SELAMATKAN, JAGA & LESTARIKAN KITAB-KITAB KARYA ULAMA NUSANTARA

Posted: Oktober 17, 2016 in KHAZANAH ISLAM, KITAB KARYA ULAMA NUSANTARA, SUNNAH - ADAB & NASIHAT
Tag:,
DIGITAL CAMERA

Pic by: bukoe.com

Mari Selamatkan Karya Ulama Indonesia

Sepanjang abad ke-17 hingga ke-20, Indonesia memiliki ulama-ulama besar yang berkiprah di kancah internaional. Beberapa di antara mereka ada yang pernah didaulat menjadi mufti madzhab Syafi’i di Masjidil Haram, Makkah, seperti Syeikh Ahmad Khatib al-Minankabawi. Ada juga yang menjadi guru besar dewan fatwa di Al-Azhar Mesir, seperti Syeikh Muhammad Nawawi ibn Umar al-Bantani. Di antara mereka juga ada yang menjadi mata rantai sanad hadits pada zamannya (musnid al-‘ashr), seperti Syeikh Muhammad Mahfuzh at-Termasi dan Syaikh Muhammad Yasin ibn Isa al-Fadangi. Dan bahkan ada juga yang menjadi penyebar awal Islam di Afrika Selatan, seperti Syeikh Yusuf al-Makassari.

Para ulama ini menulis beberapa kitab dengan bahasa Arab yang hingga sekarang masih dijadikan rujukan di beberapa perguruan tinggi internasional, utamanya di Timur Tengah. Karya para ulama Indonesia atau Nusantara, baik yang telah berupa cetakan atau masih dalam bentuk manuskrip atau tulisan tangan (makhthûthâth), jumlahnya sangat besar. Salah satu sumber dari Aceh menyebutkan, khusus karya ulama di Aceh sebelum terjadinya tsunami saja diperkirakan mencapai 10.000 naskah.

Karya-karya ulama-ulama lainnya tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia seperti Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banjarmasin, Palembang, Makassar, Gowa, Bone, Lampung, dan seterusnya. Tokoh-tokoh ulama besar Nusantara yang memiliki karya-karya fenomenal yang menyebar di berbagai wilayah nusantara tersebut dapat disebutkan beberapanya, seperti: Syeikh Abdurrauf al-Sinkili, Syeikh Nuruddin al-Raniri, Syeikh Syamsuddin Al-Sumatrani, Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syeikh Muhammad Nafis Al-Banjari, Abdusshamad Al-Palimbani, Syekh Nawawi Al-Bantani, Syeikh Yasin Al-Padangi, Kyai Ihsan Jampes, Syeikh Mahfudh Termas, Kyai Soleh Darat Al-Samarangi, hingga Kyai Mutamakkin.

Besarnya jumlah karya ulama Nusantara ini di satu sisi merupakan kekayaan khazanah intelektual yang diwariskan kepada kita, generasi penerus. Di Sisi lain, turâts yang sangat kaya ini mengharuskan kita untuk tidak sekedar memelihara, tetapi akan lebih baik jika dipelajari, dikaji, dan ditelaah secara ilmiah serta dijadikan discource intelektual Islam Indonesia.

Gerakan penyelamatan dan pengumpulan naskah-naskah karya ulama Indonesia lalu menjadi penting dilakukan. Ini mengingat banyaknya manuskrip karya ulama dan intelektual Muslim Indonesia yang tercecer dan berserakan di mana-mana. Padahal, tidak sedikit naskah yang ditulis para ulama dan intelektual Nusantara menjadi referensi akademik secara internasional.

Karena itulah kegiatan tahqîq terhadap karya-karya ulama Indonesia atau Nusantara menjadi penting untuk diselnggarakan. Kegiatan Tahqîq ini sendiri diklasifikasi menjadi dua kategori, yaitu Pertama, Tahqîq Naskah, yaitu kajian atau pembetulan karya tulis ulama yang umumnya masih berupa makhthûthâth atau manuskrip serta ditulis lebih dari satu orang, dan antara satu dengan lainnya tidak selalu sama hasilnya. Kedua, Tahqîq Al-Manhâj, yakni pembetulan metodologis dalam pembelajaran bidang studi atau suatu kitab yang dinilai kurang efektif. Untuk melaksanakan tahqîq ini harus didasarkan pada manuskrip atau makhtûthâth asli yang berupa tulisan tangan, dan bisa beberapa manuskrip atau makhtûthâth.

