TARJUMAN AL-MUSTAFID; KARYA TAFSIR AL-QUR’AN PERTAMA & TERTUA DI NUSANTARA

Posted: Oktober 17, 2016 in KHAZANAH ISLAM, KITAB KARYA ULAMA NUSANTARA, KONTRIBUSI ULAMA ASWAJA, TAFSIR & QOUL ULAMA
Tag:,
tarjuman-al-mustafid

Pic by: islamnusantara.web.id

Salah satu warisan intelektual Islam di Nusantara pra-modernisme yang perlu mendapat apresiasi secara memadahi adalah dalam bidang penulisan tafsir al-Qur’an. Tercatat kitab Tarjuman al-Mustafid karya seorang ulama besar di abad ke-17 bernama Syaikh Abdur Rouf al-Sinkili (1615-1694), dipandang sebagai kitab tafsir yang pertama secara lengkap menafsirkan 30 juz dan yang sampai kepada kita. Rujukan utama penulisan kitab tersebut adalah Tafsir al-Jalalayn karya dua Jalal (Jalaludin al-Suyuthi dan Jalaludin al-Mahhli), disamping Tafsir al-Khazin karya Imam al-Baidawy.

Abdul Rouf al-Sinkili (Aceh) dan Tafsir Tarjuman al-Mustafid

Nama lengkapnya adalah Abdul Rauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri al-Sinkili, sebagaimana terlihat dari namanya, ia adalah seorang melayu dari daerah Fansur, Sinkil (baca: al-Sinkili), di wilayah Pantai Barat laut Aceh. Tahun kelahirannya tidak diketahui, tetapi Rinkes setelah mengadakan kalkulasi ke belakang dari saat kembalinya dari Timur Tengah ke Aceh, menyimpulkan bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 1615 M.

Mengenai latar belakang keluarga al-Sinkili, dijelaskan oleh A. Hasjmi, nenek moyang al-Sinkili berasal dari Persia yang datang ke Kesultanan Samudra Pasai pada akhir abad ke-13 M. Mereka kemu-dian menetap di Fansur (Barus), sebuah kota pelabuhan tua yang penting di pantai Sumatra Barat, dan ayah al-Sinkili adalah kakak laki-laki dari Hamzah Fansuri.

Al-Sinkili mendapatkan pendi-dikan awalnya di desa kelahirannya, terutama dari ayahnya sendiri. Menurut Hasjmi, ayahnya adalah seorang ‘alim yang juga mendirikan madrasah yang menarik murid-murid dari berbagai tempat di Kesultanan Aceh. Juga sangat mungkin dia melanjutkan pendidi-kannya di daerah Fanshur, sebab seperti diketahui, negeri itu adalah pusat Islam penting dan merupakan titik penghubung antara orang Melayu dan kaum muslim di Asia Barat dan Asia Selatan. Al-Sinkili belajar di negerinya sendiri, terutama dari ayahnya sendiri dan ulama-ulama setempat hingga sekitar tahun 1642. Karena sejak tahun tersebut al-Sinkili mengem-bara ke tanah Arab untuk menda-patkan pengetahuan agama.

Di tanah Arab selama 19 tahun al-Sinkili belajar agama kepada tidak kurang dari 15 orang guru, 27 ulama terkenal, dan 15 tokoh mistik kenamaan di Jeddah, Makkah, Madinah, Bait al-Faqih dan lain-lain. Akan tetapi dari sekian guru, nampak Ahmad al-Qushashi-lah yang amat berpengaruh bagi al-Sinkili sebagai guru spiritualnya. Dari al-Qushashi ia mempelajari apa yang dinamakan ilmu batin, yakni ilmu-ilmu tasawuf dan ilmu-ilmu yang terkait dengan-nya. Sampai ia mendapatkan ijazah untuk menjadi khalifah dalam tarekat Syattariyah dan Qodiriyah. Setelah al-Qushashi meninggal pada tahun 1660, al-Sinkili kemudian melanjutkan pendidikan-nya kepada Ibrahim al-Kurani (w. 1690), dan memperdalam berbagai pengetahuan agama selain ilmu tasawuf. Dengan bekal pengeta-huannya ini, Abdurrouf al-Sinkili menjadi seorang ulama yang mumpuni baik dalam ilmu batin, yakni tasawuf maupun dalam ilmu lahir tafsir, fiqh, hadits dan lain-lainnya. Perpaduan antara ilmu lahir dan ilmu batin itu sangat mewarnai corak keilmuan al-Sinkili, yakni ia sangat menekankan adanya perpaduan anatara syariat dan tasawuf atau dalam istilahnya sendiri antara ilmu lahir dan ilmu batin. Al-Sinkili kembali ke Aceh sekitar tahun 1661, yakni setahun setelah Ahmad al-Qushashi meninggal dunia. Pandangan-padangan keagamaanaya segera dapat merebut hati Syultanah Syafiyyatuddin, yang saat itu masih memerintah Kesultanan Aceh (1645-1675), dan kemudian mengangktanya sebagai Qadhi Malik al-Adil atau Mufti yang bertangungjawab terhadap masa-lah-masalah keagamaan.

