MENELUSURI KITAB-KITAB KARANGAN ULAMA JAMBI

Posted: Oktober 17, 2016 in KHAZANAH ISLAM, KITAB KARYA ULAMA NUSANTARA, KONTRIBUSI ULAMA ASWAJA
Tag:,

Kitab-kitab Islami

Seiring dengan perkembangan zaman dan beredarnya kitab-kitab dalam bentuk terjemahan dan buku-buku pelajaran umum sebagai bahan ajar baik di pesantren maupun di lembaga pendidikan keagamaan lainnya mengakibatkan banyaknya karya-karya ulama yang kurang mendapatkan perhatian dan menjadi rusak. Kerusakan tersebut disebabkan usia kitab yang semakin tua dan budaya penyimpanan serta pemeliharaan yang pada umumnya masih lemah dan tidak profesional.

Upaya penyelamatan naskah pada umumnya di Indonesia belum banyak memanfaatkan teknologi canggih, baik dari aspek perangkat keras (hardware), maupun perangkat lunak (software).Berkenaan dengan hal tersebut, Menteri Agama Republik Indonesia mengungkapkan kegelisahannya karena khawatir akan hilangnya sejumlah besar khazanah budaya Indonesia, khususnya karya bernilai religi, seperti artefak, karya sastra, dan naskah keagamaan Islam karya para ulama.

Karya-karya ulama ini perlu dipelihara agar kesinambungan tradisi keilmuan di pondok pesantren yang telah teruji tetap eksis bahkan terus berkembang. Pemikiran-pemikiran yang dikemukakan dalam karya-karya ulama itupun akan terus memberikan bimbingan (guidance) bagi masyarakat, khususnya dalam mengokohkan kesatuan dan persatuan melalui pemahaman pandangan heterogen yang tumbuh dari keragaman paham yang dituangkan dalam karya-karya tersebut. Oleh karena itu, karya-karya tersebut perlu dijaga dan dilestarikan agar bisa dibaca dan dipahami isi kandungannya.

Berdasarkan kenyataan dan permasalahan di atas, maka Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta merasa perlu untuk turut serta dalam melestarikan khazanah keilmuan warisan para ulama di pondok pesantren dengan melakukan inventarisasi (pendataan) terhadap kitab-kitab karya para ulama tersebut. Salah satu wilayah yang menjadi target inventarisasi adalah Provinsi Jambi.

Beberapa alasan mengapa Provinsi Jambi dipilih menjadi salah satu wilayah inventarisasi karya ulama antara lain adalah: pertama, terdapatnya pesantren-pesantren tua yang masih berdiri kokoh di perkampungan seberang Kota Jambi yang sudah menjadi pusat pendidikan agama sejak 200 tahun yang lalu (kompas.com, 2009). Salah satunya adalah Madrasah Nurul Iman yang telah banyak menghasilkan alumni yang populer di dunia pendidikan di Provinsi Jambi antara lain KH. HMO Bafadhal dan Prof. Dr. H. Khatib Quzwain (keduanya mantan rektor IAIN Sultan Thaha Saifuddin) bahkan ada juga yang menjadi mufti (imam besar) di Malaysia pada tahun 1955-an yaitu KH. M. Said Ibrahim (Jambi Independent 2009, 17). Kedua, banyaknya ulama dari luar negeri khususnya Mekkah yang datang untuk mengajar di Madrasah Nurul Iman, antara lain: Syekh Usman dari Serawak pada tahun 1919, Sayyid Abdullah Dahlan dari Mekkah pada tahun 1923, Syekh Said Yamani dari Mekkah pada tahun 1924 dan Syekh Mahmud Bukhari dari negeri Bukhara pada tahun 1930. Kehadiran para ulama tersebut meniscayakan munculnya kontak pemikiran dan pengalaman antara ulama di Jambi dengan guru-guru mereka di Timur Tengah sehingga menarik kiranya untuk melihat bagaimana jaringan keilmuan yang tercipta di antara mereka (Fauzi MO Bafadhal, 2008, 8). Ketiga, Provinsi Jambi merupakan salah satu dari 13 provinsi wilayah kerja Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta yang belum dijadikan lokasi sasaran penelitian sejenis oleh Puslitbang Lektur Keagamaan. Oleh karena itu, posisi penelitian ini berupaya melengkapi informasi mengenai kitab-kitab karya ulama pondok pesantren. Yang sudah ada.