Beberapa tahun lalu, tepatnya 2007 kegiatan Tahqîq ini telah dimulai di Indonesia, dengan dipelopori oleh Departemen AgamaRI. Sejak itu beberapa naskah karya ulama Indonesia telah coba ditahqîq. Di antara kitab-kitab yang telah ditahqîq tersebut adalah: (1) Karya Nawawi al-Bantani dalam bidang Tafsir, Marah Labid. (2) Karya Kyai Ihsan Jampes dalam bidang Tasawuf, Sirâj At-Thâlibîn. (3) Karya Kyai Soleh Darat Semarang dalam bidang Tasawuf, Minhâj Al-Atqiya. (4) Karya Kyai Mahfudz Termas dalam bidang Hadits,; Al-Khil’ah Al-Fikriyah dan Manhâj Dzawin Nadhar. (5) Karya Kyai Ihsan Jampes dalam bidang Fiqh; Manâhij Al-Imdâd dan Fiqh Siyasah/ (6) Karya Sayyid Utsman Betawi dalam bidang Fiqh, Al-Qawânîn Asy-Syar’iyyah. Sumber lain menyebutkan bahwa hingga kini, kegiatan tahqîq terhadap karya-karya ulama Indoensia telah berhasil mengumpulkan ribuan halaman dari beberapa kitab karya ulama. Pada tahun 2007 sebanyak 4.000 lembar yang terangkum dalam 11 judul kitab. Sementara di tahun 2008, sebanyak 3.500 lembar yang terangkum dalam 10 judul kitab. Antara lain karya Syekh Yasin Al-Padangi, Syekh Nawawi Al Bantani dan Syekh Mahfudz At Tirmasi. Masih banyak lagi karya, naskah atau manuskrip yang belum ditahqiq. Siapa berikutnya yang mau ambil bagian?

Ali Mursyid, Dosen Fakultas Ushuluddin IIQ Jakarta

***

Kitab Karya Ulama Nusantara Dibajak Penerbit Timur Tengah

Pada saat peringatan Maulid, tiga tahun silam, sejumlah pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam bertandang enam hari ke Mali, Afrika Barat. Antara lain, Said Agil Siradj (Nahdatul Ulama), Dahlan Rais (Muhammadiyah), dan Tuty Alawiyah (Majelis Ulama Indonesia). Mereka mendatangi Timbuktu, kota pusat studi Islam dan sentra bisnis, di negara berpenduduk 90% muslim itu.

Suatu petang, Said Agil berpisah dari rombongan. Berkelana sendiri, berziarah ke kuburan para tokoh perintis Islam setempat. Doktor tasawuf lulusan Universitas Ummul Qura, Mekah, ini juga berdialog dengan penduduk sekitar untuk menyelami tradisi keagamaan yang berkembang.

Perhatiannya tiba-tiba tersedot pada aktivitas pengajian kitab kuning di masjid terdekat. Yang bikin Said Agil merinding, materi pengajian mingguan itu adalah kitab tasawuf, Sirajut Thalibin (lentera kaum pelajar). Said amat mengenal kitab setebal seribuan halaman dan terbagi dua jilid itu.

Usai pengajian, Said bertanya pada pengajar pengajian, “Tahukah Anda, siapa pengarang kitab ini?” Tentu gampang dijawab. Penulisnya tertera jelas di sampul kitab: “Syaikh Ihsan Muhammad Dahlan Al-Jampasi Al-Kadiri”. “Melihat namanya, beliau mungkin dari Irak, keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, tokoh Tarekat Qadiriyah,” kata imam masjid itu.

Sembari tersenyum, Said meluruskan, “Al-Kadiri itu nama kota di Indonesia. Aslinya Kediri, di Jawa Timur.” Said sendiri pernah nyantri ke Kediri, di Pesantren Lirboyo. Ulama Mali itu pun terkesima, ternyata ada kitab terkemuka yang disusun ulama dari luar Timur Tengah.

***

Tidak hanya di Afrika Barat, kitab itu juga kondang di Timur Tengah. Seperti pusat pendidikan di Mesir dan Arab Saudi. Sirajut Thalibin adalah elaborasi (syarah) atas Kitab Minhajul Abidin (panduan ahli ibadah), karya ulama ternama Al-Ghazali.