Sebagai ulama yang mengu-asai berbagai ilmu keagamaan, al-Sinkili telah melahirkan berbagai karangan yang mencakup bidang fiqh, hadits, tasawuf, tafsir al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama lainnya. Karya tulis al-Sinkili yang bisa dikenali berjumlah 21 buah; sebuah di antaranya berbicara tentang tafsir, dua buah berbicara tentang hadits, tiga buah berbicara tentang fiqh, dan selebihnya masuk ke bidang tasawuf.

Dalam khazanah perpustakaan di Indonesia ditemukan ber­bagai terjemahan dan tafsir Al-Qur’an, baik dalam bahasa Indonesia atau Melayu- yang lebih dikenal dengan sebutan bahasa Jawi maupun dalam bahasa daerah seperti bahasa Jawa dan Sunda. Boleh jadi, yang pertama dan terlengkap adalah Tarjuman al-Mustafid karya seorang ulama besar di abad ke 17, bernama Syekh Abdur Rouf al-Sinkili yang juga seorang qadi kerajaan Aceh sekitar tahun 1641-1699.

Meski al-Sinkili tidak memberi-kan angka tahun untuk penyele-saian karya tafsirnya yang berjudul Tarjuman al-Mustafid itu, tidak ada keraguan bahwa dia menulisnya semasa karirnya yang panjang di Aceh. Dan sebagai tafsir paling awal, tidak mengherankan kalau karya ini beredar luas di wilayah Melayu-Nusantara. Bahkan edisi cetaknya, menurut Azyumardi Azra, dapat ditemukan di kalangan komunitas Melayu di tempat se jauh Afrika Selatan.

Salinan paling awal yang kini masih ada dari Tarjuman al-Mustafid menurut P. Riddell berasal dari abad akhir ke-17 dan awal abad ke-18. Yang paling penting lagi edisi-edisi tercetakknya diterbitkan tidak hanya di Singapura, Penang, Jakarta, dan Bombay, tetapi juga di Timur Tengah. Di Istambul, kitab tafsir ini diterbitkan oleh Matba’ah al-Utsmaniyah pada tahun 1884 (dan juga pada tahun 1906); dan dikemudian hari juga diterbitkan di Kairo oleh penerbit Sulaiman al-Maraghi, dan di Makkah oleh penerbit al-Amiriyah.

Kenyataan bahwa Tarjuman al-Mustafid diterbitkan di Timur Tengah pada masa yang berbeda-beda, mencerminkan nilai tingginya karya ini serta ketinggian intelektual dari al-Sinkili. Edisi terakhirnya diterbitkan di Jakarta pada tahun l981. Ini juga menunjukkan bahwa karya tafsir ini masih digunakan di kalangan kaum muslim Melayu-Indonesia pada masa kini.

Tujuan ditulisnya tafsir Tarju-man al-Mustafid adalah untuk memenuhi keperluan umat Islam di negeri ini karena mereka tidak dapat memahami bahasa Arab. Terjema-han yang ditulis dalam bahasa Melayu berbentuk tulisan Arab Pegon.

Karya tafsir al-Sinkili ini telah lama dianggap oleh para orientalis semata-mata sebagai terjemahan bahasa melayu karya al-Baidhawi : Anwar al-Tanzil. Snouck Hurgronje, misalnya, tanpa meneliti karya itu secara teliti, menyimpulkan dalam caranya yang khas dan sinis bahwa karya tersebut hanyalah sebuah terjemahan yang buruk dari Tafsir al-Baidhawi.

Tetapi menurut Salman Harun yang menulis disertasi berjudul Hakikat Tafsir Tarjuman Al-Mustafidz Karya Syekh Aburrouf Singkel, menyimpulkan bahwa Abdurrouf banyak menterjemah-kan tafsir al-Jalalain dengan mengandalkan penafsiran secara ijmali (global) dengan maksud lebih memudahkan pemahaman. Tentu saja tidak seluruhnya diterjemahkan oleh al-Sinkili, tetapi ada yang ditinggalkan. Unsur yang ditinggal-kannya ini adalah pengertian kata dan tata bahasa. Disamping itu, al-Sinkili juga meninggalkan riwayat-riwayat tentang asbab al-nuzulnya.

Dalam menerjemahkan Tafsir Jalalein ke bahasa Melayu, Abdur Rouf berusaha menjadikannya lebih mudah dipahami, misalnya dengan cara menghilangkan penjelasan-penjelasan makna yang berdasarkan linguistik yang menurut pendapatnya dapat mengalihkan perhatian pembaca-nya dari tujuan pokok. Lebih jauh lagi, Abduurauf juga tidak menerjemahkan penaf­siran-penafsiran panjang yang mungkin sulit dipahami oleh pembaca.