Masalah utama dalam penelitian ini adalah belum tersusunnya informasi mengenai karya para ulama pondok pesantren di Provinsi Jambi dalam sebuah katalog. Adapun pertanyaan penelitiannya adalahberapa banyak karya ulama pondok pesantren di Provinsi Jambi yang masih eksis, baik yang berbentuk naskah (manuscript) ataupun sudah berbentuk cetakan. Bidang keilmuan apa saja yang menjadi keahlian para ulama tersebut dengan melihat riwayat kehidupan mereka.

Penelitian karya ulama pondok pesantren ini bertujuan untuk mengetahui dan mendata berapa banyak karya ulama pondok pesantren di Provinsi Jambi yang masih eksis, baik yang berbentuk naskah (manuscript) maupun yang sudah berbentuk cetakan. Mengetahui dan mendeskripsikan bidang keahlian para ulama tersebut dengan melihat riwayat kehidupan mereka. Mengetahui dan mendeskripsikan corak penyajian dan isi singkat karya ulama pondok pesantren di Provinsi Jambi.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara akademis maupun praktis. Secara akademis berupa data base dalam rangka turut mengembangkan kitab-kitab karya ulama di pondok pesantren sebagai warisan khazanah keilmuan. Sedangkan secara praktis berupa kebijakan dari Kementerian Agama (dalam hal ini Kanwil Kemenag Provinsi Jambi dan Direktorat PD Ponten) dalam rangka turut menjaga, memelihara dan memanfaatkan karya-karya para ulama pondok pesantren tersebut.

Berdasarkan informasi yang diberikan M. Yazid, S,Ag, Kasie Pendidikan SalafiyahKantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi disebutkan beberapa pondok pesantren yang diperkirakan mempunyai karya tulis hasil pemikiran para ulama. Pondok Pesantren tersebut adalah Nurul Iman yang beralamat di Jl. KH. Ibrahim RT 08, Desa Ulu Gedong, Kecamatan Danau Teluk, Pesantren As’ad yang beralamat di Jl. KH. A. Qodir Ibrahim, Desa Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk dan Al-Jauharen yang beralamat di Jl. KH. Abdul Majid, Desa Tanjung Johor, Kecamatan Pelayangan.

Berdasarkan hasil telaah pustaka, penulis menemukan beberapa penelitian yang berkaitan dengan kitab kuning karya para ulama pondok pesantren, antara lain:

1. penelitian yang dilakukan oleh L.W.C.Van Den Berg mengenai kitab-kitab yang digunakan di lingkungan beberapa pesantren di Jawa dan Madura. Hasil penelitiannya mencantumkan ada sekitar 900 buku (kitab) yang digunakan di pesantren (buku teks) dan kemungkinan buku-buku tersebut masih dicetak dan digunakan sampai saat ini (van Bruinessen, 1999, 131).

2. penelitian yang dilakukan oleh Amik dari Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat (LPAM) Surabaya mengenai kitab-kitab karya ulama yang khusus terkait dengan naskah tulisan tangan (manuscript) yang ditulis dalam berbagai bentuk seperti hâsyiah, syarah, terjemahan, khulasah dan karangan asli. Penelitian tersebut menemukan sekitar 300 naskah karya ulama Nusantara yang terdapat di pesantren-pesantren di pulau Jawa.

3. penelitian yang dilakukan oleh Puslitbang Lektur Keagamaan yang menginventarisir karya para ulama di pondok pesantren yang berada di 6 provinsi yaitu: Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

Sebelum penulis uraikan pembahasan lebih lanjut, perlu kiranya dijelaskan beberapa istilah untuk dipahami para pembaca. Yang dimaksud dengan karya ulama dalam penelitian ini adalah semua hasil karya ulama pesantren yang tersaji dalam berbagai corak penyajian seperti karya asli, hâsyiyah, syarah, terjemah, dan khulâsah baik ditulis dalam bahasa dan aksara Arab maupun bahasa dan aksara daerah, baik masih dalam bentuk naskah tulisan tangan (manuscript) maupun sudah cetakan. Istilah ulama yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengasuh pondok pesantren khususnya pesantren salâfiyah yang aktif dalam lembaga pendidikan keagamaan (pesantren) atau sejenisnya dan memiliki karya baik berupa naskah tulisan tangan (manuscript) maupun kitab-kitab cetakan.

