ibriz ini membutuhkan waktu enam tahun mulai 1954 sampai 1960. Corak kombinasi antara fikih dan tasawuf pun bias terlihat di kitab itu. Kitab yang mencakup tafsiran Al-Quran secara keseluruhan, tafsir ini dibagi menjadi tiga jilid.

6. Al-Mahmudy

Tafsir Al-mahmudy ditulis oleh KH. Ahmad Hamid Wijaya pada tahun 1989. Tafsir Al-Mahmudy diterbitkan oleh PBNU pada saat Muktamar NU di Krapyak, Yogyakarta. Penerbitan itu lengkap beserta dengan kata pengantar dari PBNU dan juga dari beberapa pengurus PBNU yang menjabat pada periode tersebut. Sebab, penulis tafsir Al-Mahmudy adalah Katib Am PBNU yang menjabat selama dua periode.

7. Al-Misbah

Nama Prof. Dr. KH. M. Quraish Shihab dengan pada penghujung abad ke-20 sebagai cendekiawan muslim Indonesia. Salah satu karya terbaiknya adalah Tafsir Al-Mishbah. Dalam kitab ini Prof. Quraish lebih menggunakan pendekatan eksploratif, deskriptif, analitis, dan perbandingan. Ini merupakan metode penelitian yang berupaya menggali sejauh mungkin produk tafsir yang dilakukan oleh ulama-ulama tafsir.
Tafsir Al-Mishbah yang terdiri dari lima belas jilid ini sangat berpengaruh di Indonesia. Bukan hanya menggunakan corak baru dalam penafsiran, tafsir ini juga menggunakan metode penulisan dengan mengombinasikan antara metode tahlili dengan metode maudli’i. Sebelum menafsirkan dengan metode tahlili terlebih dahulu ia menafsirkan dengan menggunakan metode maudlu’i.

8. Al-Iklil

Kitab ini dikarang oleh Ulama dari Bangilan, Tuban. Beliau merupakan adik kandung KH. Bisri Mustofa, Rembang. Metode penulisan Tafsir Al-Iklil terdiri dari tiga bentuk sistematika penulisan. Diantaranya adalah penulisan ayat Al-Quran dengan terjemahan Bahasa Jawa menggunakan aksen pegon, menerangkan secara detail makna yang diakandung dalam ayat Al-Quran dan mengulang penjelasan makna yang penting.
Metodologi penafsiran terperinci, lugas dan tidak bertele-tele sehingga sangat tepat dikonsumsi untuk kalangan awam pada umunya dan kalangan pesantren pada khususnya. Melihat cara penafsiran yang digunakan dapat disimpulkan bahwa Tafsir Al-Iklil menggunakan metode tahlili.

9. Al-Munir

Penulis kitab ini adalah KH. Daud Islam Soppeng. Karena itlah, kitab yang ditulis dalam bahsa Bugis ini juga dikenal dengan sebutan Tafsir Daud Ismail. Tafsir ini memiliki komposisi yang sederhana. Hal ini bias kita lihat dengan dimulainya suatu pembahasan dengan mengelompokkan ayat-ayat yang ingin diterjemahkan dan ditafsirkan. Satu kelompok biasanya terdiri antara 3-10 ayat atau lebih dan kadang-kadang diberi judul pada setiap kelompok ayat. Penerjemahan ayat-ayat dalam tafsir Daud Ismail ini mengacu pada terjemahan Departemen Agama yang sudah ada sebelumnya

10. Tafsir Midadurahman

Tafsir Midadurahman (lihat gambar) merupakan karya ke-30 dari Asy-Syaikh KH. Shohibul Faroji Azmatkhan. Tafsir ini berhasil mendapatkan 3 penghargaan sekaligus, yaitu MURI (Musium Rekor Dunia Indonesia), MURTI (Musium Rekor Terhebat Indonesia) dan penghargaan dari MRNU (Musium Rekor Nahdlatul Ulama). Lalu apa yang membuat tafsir ini benar-benar spesial? Ia menjadi spesial karena ini merupakan karya NU yang terpanjang, yakni mencapai 8500 halaman atau 115 volume, isinya adalah tafisir Quran 30 juz, dan ini merupakan tafsir utuh satu-satunya di dunia.