Di Mali, kitab Sirajut Thalibin masih tertulis dengan pengarang Ihsan Jampes (1901-1952). Di Indonesia dan beberapa negara Timur Tengah, kitab itu selama puluhan tahun juga dikenal sebagai karya Ihsan Jampes.

Tapi dalam versi terbitan Darul Kutub Al-Ilmiyah (DKI), Beirut, Lebanon, tahun 2006, kitab yang sama dicantumkan pengarang berbeda. Yakni, Syeikh Ahmad bin Zaini Dahlan (1816-1886), ulama terkenal di Mekah, guru Syeikh Nawawi Banten (1813-1897).

Bukan hanya nama pengarang diganti, kata pengantar dari KH Hasyim Asy’ari (1875-1947), pendiri Nahdatul Ulama, juga dihilangkan. Manipulasi kekayaan intelektual itu jadi bahasan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Senin, 7 September lalu, berlangsung rapat khusus dipimpin Rais Syuriyah PBNU, KH Hafidz Usman. Dihadiri keluarga Ihsan Jampes: KH Irfan Masruchin (cucu), KH Amin (menantu), dan Hj. Nusoiziyah Ihsan (putri bungsu). Keluarga menyerahkan mandat pada PBNU untuk menyelesaikan.

Keberadaan Kiai Hasyim sebagai pengantar memiliki latar sejarah tersendiri. Menurut Irfan Masruchin, awalnya, Kiai Hasyim juga menulis syarah atas karya Al-Ghazali, Minhajul Abidin, dalam rangka sayembara yang diselenggarakan Raja Mesir.

Ketika menyelesaikan satu bab, Kiai Hasyim mengetahui, Ihsan Jampes –yang lebih muda 26 tahun– telah menyelesaikan tuntas satu kitab. Ihsan diajak pula ikut sayembara, tapi menolak.

”Beliau tulus ingin membuat kitab untuk pendidikan,” kata Irfan Masruchin, sebagaimana dilaporkan wartawan Gatra Jefira Valianti. Sebagai penghargaan, Kiai Hasyim menuliskan pengantar singat atas karya Ihsan. Dalam pengantarnya, Kiai Hasyim memaparkan ilmu tasawuf sebagai ilmu pokok. Dan ilmu lainnya hanya cabang.

”Kitab ini salah satu karya terbaik di bidang tasawuf,” tulis Kiai Hasyim saat memuji karya Ihsan Jampes, yang ia gelari sebagai ulama berwawasan luas dalam bagai lautan (bahrul fahamah).

Sirajut Thalibin terbit pertama tahun 1950 oleh Penerbit Nabhan, Surabaya. Tahun 1955, diterbitkan Al-Babi Al-Halabi, Mesir. Kedua penerbit itu mendapat izin Ihsan Jampes.

Empat dasawarsa berikutnya, 1990-an, kitab itu diterbitkan Darul Fikr, Lebanon. Kali ini tanpa izin Ihsan atau ahli warisnya. Tahun 2006, bukan hanya izin penerbitan yang diabaikan DKI, nama pengarangnya pun diganti.

”Kami tidak menuntut sepeser pun royalti karena kami sangat menghargai niat Syekh Ihsan ketika berkarya, murni demi pendidikan,” kata Irfan dalam rapat di PBNU. ”Kami hanya menuntut permohonan maaf serta menarik kitab dari peredaran.”

Menurut Said Agil Siradj, dunia penerbitan di Lebanon sudah lama dikeluhkan para penulis. Mereka biasa menerbitkan karya tanpa izin penulis. ”Banyak orang sudah paham, bagaimana mafia penerbitan di Lebanon,” kata Said, yang 13 tahun kuliah di Arab Saudi.

Tapi tahun ini, UNESCO menetapkan Beirut sebagai World Book Capital. Capaian itu mengikuti delapan kota lain yang mendapat penobatan serupa. Seperti Madrid (2001), Alexandria (2002), New Delhi (2003), Anterp (2004), Montreal (2005), Turin (2006), Bogota (2007), dan Amsterdam (2008).

***

Empat hari setelah pertemuan di PBNU, pada Jum’at, 11 September lalu, Ketua NU Cabang Istimewa Lebanon, Zainal Aziz, berhasi menemui Direktur DKI, Mohamed Ali Baydoun. Semula, saat ditunjukkan pemberitaan di Indonesia tentang pembajakan, Baydoun marah.