Metode Penelitian

Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan historis. Pendekatan historis dilakukan untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin mengenai aspek kesejarahan riwayat hidup penulis dan karya tulisnya.

Untuk kelancaran proses pengumpulan data penelitian, maka dilakukan beberapa teknik, antara lain observasi, telaah dokumen dan wawancara. Observasi dilakukan dengan mendatangi kediaman tokoh agama, pengurus pondok pesantrenataumadrasah (kyai dan ustadz), tokoh masyarakat yang dianggap mempunyai atau menyimpan karya ulama. Telaah dokumen dilakukan terhadap kitab-kitab yang ditemukan di lapangan. Wawancara dilakukan dengan berbagai pihak antara lain pengurus pondok pesantrenataumadrasah, Kantor Wilayah Kementerian Agama, pengelola Museum dan kalangan akademisi di perguruan tinggi. Wawancara juga dilakukan dengan pemilik atau penyimpan karya ulama, keturunan ulama untuk mengetahui sejarah dan asal usul karya para ulama.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Berdasarkan hasil pengumpulan data di lapangan, berikut ini penulis paparkan biografi singkat ulama dan deskripsi karyanya:

1. KH. Abdul Qadir bin Syekh Ibrahim bin Syekh Abdul Majid al-Jambi

Kyai Abdul Qadir lahir di Kampung Tengah Jambi pada tanggal 18 Shafar 1332 H atau 1914 M dan wafat pada waktu shubuh Jum’at 10 Juli 1970 di Jakarta. Nama lengkapnya adalah Abdul Qadir Jaelani yang diberikan ayahnya untuk mengenang kakeknya yang meninggal dalam perjalanan pulang berziarah dari makam Syekh Abdul Qadir Jaelani (Humaini, 2006, 31). Pengetahuan agama yang beliau miliki diperoleh dengan mengaji antara lain pada Syekh Hasan al-Yamany (Mufti Mekkah) guna memperdalam ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh pada tahun 1939, Syekh Ali Maliky (Mufti Mekkah) 1939 dan Syekh ‘Arif guna memperdalam ilmu Falak pada tahun 1936.

Sejak umur 13 tahun beliau telah aktif mengajar di Madrasah Nurul Iman Ulu Gedong. Pada tahun 1943-1944 beliau diangkat sebagai Raîsul Mu’allimin dan pada tahun 1944-1948 diangkat sebagai Mudhir madrasah tersebut. Beliau mempunyai cita-cita untuk meningkatkan sistem pendidikan secara modern di Jambi. Hal ini beliau terapkan dengan mendirikan pengajian di Langgar Putih pada tahun 1948 yang merupakan awal sejarah berdirinya lembaga pendidikan Islam yang modern di Jambi yaitu Perguruan Pondok Pesantren As’ad yang berlokasi di Kompleks Pondok Pesantren As’ad Olak Kemang Jambi. Di tempat ini pula beliau mendirikan Fakultas Tarbiyah dan Ushuluddin pada tahun 1964 atau 1965 yang kemudian menjadi IAIN Sultan Thaha Saifuddin dan jabatan dekan beliau pegang sampai akhir hayatnya. Beliau termasuk ulama yang produktif menulis kitab, namun karena kurangnya perhatian para murid dan keluarga terhadap karya-karya beliau sehingga hanya satu kitab saja yang masih dapat diperoleh yaitu:

a. Mughnil ‘Awâm. Kitab ini berisi tentang ajaran tauhid seperti rukun Islam, rukun iman, dan nama-nama nabi yang ditulis dalam bentuk sya’ir. Bahasa yang digunakan adalah Melayu dengan aksara Jawi (Arab Melayu). Jumlah sya’ir seluruhnya ada 79 bait. Berdasarkan informasi yang terdapat di bagian akhir kitab disebutkan bahwa kitab ini disusun pada bulan Jumadil Ula 1369 H. Adapun kitab yang penulis peroleh dicetak pada tahun 1993 yang merupakan cetakan ke-10.