Karya Syaikh Mufti KH. Shohibul Faroji Azmatkhan ini merupakan tafsir Alqur’an yang mengungkap rahasia kearifan quran, dan menyingkap rahasia akhir zaman, dikaji dengan lugas dalam berbagai perspektif, dan berdasarkan sanad keilmuan dari Rasulullah, Ahlulbayt Rasulullah, Para shahabat Nabi, Para tabi’in, Para tabiut tabiin, sanad Walisongo hingga para mufassir nusantara (indonesia).

Middadurrahman ditafsirkan lengkap 30 juz. Terdiri dari 115 jilid, 1 jilid menjelaskan tafsir per surat. Jilid 115 adalah jilid ringkasan..

12. Tafsir An Nur

Tafsir Al-Qur’anul Majid atau yang lebih dikenal dengan nama TAFSIR AN-NUR ini adalah salah satu karya monumental ulama Indonesia asal Aceh, iaitu Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddiegy.

Tafsir An-Nur pertama kali terbit pada tahun 1956. Ini adalah kitab tafsir lengkap pertama karya ulama ahli tafsir Indonesia yang diterbitkan di Indonesia. Tafsir ini mudah dicerna oleh semua golongan masyarakat, dari para peneliti sampai para pemula. Tafsir inilah pula yang menjadi rujukan Terjemah Qur’an Departemen Agama Indonesia yang pertama tahun 1952.

Tafsir An-Nur menggunakan dua metode sekaligus, yaitu mudhi’i tahlili karena dibuat berdasarkan urutan dan susunan Al-Qur’an, ayat per ayat dan surah per surah, dan dengan bentuk penyajian yang rinci, dan juga metode maudhu’i (tematik) karena sebelum menjelaskan tafsir suatu surah terlebih dahulu dijelaskan gambaran umum surah tersebut.

Tafsir ini juga dapat digolongkan sebagai at-tafsir bil ra’y (tafsir berdasarkan ijtihad), walaupun tidak semua ayat dijelaskan dengan metode tersebut. Dapat pula digolongkan sebagai at-tafsir bil-ma’tsur (tafsir dengan riwayat), yaitu penjelasan suatu ayat dengan ayat lain atau dengan hadits dan atsar yang shahih.

Dalam kitab tafsir ini Hasbi ash-Shiddieqy banyak mengutip dari rujukan-rujukan mu`tabar (otoritatif). Sebut saja di antaranya, tafsir Jami` al-Bayan karya ath-Thabari, Tafsir al-Qur’an al-`Azhim karya Ibnu Katsir, tafsir al-Qurthubi, tafsir al-Kasysyaf karya az-Zamakhsyari, dan at-Tafsir al-Kabir karya Fakhruddin ar-Razi. Tidak hanya tafsir klasik, tafsir ulama muta’akhkhirin juga menjadi sumber ash-Shiddieqy, seperti, tafsir al-Manar karya Muhammad Rasyid Ridha, tafsir al-Maraghi, tafsir al-Qasimi, dan tafsir al-Wadhih. Selain kitab-kitab tafsir, ia juga merujuk kepada kitab-kitab induk hadis yang mu`tamad (dipercaya), semisal, kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dan kitab-kitab as-Sunan.

11. Tafsir Al-Azhar karangan BUYA HAMKA

Hamka adalah seorang pemikir muslim progresif dan tokoh Muhammadiyah yang rela berkorban dalam memperjuangkan islam hingga dia dipenjara. Namun maksudnya dia ke penjara bukan menjadi hambatan dalam berkarya, justru di dalam sel kata itu ia hanya menyelesaikan penulisan Tafsir al-Azhar.

Tafsir al-Ahar adalah salah satu tafsir karya warga Indonesia yang dirujuk atau dianut dari Tafsir al-Manar karya Muhammad Abdu dan Rasyid Ridha.

Melihat ciri khas yang ada dalam tafsir karya Hamka tersebut, maka Nampak metode tahlili (analisis) bergaya tertib mushaf dan corak kombinasi al-Adabi al-Ijtima’i-Sufi.

Source: kurniawan1985.blogspot.co.id, pecinta ulama nusantara, andiuripurup.wordpress.com, abusyahmin.blogspot.com & rasailmedia.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s