”Orang Arab memang gampang marah. Kata pembajakan dinilai berlebihan,” kata Zainal. Baydoun menyatakan, perusahaannya selalu tanggap terhadap komplain. Tapi bila dikatakan pembajak, ia keberatan. Zainal bersikukuh, langkah penerbit ini tak bisa ditoleransi.

”Negara kami bisa bersitegang dengan tetangga hanya karena sebuah lagu tradisional kami yang tidak jelas pengarangnya diklaim,” kata Zainal. ”Sementara kitab ini jelas pengarangnya. Ini bisa mempengaruhi hubungan bilateral,” lanjutnya. Zainal mengingatkan, kalau kasus ini membesar, juga bisa merusak reputasi Beirut sebagai World Book Capital.

Baydoun kemudian menjelaskan asal mula penggantian nama pengarang tadi. Dikatakan, sepuluh tahunan silam, ada e-mail ke penerbit, mengoreksi Kitab Sirajut Thalibin bahwa pengarangnya bukan Ihsan Jampes, tapi Ahmad Zaini Dahlan.

Merujuk e-mail itu, penerbit mengubah nama pengarang. Zainal Aziz merasa cerita itu ganjil. ”Sebegitu mudah mengubah pengarang. Sementara Baydoun tak kenal pengirim e-mail dan apa relevansinya,” kata Zainal.

Dengan dalih konsisten tanggap atas komplain, Baydoun mengaku sudah lebih dulu menerima e-mail dari Indonesia yang memprotes terbitan kitab ini. Ia lantas membentuk tim verifikasi. Diperoleh kesimpulan, Sirajut Thalibin memang karya Ihsan Jampes.

Maka penerbit menghentikan produksi edisi lama dan mencetak edisi revisi dengan mencatumkan nama Ihsan Jampes. Zainal Aziz diajak melihat langsung percetakan. ”Saya memang melihat, nama Syeikh Ihsan sudah dikembalikan,” kata Zainal. ”Tapi pengantar Kiai Hasyim belum masuk.”

Zainal mendesak pengantar itu dicantumkan. Tapi staf ahli Baydoun berpendapat, pengantar itu tak penting. Zainal berang. ”Kalau Anda tahu siapa Kiai Hasyim, Anda akan sadar, pengantar itu sangat penting,” kata Zainal. ”Beliau pendiri organisasi Islam dengan 80-an juta anggota. Bandingkan dengan penduduk Lebanon yang hanya empat juta.”

Tanpa banyak pertimbangan, Baydoun pun memerintahkan stafnya memasukkan kembali pengantar Kiai Hasyim. Baydoun lantas menulis surat permintaan maaf ke PBNU, dan berkomitmen menarik peredaran kitab yang masih memungkinkan ditarik.

Baydoun juga siap ke Indonesia, untuk minta maaf langsung pada keluarga Ihsan Jampes. ”Saya sarankan, ia datang saat Muktamar NU Januari nanti,” kata Zainal.

Selesai urusan dengan penerbit DKI, Zainal menemukan perkara lain dengan Darul Fikr. Pada terbitan 2005, penerbit yang populer di pesantren Indonesia ini juga menerbitkan Sirajut Thalibin, menempatkan Ahmad Zaini Dahlan sebagai pengarang.

Uniknya, yang diubah hanya sampul luar. Padahal di dalamnya masih ada pengantar Kiai Hasyim yang menyebut kitab itu karya Ihsan Jampes. Di Timur Tengah, nama Ahmad Zaini Dahlan amat populer.

”Penerbit pada memakai nama dia, saya kira pertimbangan pasar,” kata Zainal. Padahal, pada biografi singkat Ahmad Zaini Dahlan dalam pengantar Sirajut Thalibin, tak satupun menyebut ada karyanya yang berjudul Sirajut Thalibin.

Ia memang punya karya berkaitan dengan Kitab Al-Ghazali, Minhajul Abidin, bukan elaborasi (syarah) atas kitab tersebut, sebagaimana dilakukan Ihsan Jampes lewat Sirajut Thalibin. Sebaliknya, Ahmad Zaini Dahlan hanya membuat ringkasan (talkhish) atas karya Al-Ghazali itu.

Asrori S. Karni
Majalah Gatra edisi 47 / XV, 7 Oktober 2009

***

PBNU Akan Digitalisasi 2000 Kitab Karya Ulama dari Aceh Hingga Papua

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tengah menyiapkan digitalisasi manuskrip dan kitab-kitab karya para ulama NU yang telah dikumpulkan dari Aceh hingga Papua. Tujuannya, agar karya ulama terdahulu itu tak hilang ditelan zaman.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj mengatakan, gagasan dirinya yang kemudian dipimpin Imam Pituduh dalam ekspedisi nusantara telah berhasil mengumpulkan karya-karya para ulama sepuh dari berbagai penjuru Tanah Air.