2. Syekh Abdul Majid bin al-Haj Abdul Ghaffar al-Jambi

Syekh Abdul Majid merupakan tokoh ulama Jambi yang juga menjadi guru Sultan Thaha Saifuddin. Pada masa perang Jambi yang terjadi pada tahun 1858 hingga 1907, ia diutus oleh Sultan Thaha ke Turki untuk menemui Sultan Usmani dan meminta bantuan darinya namun misi tersebut tidak berhasil. Dalam perjalanan pulang, beliau menetap di Mekkah dan mengajar di salah satu serambi Masjidil Haram (Tim Peneliti IAIN STS Jambi, 1981).

a. Risâlah Bahjatul Hidâyah fî Masâilil Khilâfiyyah. Kitab ini dicetak pada tahun 1353 H dengan menggunakan aksara Jawi (Arab Melayu) berbahasa Melayu dengan jumlah halaman sebanyak 58 halaman. Kitab yang penulis peroleh merupakan cetakan pertama yang dicetak pada percetakan al-Musâwâ yang berlokasi di daerah Ulu Tuan Kapur Palembang. Kitab ini berisi tentang penjelasan mengenai persoalan keagamaan yang sering diperdebatkan seperti masalah tawasul, talqin, tarawih, ijarah dan lain-lain.

b. Hâsyiyah Anwâr Tîjânud Durârî ‘alâ Matnil Bâjûrî. Kitab ini dicetak pada tahun 1354 H pada percetakan Miru Yama Palembang dengan menggunakan bahasa dan aksara Arab dengan jumlah halaman sebanyak 82 halaman. Kitab ini berisi penjelasan tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan ilmu tauhid.

Selain kedua kitab di atas ditemukan informasi mengenai nama kitab karya Syekh Abdul Majid lainya, yaitu: Manhajul Ghulâm li Qawa’idil Imân wal Islâmdan Syarah Bulughul Rajâ ‘alâ Safînatun Najâ yang dicetak tahun 1354 H. Kitab Miftâhul Lisân fî Tadzkiratil Ikhwân yang dicetak pada tahun 1356 H. Selanjutnya kitab Majmû’ Aqwâl Ulamâ al-Amjâd fîn Nushi wal Wa’dz wal Irsyâd dan Al-Jawâhir as-Saniyyah fil Khitobi wan Nashâih wal Ad’iyyah yang dicetak pada tahun 1357 H.

3. KH. Muhammad Ali bin Syekh Abdul Wahhab

KH. Muhammad Ali lahir di Desa Bramitan Kanan, Kecamatan Tungkal Ilir pada tanggal 1 Shafar 1354 H bertepatan dengan tanggal 1 April 1933 M. Ayahnya bernama KH. Abdul Wahhab seorang tokoh agama yang pernah mukim di Mekkah untuk memperdalam ilmu agama. Sedangkan ibunya bernama Hj. Ruqoyah binti H.M. Yusuf yang berasal dari daerah Batu Pahat, Johor, Malaysia (Syam: 2004, 32).

Pendidikan agama beliau peroleh dari kedua orang tuanya kemudian dilanjutkan pada Madrasah al-Hidâyah al-Islâmiyyah. Setelah tamat Ibtidaiyah beliau berangkat ke Mekkah bersama kedua orang tuanya untuk memperdalam ilmu agama. Setelah setahun di Mekkah beliau kembali ke tanah air dan meneruskan pendidikannya pada Madrasah Tsanawiyyah di pondok Pesantren ‘As’ad Jambi dan dilanjutkan pada tingkat Aliyah di Madrasah Aliyah Diniyyah Islamiyyah Barabai, Kalimantan Selatan.

