MUHADITSIN INDONESIA DAN KARANGAN KITAB HADITSNYA

Posted: Oktober 17, 2016 in KHAZANAH ISLAM, KITAB KARYA ULAMA NUSANTARA, KONTRIBUSI ULAMA ASWAJA, SUNNAH - ADAB & NASIHAT
Tag:,

kitab-al-quran-bersama-kitab-kitab-hadits-shahih

Syekh Nawawī al-Bantani

Merupakan salah satu ulama Nusantara yang masyhur dan terkenal. Beliau dikatakan antara tokoh ilmuwan yang turut menguasai semua bidang ilmu. Karya-karya beliau dii’tiraf oleh para ulama yang sezaman dan selepasnya. Kitab Tanqih al-Qawl merupakan syarah kepada kitab Lubab al-Hadith karya al-Imam Jalāl al-Dīn al-Suyūti. Kitab al-Bantani berkenaan, turut memaparkan nama-nama perawi hadis, sanad hadis dan beberapa status hadis.

Nama sebenar Syekh Nawawī al-Bantani ialah Abu Abd al-Muti Muhammad ibn Umar ibn al-Arabi Ibn Nawawī al-Jawi al-Bantanī al-Tanari. Beliau lebih dikenali dengan nama Muhammad Nawawī al-Bantanī atau Syekh Nawawī. Tokoh ini dilahirkan di sebuah desa Tanara, kecamatan Tirtayasa, (sekarang di kampung Pesisir, desa Pedalaman keamatan Tanara berhadapan Masjid Jāmi Syekh Nawawī Bantan) Kabupaten Serang, Propinsi Banten, pada tahun 1815 Masehi bersamaan dengan 1230 H.

Ayahanda beliau bernama K.H. Umar ibn Arabi, merupakan seorang tokoh ulama di kampung Tanara. Dilihat dari silsilah ayah beliau, Syekh Nawawī al-Bantanī merupakan keturunan yang ke-12 daripada Mawlana Sharīf Hidayatullah (Sunan Gunungjati). Keturunan ini mempunyai hubungan nasab dengan putera Mawlana Hasanuddin, Sultan Banten yang pertama.[3] Sementara silsilah Syekh Nawawī daripada pihak ibu yang bernama Zubaydah, juga dikatakan mempunyai hubungan dengan keluarga sultan Banten dan Sunan Gunungjati juga.

Kitab Tanqih al-Qawl dalam bahasa Arab merupakan syarah kepada kitab Lubab al-Hadith karya al-Imam Jalāl al-Dīn al-Suyūti. Ditemui juga sebuah syarah kitab Lubab al-Hadith dalam bahasa Melayu oleh Syekh Wan Ali bin Abd al-Rahman Kutan al-Kalantani berjudul; al-Jawhar al-Mawhub. Kedua tokoh ini hidup sezaman di Mekah al-Mukarramah.
Kandungan kedua sharah yang ditulis oleh kedua tokoh berkenaan sangat jauh berbeda. Syarah Syekh Nawawī al-Bantani, memperjelaskan kepentingan “isnad”, justru setiap hadith kitab Lubab al-Hadith diberi penilaian menurut kaedah “Mustalah al-Hadith” kecuali sedikit. Syarah Syekh Wan Ali Kutan Kelantan pula, lebih fokus kepada tarbiyah akhlak dan amalan harian. Dalam kitab Tanqih al-Qawl ini, Syekh Nawawī al-Bantanī menjelaskan bahwa kitab lubab al-hadith berlaku perubahan pada lafaz dan terpadam karena tiada yang mensyarahkan kitab ini sebelumnya, sedangkan kitab lubab al-hadith ini menjadi rujukan masyarakat di Jawa. Al-Bantani turut meluahkan keluhannya terhadap pandangan setengah golongan yang meremehkan kandungan hadis-hadis dhaif kitab lubab al-hadith. Oleh itu beliau menulis kitab ini agar kitab ini tidak ditinggalkan begitu saja tetapi ia hanya boleh menjadi rujukan dan bacan karena hadis dhaif menurut jumhur ulama adalah boleh digunakan hujjah dalam fadail al-amal sebagaimana dijelaskan Ibn Hajar dalam Tanbih al-Akhyar dan oleh Imam Nawawi dalam Sharh al-Muhadhab.