“Lebih dari 2.000 manuskrip kitab-kitab ulama yang masih tulisan tangan,” kata Said Aqil Siradj saat menjadi penceramah dalam Haul ke 46 KH Moch Yahya di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Gadingkasri, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu 31 Juli 2016.

Sejauh ini, kata Said, PBNU telah melakukan kesepakatan bersama (MoU) dengan perusahaan untuk digitalisasi manuskrib tersebut. “Nanti bisa dibaca oleh masyarakat via handphone,” kata dia.

Sementara itu ditempat terpisah dalam rangka meramaikan pagelaran 1 abad berdirinya Madrasah Qudsiyyah Kudus, pihak panitia pagelaran bekerja sama dengan Yayasan Turats Nusantara membuka Pameran Kitab Ulama Nusantara pada 1-3 Agustus 2016, di kompleks Madrasah Aliyyah setempat, kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Dari 200 kitab yang dipamerkan oleh pihak penyelenggara,ada beberapa kitab legendaris dari berbagai generasi ulama Nusantara. Seperti karya Syaikh Yasin al-Fadani,Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Mahfudh at-Tarmasi, KH Soleh Darat, KH Sahal Mahfudh, KH Maimoen Zubair dankarya-karya lain.

Melansir dari NU Online, menurut ketua penyelenggara Nanal Ainal Fauz, pihak dari Yayasan Turats Ulama Nusantara sebenarnya sudah mengumpulkan kurang lebih 400 kitab yang ditulis oleh ulama dari berbagai generasi dan daerah di kepulauan Nusantara.

“Melihat situasi dan kondisi kita hanya memamerkan 200an kitab saja,” kata Nanal

Kitab legendaris ulama Nusantara yang diakan dipamerkan di antaranyamanuskrip kitab Kifayatul Mustafid li Maa ‘Alaa min al-Asanid karya Syaikh Mahfudh at-Tarmasi Pacitan. Meskipun penyalinnya bukan Syaikh Mahfuzh Sendiri, namun manuskrip ini disalin sebelum tahun 1332 H, yang berarti berusia sekitar 95 tahun.

Kitab Sabilul Muhtadin karya Syaikh Arsyad al-Banjari yang merupakan kitab berbahasa melayu yang sangat populer di kalangan santri, khususnya di Kalimantan. Ada pula Sirojuth Tholibin karya Syaikh Ihsan Jampes, yakni kitab syarah Minhajul Abidin milik Imam Ghazali.

Lalu kitab yaitu al-Hasyiyah al-Martiyyah ‘Ala al-Badri ath-Thali’ syarh Jam’il Jawami’. Kitab ushul fiqh monumental yang disusun oleh KH Miftah bin Ma’mun Marti Cianjur ini merupakan komentar panjang atas kitab Jam’il Jawami’ karya Imam As-Subki.

Ada juga kitab Mandhumat Mu’jam Nahwi, nadhamat (syair) bidang ilmu Nahwu yang tersusun dari 8465 bait ber-baharRajaz. Ini adalah karya Syaikh KH Muhammad Muhibbi bin al-Hamzawi, Kajen, Pati.

Menariknya ada manuskrip risalah atau catatantentang diskusi terkait hasil keputusan Muktamar NU di Menes Banten yang disusun KH Raden Asnawi yang dipersembahkan kepada KH Hasyim Asy’ari yang ditemukan menyelip kitabSyarah Tajul Arusy di perpustakaan pribadi milik KH Hasyim Asya’ari sendiri.

Lain lagi manuskrip kitab al-Manhajul Qawim yang sudah berusia 200 tahun, disalin oleh salah satu ulama Nusantara. Uniknya, dalam manuskrip ini sudah dibubuhi makna pegon ala pesantren.

Nanal berharap dari pameran kitab ulama Nusantara ini bisa membaca keadaan zaman ini dengan kacamata ulama Nusantara tempo dulu. “Kita juga bisa membandingkan era kita dengan era ulama terdahulu dari kitab-kitab mereka,” pungkas santri asal Demak itu

Source: iiq.ac.id, bukoe.com & satuislam.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s