Adapun karya-karya yang telah beliau hasilkan antara lan adalah:
a. Al-Fatâwâ at-Tunkaliyyah terdiri dari 4 juz yang menjelaskan tentang fatwa-fatwa masalah agama, tauhid, tasawuf dan fiqh yang ditulis dengan bentuk tanya jawab dengan menggunakan aksara Jawi (Arab Melayu).
b. Al-Awrâd Tharîqah Mu’tabarah Qâdiriyyah Wa Naqsyabandiyah berisi tentang penjelasan mengenai tata cara berzikir, adab sebelum, ketika dan sesudah berzikir dilanjutkan dengan bacaan wirid yang harus diamalkan jamaah tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.
c. Tajhîzul Mayyitmenjelaskan tentang tata cara pengurusan jenazah mulai dari memandikan, mengafankan, menyalatkan hingga menguburkan.
d. Al-Umdah fi ‘Adam Jawâz Ta’khir al-Ihram ilâ Jiddahmenjelaskan tentang hukum menunda ihram hingga sampai di Jeddah.
e. Fathul Mubîn fî Fidâyâ al-Salât wa Saum wa al-Yamînmenjelaskan tentang fidyah shalat, puasa, dan sumpah menurut mazhab Abû Hanifah. Dalam bidang fiqh KH. Muhammad Ali tidak hanya berpegang kepada satu mazhab saja, tetapi juga berpegang kepada beberapa mazhab yaitu mazhab Syafii dan mazhab Abu Hanifah.
f. Al-Mabadi’ul-‘Asyarahmenjelaskan tentang ilmu tarekat yang mu’tabarah dan berisikan soal jawab yang berkenaan dengan tarekat.
g. Da’watul Haqmenjelaskan tentang seruan kepada kebenaran.
c. Izhârul Haqmenjelaskan tentang masalah zikir yang benar.
d. Jilâul Qulûb menjelaskan tentang keutamaan zikir, dalil-dalilnya dan hakikatnya.
e. Ta’addud al-Jum’ah menjelaskan pandangan Imam al-Syafii tentang pelaksanaan shalat Jum’at lebih dari satu kelompok dalam satu negeri yang memenuhi beberapa persyaratan antara lain dhiqul makan, bu’du athrafil bilad dan ‘adawah (permusuhan).
f. Tasawwuf biMa’na al-‘Amal huwa al-Tariqah menjelaskan bahwa pengertian tasawuf dalam praktik adalah tarekat.
g. Al-Nafhâtu al-Rahmâniyah menjelaskan tentang wasiat terhadap murid beliau karena minta dituliskan pegangan.

4. Syekh Hasan Ibn H. Anang Yahya

Syekh Hasan Ibn H. Anang Yahya lahir di Kampung Tengah pada tahun 1895 dan wafat pada tahun 1940. Ayahnya adalah seorang saudagar kain dan kitab-kitab agama di daerah Jambi yang bernama H. Anang Yahya.

Pada usia 25 tahun, ia pergi ke Mekkah untuk menuntut ilmu dan bermukim di sana selama kurang lebih 8 tahun. Selama di Mekkah, Syekh Hasan Ibn H. Anang Yahya berguru antara lain kepada Syekh Muhammad Arsyad bin Syekh Umar Sumbawa dan Syekh Muhammad bin Daud al-Fatani. Pada masa akhir studinya di Mekkah, ia mendapat izin untuk menjadi salah seorang tenaga pengajar di Masjidil Haram dan produktif menulis kitab. Pada tahun 1927, ia kembali ke Jambi dan mengajar di Madrasah Nurul Iman dan tak lama kemudian diangkat menjadi mudhir selama kurang lebih 10 tahun. Adapun judul-judul kitab karya Syekh Hasan Ibn H. Anang Yahya adalah:

a. Taqrîbul ‘Awâm li Ma’rifatil Fiqhi wal Ahkâm. Kitab ini ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu dengan aksara Jawi (Arab Melayu) dengan jumlah halaman sebanyak 72 halaman. Kitab ini merupakan cetakan pertama yang dicetak pada percetakan al-Syarqiyyah pada tahun 1345 Hijriah. Kitab ini berisi tentang tanya jawab mengenai persoalan ibadah dan hukum islam (fiqh).

b. Nailul Mathlûb fi A’mal al-Juyûb. Kitab ini berisi tentang pelajaran ilmu Falak atau Hisab yang membahas tentang cara menentukan waktu shalat dan arah kiblat. Kitab ini juga dilengkapi dengan jadwal waktu shalat dan arah kiblat beberapa daerah di Indonesia.

c. Tamîn al-Lisân. Kitab ini berisi pelajaran ilmu tajwid yang membahas tentang masalah hukum-hukum bacaan dalam al-Qur’an dan adab membacanya.

d. Ta’lîm al-Shibyân. Kitab ini berisi pelajaran ilmu tauhid yang membahas tentang pokok-pokok keimanan yang dikenal dengan aqidah 50.

e. Nur al-Hudâ. Kitab ini berisi mengenai penjelasan Syekh Hasan Ibn H. Anang Yahya yang menolak Kaum Mudo dan Kaum Syams al-Huda di Palembang yang berpendapat tidak boleh membacakan talqin bagi mayat.