Tentang asal-usul rujukan dan mengapa kitab ini dinamakan Tarjuman al-Mustafid, Ismail Lubis26 memiliki analisis yang menarik. Menurutnya, karya ini sebenarnya lebih tepat dinamakan tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Melayu dengan menggunakan litera­tur Tafsir Al-Baidawiy dan Tafsir Jalalein. Hal ini dirasakan semakin tepat bila direnungkan makna dari nama yang diberi­kan oleh penulisnya, yaitu Tarjuman Al-Mustafid. Kalau dipi­kirkan lebih dalam, mengapa Abdurrauf masih menggunakan nama dalam bahasa Arab. Mengapa ia tidak langsung saja menggunakan nama dalam bahasa Melayu, “terjemahan yang berfaedah” misalnya, atau “terjema-han yang berguna” sebagai terjemahan dari kata Tarjuman al-Mustafid. Apabila nama Tarjuman al-Mustafid ini dikaitkan dengan kandungan makna tarjaman atau tarjuman, tentunya ada alasan memberi nama karya ini tafsir al-Qur’an dalam bahasa Melayu, yaitu pem­berian nama tarjuman oleh Nabi Muhammad s.a.w. kepada Ibnu Abbas padahal ia terkenal sebagai mufassir. Kata tarjuman sebagai ism fa’il (active participle) dalam hal ini telah diubah kedudukannya dari pelaku perbuatan untuk menyatakan suatu yang lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. Hubungan pertalian ini berupa penafsir untuk penafsiran. Dalam bahasa Arab pemakaian kata-kata seperti ini disebut majaz mursal dan dalam bahasa Indonesia disebut gaya bahasa metonimia.

Selain itu, P. Riddell, dalam telaah mereka, membuktikan secara meyakinkan, bahwa karya itu merupakan terjemahan bebas dari Tafsir al-Jalalain. Hanya pada bagian tertentu saja al-Sinkili memanfaat-kan Tafsir al-Baidhawi dan al-Khazin.28 Identifikasi ini penting bukan hanya untuk mengungkap-kan jalur penyebaran ilmu-ilmu Islam dari pusat-pusatnya, tetapi juga untuk menunjukkan kepada kita pendekatan yang digunakan oleh al-Sinkili dalam menyebarkan apa yang diterimanya dari gurunya dalam jaringan ulama kepada para pembacanya di wilayah Melayu-Nusantara.

Sebab, Tafsir Jalalain ditulis oleh dua orang Jalal, yaitu Jalaluddin al-Mahalli (w.1459 M.) dan Jalaluddin al-Suyuthi, sebagai tokoh utama yang kepadanya sebagian besar ulama Nusantara terkemuka dalam jaringan ulama melacak silsilah intelektual dan spiritual mereka. Pemilikan al-Sinkili atas tafsir ini sebagai sumber utama dari tafsirnya sendiri jelas sekali karena dia memiliki isnad-isnad yang menghu-bungkannya dengan Jalaluddin al-Suyuthi baik melalui al-Qushashi maupun al-Kurani. Setelah meneri-ma ijazah dari al-Kurani untuk menyebarkan semua ilmu yang telah diterimanya melalui serang-kaian perawi yang sambung-menyambung, yang mencakup al-Suyuthi, al-Sinkili dapat diharapkan bisa memilih Tafsir Jalalain dari pada tafsir-tafsir al-Qur’an lainnya. Argumen ini semakin masuk akal jika dipertimbangkan fakta, bahwa al-Sinkili juga mengambil Fath al-Wahhab karya Zakariya al-Anshari sebagai sumber utama bagi karya tulisnya dalam bidang fiqh yang berjudul Mir’ah al-Tullab.

Lebih jauh lagi, sebagaimana dikemukakan oleh Johns, meskipun tafsir Jalalain sering dianggap hanya sedikit memberi sumbangan kepada tradisi tafsir al-Qur’an, ia tetap bisa dipandang sebagai tafsir al-Qur’an yang sangat bagus, jelas dan ringkas. Lebih jauh lagi, dalam tafsir al-Jalalain juga terdapat uraian tentang asbab al-nuzul dari ayat-ayat dalam al-Qur’an sehingga bisa sangat membantu dari pemahaman yang lebih sempurna atas penafsiran yang dikemukakan. Dengan cirinya ini, Tafsir Jalalain merupakan teks pendahuluan yang sangat bagus untuk orang-orang yang baru mempelajari ilmu tafsir di kalangan umat Islam di wilayah Melayu-Indonesia. Dalam menerjemahkan Jalalaian ke dalam bahasa Melayu, al-Sinkili menjadikannya seseder-hana mungkin dan mudah dipahami orang Melayu pada umumnya. Lazimnya ia menerje-mahkan tafsir Jalalain kata perkata, dan menahan dirinya untuk tidak memberikan tambahan-tambahan dari dirinya sendiri. Dalam kaitan ini, menarik kita kutip ungkapan yang tertulis di bagian belakang sampul tafsir Tarjuman al-Mustafid sebagai berikut :

“Kami (Ahmad Fatoni, Indris Klantani dan Daud Fatani), mohon maaf kepada Imam al-Baidawy. Kami telah menemukan karya Anda diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, sesuai dengan aslinya, tidak ada tambahan, pengurangan dan penambahan, sebab yang menerjemahkan adalah Syaikh Abdur Rouf bin Syaikh Ali al-Fanshuri, salah seorang ulama besar dan terhormat ketika itu”.

Source: rasailmedia.com & islamnusantara.web.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s