Sheikh Mahfuz At-Tarmasi

Ulama yang berasal dari Termas ini menghasilkan beberapa kitab dalam bahasa Arab, karyanya dalam bentuk yang tebal. Nama lengkapnya ialah: Sheikh Muhammad Mahfuz ibnu al-’Allamah al-Haji Abdullah ibnu al-Allamah al-Haji Abdul Mannan at-Tarmasi. Lahir tahun 1285 H/1868 M di Termas, Jawa Tengah. Dalam karyanya judul Kifayatul Mustafid lima ‘Ala minal Asanid, disingkat Kifayatul Mustafid membicarakan berbagai-bagai sanad. Pada halaman 10 sehingga halaman 19, khusus membicarakan sanad-sanad ilmu hadis mulai beliau, gurunya, hingga kepada yang lebih atas.Mengenai Al-Jami’ Shahih Bukhari pula, beliau khatam sebanyak empat kali, belajar kepada beberapa ulama dengan sanad yang berbeda-beda. Beliau pelajari hadis tersebut kepada Saiyid Abu Bakar Syatha (1266 H/1849 M-1310 H/1892 M), melalui sanad Saiyid Ahmad bin Zaini Dahlan (1231 H/1815 M-1304 H/1886 M) hingga sampai kepada Imam Bukhari. Kitab hadis yang sama beliau belajar kepada Saiyid Husein ibnu Saiyid Muhammad al-Habsyi. Saiyid Husein al-Habsyi belajar kepada ayahnya Saiyid Muhammad bin Saiyid Husein al-Habsyi melalui sanad Sheikh Umar bin Abdul Karim bin Abdur Rasul al-Athar hingga sampai kepada Imam Bukhari. Beliau juga belajar kitab Shahih Muslim, Sunan Ibnu Majah, Musnad Imam Abi Hanifah, Musnad Imam Syafi’ie, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, Mukhtasar Abi Jamrah, Asy-Syifa’, Al-Arba’un an-Nawawiyah, Asy-Syamail juga kepada Saiyid Abu Bakar Syatha yang tersebut. Sunan Abi Daud dan Muwaththa’ Imam Malik kepada Saiyid Muhammad Amin Ridhwan al-Madani di Madinah.Sunan Tarmizi dan Sunan Nasai. kepada Sheikh Muhammad Sa’id Babshail, dan lain-lain yang belum disebutkan. Semua penerimaan ilmu hadis itu dibicarakan dengan sanad sampai kepada pengarang sesuatu kitab itu, sanad-sanad itu ada yang sama dan ada yang berbeda-beda pengambilannya. Karya Sheikh Muhammad Mahfuz Termas tentang hadis yang agak besar ialah Manhaj Zawin Nazhar, yang pernah dicetak berkali-kali di Mekah dan Surabaya.

Sheikh Utsman Pontianak

Nama lengkap beliau ialah Sheikh Utsman bin Syihabuddin al-Funtiani al-Banjari, merupakan salah seorang ulama yang berasal dari Pontianak, berketurunan ulama Banjar, yang juga menghasilkan beberapa buah karangan. Karangan beliau mengenai hadis ialah Irsyadul ‘Ibad Penjaga Dan Bekal Hari Akhirat, disingkat Irsyadul ‘Ibad, yang diselesaikan tahun 1324 H/1906 M, juga dicetak dalam tahun itu oleh Matba’ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah. Kitab tersebut adalah terjemahan daripada kitab Munabbihat ‘alal Isti’dadi li Yaumil Ma’ad karya Sheikh Ibnu Hajar al-’Asqalani. Irsyadul ‘Ibad merupakan terjemahan secara lengkap kitab tersebut yang dilakukan oleh Sheikh Utsman Pontianak, kitab yang sama pernah diterjemahkan oleh Sheikh Ahmad al-Fathani tetapi hanya dipilih beberapa hadis saja. Pilihan hadis dari kitab Sheikh Ibnu Hajar al-Asqalani oleh Sheikh Ahmad al-Fathani itu dimuat pada beberapa halaman Hadiqatul Azhar. Kitab yang sama juga pernah dibahas oleh Sheikh Nawawi al-Bantani yang diberi judul Nashaihul ‘Ibad yang telah dibicarakan sebelumnya.

Syekh Yasin Al Fadani

Syaikh Yasin Al-Fadani adalah se­orang alim kaliber dunia yang memiliki sum­bangsih melimpah bagi keilmuan Islam, khususnya dalam upaya meles­tarikan tradisi pakar hadits dalam ber­buru sanad ‘ali (sanad tertinggi), hingga beliau dijuluki “Musnid Ad-Dunya” (Pakar Sanad Sejagat). Syaikh Yasin Al-Fadani berhasil menjadi muara sanad hadits dan disiplin ilmu lainnya pada masa itu.

Pada tahapan berikutnya, eksplorasi atas keilmuannya tampak pada sekian karyanya yang diduga mencapai ratusan buah. Tentang karya-karya ini, Al-‘Allamah Sayyid Saggaf bin Muhamad As-Saggaf, seorang tokoh ulama Hadhramaut, me­muji Al-Fadani dengan sebutan “Suyu­thiyyu zamanih” (Imam Suyuthi di masa­nya), lantaran senarai karyanya yang demikian banyak.

Karya-karyanya yang monumental dalam bidang hadits, diantaranya:

Pertama, Fathul ‘allam  Syarah dari kitab Hadist Bulughul Maram
Kedua, Ad Durr Al-Madhud fi Syarah Sunan Abu Dawud 20 jilid

KH. Muhajirin Amsar

Ketua Bidang Pelatihan Institut Bukhari Yunal Isra,  menyebutkan setidaknya ada tujuh ulama hadits nusantara yang dikenalkan kepada santri Darur-Rahman, diantaranya adalah KH. Muhajirin Amsar,  Ulama yang satu ini produktif menulis. Ia telah menghasilkan karya tulis lebih dari 38 kitab, semuanya berbahasa Arab. Yang paling terkenal kitab Fiqh-hadits, Mishbah azh-Zhulam, delapan jilid, merupakan syarah (penjelasan) kitab Bulugul Maram karya Ibnu Hajar al-Asqolani.

(bersambung..insya Allah)

Source: moelyhadjati.blogspot.co.id & pustakapejaten, dll

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s