5. Syekh Abdus Shomad

Syekh Abdus Shomad dilahirkan di Kampung Tengah Jambi, mengenai tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti karena kurangnya data mengenai itu. Bafadhal memperkirakan kemungkinan besar beliau dilahirkan menjelang akhir abad XIX atau sekitar tahun 1870-an (Bafadhal, 2008, 107). Ayahnya bernama Haji Ibrahim seorang saudagar di daerah Jambi. Beliau wafat pada tahun 1942 di Jambi.Menurut informasi yang disampaikan oleh Guru Haji Tarmizi -salah seorang pengajar dan pengurus Madrasah Nurul Iman- Syekh Abdus Shomad menghabiskan masa kecil di kampung halamannya dan belajar agama kepada ulama-ulama Jambi seperti Syekh Khatib Mas’ud dan Syekh Hasan Yamani. Pada masa remaja, ia berangkat ke Mekkah untuk menuntut ilmu di Masjidil Haram dan tinggal di sana selama kurang lebih delapan tahun dan belajar antara lain pada Syekh Abdul Majid al-Jambi dan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Pada tahun 1912, ia pulang ke Jambi bersama dengan teman-temannya yang kemudian mendirikan organisasi yang bernama Tsamaratul Insan.

Organisasi Tsamaratul Insan yang disahkan berdasarkan Surat Keputusan Residen Negeri Jambi No.1636, tanggal 10 September 1915 diketuai oleh Syekh Abdus Shomad dengan para anggota pengurusnya yaitu: Syekh Ibrahim bin Abdul Majid, Syekh Ahmad bin Abdul Syukur, Syekh Usman bin H.Ali, Syekh Muhammad Saleh bin Kemas H. Muhammad Yasin dan Syekh Sayid Alwi bin Muhammad Shihab (Pengurus Madrasah Nurul Iman, 2001).

Syekh Abdus Shomad adalah figur ulama yang sangat berpengaruh karena beliau juga menjabat sebagai Hoofd Penghulu yang berperan sebagai komunikator antara masyarakat dengan Pemerintah Belanda pada masa itu. Adapun jumlah keseluruhan karya Syekh Abdus Shomad belum diketahui secara pasti. Berdasarkan informasi yang terdapat dalam katalog Museum Negeri Jambi ditemukan beberapa naskah kuno (manuscript) salinan Syekh Abdus Shomad yang berjudul Kitab Manhâj dan Kitab Farâid serta satu buah al-Qur’an tulis tangan.

Kondisi fisik ketiga naskah karya Syekh Abdus Shomad masih cukup baik dengan jumlah halaman naskah 620 halaman untuk Kitab Manhaj dan 700-an halaman untuk Kitab Farâid. Kertas yang digunakan adalah kertas Eropa dengan tinta berwarna hitam dan terdapat rubrikasi dengan tinta warna merah. Kedua naskah tersebut berisi mengenai hukum-hukum Islam.

6. Guru Muhammad Nashir Yahya bin Ahmad

Guru Muhammad Nashir Yahya bin Ahmad yang lahir pada tanggal 8 Oktober 1974 adalah wakil mudhir sekaligus Direktur KMI Pondok Pesantren Jauharen. Beliau yang kini tinggal bersama keluarganya di RT 03. Kelurahan Jelmo, Kecamatan Pelayangan, Kota Jambi mengeyam pendidikan tingkat Tsanawiyah dan Aliyah di Madrasah Sa’adatud Darain selama 6 tahun. Pernah melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur namun hanya sebentar tak sampai setahun (Wawancara 9 September 2009). Pada tahun 2003, Guru Nashir bersama KH. Sirajudin berinisiatif menghidupkan kembali Pondok Pesantren Jauharen yang sejak tahun 1980-an berhenti aktivitas belajar mengajarnya. Adapun judul-judul kitab yang telah dikarangnya antara lain adalah:

a. Al-Ahâdîts al-Mukhtârah: Tasytamilu ‘alâ Mi’ah wa Sittîn Hadîtsan. Kitab ini berisi 160 hadits pilihan yang diberi terjemahan bahasa Indonesia di bawahnya. Dalam kata pengantarnya yang menggunakan bahasa Arab disebutkan mengenai penulisan kitab ini yaitu tanggal 15 Dzulhijjah 1423 H bertepatan dengan 18 Februari 2003. Jumlah halaman kitab adalah 34 halaman.

b. Al-Qawâid al-Nahwiyyah fil asmâ wal af’âl. Kitab ini berisi tentang pelajaran nahwu mengenai kalimat isim dan kalimat fiil. Kitab ini ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu dan aksara Jawi (Arab Melayu). Jumlah halaman kitab sebanyak 20 halaman.

c. Jauhar al-Mubtadiy fi ‘Ilmi Ushul ad Dîn bi Masâilin Nubuwwât. Kitab ini berisi tentang pelajaran ilmu ushuluddin mengenai persoalan kenabian dan kerasulan yang ditulis dengan menggunakan bahasa dan aksara Arab dengan jumlah halaman sebanyak 26 halaman.

d. Jauhar al-Mubtadiy fi ‘ilmi ushul ad dîn bi masâilil Ilâhiyyât. Kitab ini berisi tentang pelajaran ilmu ushuluddin mengenai sifat-sifat yang wajib bagi Allah disertai dalil aqli dan naqlinya yang ditulis dengan menggunakan bahasa dan aksara Arab dengan jumlah halaman sebanyak 50 halaman.

e. Jauhar al-Mubtadiy fi ‘ilmit-Tauhîd. Kitab ini berisi tentang pelajaran ilmu tauhid yaitu mengenai masalah ilahiyyat, nubuwwat dan sam’iyyat yang ditulis dengan menggunakan bahasa da aksara Arab dengan jumlah halaman sebanyak 14 halaman.

f. Tamrînul Mubtadiy fi ‘ilmil Hisâb al khâsh bi’ilmil farâidh. Kitab ini berisi pelajaran mengenai penghitungan dalam ilmu farâid yang ditulis dengan menggunakan bahasa dan aksara Arab.

g. As- Suthûr fi ‘ilmil farâidh. Kitab ini berisi tentang pelajaran ilmu farâid yang ditulis dengan menggunakan bahasa dan aksara Arab dengan jumlah halaman sebanyak 51 halaman.

Karya Ulama dan Klasifikasi Bidang Keilmuan

Kitab-kitab karya para ulama yang dicatat pada penelitian ini diklasifikasi berdasarkan sistem klasifikasi Islam yang disusun oleh Puslitbang Lektur Keagamaan (Kailani (ed), 2003). Adapun jumlah kitab yang ditemukan sementara ini berdasarkan bidang kajiannya adalah sebagaimana yang terlihat dalam tabel berikut:

gbr_muhamadrosadi_1

gbr_muhamadrosadi_2

gbr_muhamadrosadi_3

Berdasarkan data tabel 1 di atas dapat kita ketahui bahwa jumlah kitab yang paling banyak ditemukan adalah kitab dalam bidang kajian Fiqih sebanyak 14 buah, Akhlaq dan Tasawuf sebanyak 10 buah, Aqaid dan Ilmu Kalam sebanyak 7 buah, Al-Qur’an dan ilmu yang berkaitan sebanyak 2 buah, Hadits dan ilmu yang berkaitan sebanyak 1 buah dan terakhir bidang Islam sebanyak 1 buah.
Selanjutnya, jika dilihat dari segi corak penyajiannya, karya ulama yang ditemukan di Provinsi Jambi sebagian besar adalah karangan asli dengan jumlah 33 buah, hâsyiyah 1 buah dan syarah 1 buah.

Tabel. 2

Jumlah karya ulama berdasarkan corak penyajian

gbr_muhamadrosadi_4

gbr_muhamadrosadi_5

gbr_muhamadrosadi_6

Penutup

Berdasarkan hasil penelitian, untuk sementara dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1. Mengenai kuantitas, jumlah kitab karya ulama pondok pesantren di Provinsi Jambi yang terdata untuk sementara berjumlah 35 buah, yang sebagian besar sudah dalam bentuk cetakan hanya ada 2 buah kitab saja yang berbentuk manuskrip kuno yaitu kitab manhaj, kitab farâid dan manuskrip al-Qur’an karya Syekh Abdus Shomad yang kini tersimpan dan menjadi koleksi Museum Negeri Jambi.
2. Mengenai bidang keilmuan, berdasarkan klasifikasi bidang keilmuan agama Islam, karya para ulama pondok pesantren di Jambi sangat beragam dan bervariasi mulai dari ilmu tauhid, fiqh, hingga tasawuf yang ditulis dengan bahasa dan aksara Arab serta bahasa Melayu dengan aksara Jawi (Arab Melayu).
3. Mengenai corak penyajian. Adapun corak penyajian kitab-kitab tersebut juga beragam, ada yang berbentuk hâsyiyah, khulâshah dan sebagian besar adalah karangan asli para ulama.
4. Motif penulisan kitab yang dilakukan para ulama di Provinsi Jambi khususnya yang berada di wilayah seberang Kota Jambi adalah dalam rangka memudahkan pemahaman para santri dalam proses transfer knowledge yang dilakukan para ulama. Sebagai salah satu contoh adalah kitab karangan KH. Hasan Ibn Yahya yang berjudul Taqrîbul ‘Awâm lima’rifatil fiqhi wal ahkâm (mendekatkan masyarakat awam dalam memahami fiqh dan hukum).
5. Kondisi fisik kitab-kitab karya ulama yang ditemukan sebagian besar dapat dikatakan cukup baik meski dengan tampilan yang masih sederhana.
6. Jumlah kitab karya para ulama pondok pesantren di Jambi diperkirakan masih sangat banyak. Oleh karena itu perlu dukungan dari semua pihak baik pesantren maupun kanwil Kemenag Jambi untuk terus dilakukan penelitian terkait.

Berdasarkan beberapa simpulan yang ada maka saran atau rekomendasi yang dapat penulis ajukan adalah:
1. Perlunya penyuluhan dan sosialisasi kepada pihak pesantren untuk terus menjaga dan merawat serta memanfaatkan kitab-kitab karya para ulama masa lalu.
2. Perlunya dukungan dari pihak terkait perlunya dukungan dari berbagai pihak terkait agar para ulama dan kyai di pondok pesantren dapat terus menghasilkan karya-karya yang bermanfaat.
3. Perlunya upaya sosialisasi terhadap karya-karya para ulama masa lalu kepada masyarakat luas.
4. Perlunyadukungandariberbagaipihak, seperti Kanwil Kemenag Provinsi Jambi dan percetakan untuk melakukan reproduksi terhadap kitab-kitab yang sudah langka.
5. Perlunya kajian dan penelitian lanjutan yang lebih mendalam terhadap kitab-kitab karya para ulama di pondok pesantren.

Daftar Pustaka

Bafadhal, Fauzi Mo, 2008. “Sejarah Sosial Pendidikan Islam di Jambi: Studi terhadap Madrasah Nurul Iman”, Disertasi SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Humaini, Abdullah, 2006. “Peranan KH Abdul Qadir Dalam Pengembangan Islam di Jambi Seberang (1914-1970)”,Skripsi Fak. Adab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Kailani, Muh (ed), 2003. Daftar Tajuk Subyek Islam dan Sistem Klasifikasi Islam; Adaptasi dan Perluasan DDC Seksi Islam, Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama

Jambi Independent, 2009. Madrasah Nurul Iman, Dulu dan Sekarang (1): Dulu Santri Ribuan, Kini Hanya Ratusan, Selasa 8 September

Jambi Independent, 2009. Madrasah Nurul Iman, Dulu dan Sekarang (2): Alumninya dari Rektor hingga Mufti di Malaysia, Rabu 9 September

Pengurus Madrasah Nurul Iman, 2001. Gambaran Umum Tentang Madrasah Nurul Iman, Ulu Gedong, Kota Jambi

Syam, Badriyah, 2004. “Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah di Kuala Tungkal, Kabupaten. Tanjung Jabung Barat, Jambi”, Tesis PPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tim Peneliti IAIN STS Jambi, 1981. SejarahPendidikan Islam di Jambi,BalaiPenelitian IAIN Sultan ThahaSaifuddin Jambi

van Bruinessen, Martin, 1999. Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat, Bandung: Mizan

Sumber lain:
Website:
http: atau atau cetak.kompas.com atau read atau xml atau 2009 atau 08 atau 27 atau 05270647 atau wisata.religi.di.kampung.seberang

Wawancara:
M. Yazid, S,Ag, (Usia, 44 tahun) Kasie Pendidikan Salafiyah, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi

Muhammad NashirYahya bin Ahmad (Usia 40 Tahun),Direktur KMI Pondok Pesantren Jauharen Jambi

KH. Ibrahim, (60 tahun), Pengurus Madrasah Nurul Iman Jambi

Source: perpusnas.go.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s