TULISAN TANGAN & STEMPEL MILIK SYEKH NAWAWI BANTEN TERSIMPAN DI PERPUSTAKAAN MEKKAH

Posted: Januari 21, 2017 in KHAZANAH ISLAM, KITAB KARYA ULAMA NUSANTARA, KONTRIBUSI ULAMA ASWAJA, SUNNAH - ADAB & NASIHAT
Tag:

ijazah-dari-syekh-nawawi-banten-kepada-muridnya

Bagi saya, ini adalah manuskrip pusaka yang luar biasa. Manuskrip ini setidaknya kian memberikan jalan terang bagi keberadaan kitab tsabat dan sanad keilmuan (transmisi dan genealogi intelektual) milik Syaikh Nawawi Banten yang diduga hilang dan masih saya cari-cari keberadaannya.

Manuskrip ini sendiri merupakan ijazah (lisensi) yang diberikan Syaikh Muhammad Nawawî ibn ‘Umar al-Bantanî al-Jâwî tsumma al-Makkî (Syaikh Nawawi Banten, w. 1897) secara khusus untuk muridnya yang bernama Syaikh ‘Abd al-Sattâr ibn ‘Abd al-Ghanî al-Dihlawî al-Makkî, ulama besar hadits madzhab Hanafiyyah sekaligus “musnid al-dunyâ” pada zamannya asal India yang mukim di Makkah (w. 1936).

Manuskrip ini adalah tulisan tangan asli Syaikh Nawawi Banten, dan kini tersimpan di Perpustakaan Masjid al-Haram, Makkah al-Mukarramah, KSA, menyatu bersama kumpulan ijazah lainnya yang diberikan oleh para guru besar di Makkah untuk Syaikh ‘Abd al-Sattâr al-Dihlawî.

Dalam pembukaan, Syaikh Nawawi Banten menyebut Syaikh ‘Abd al-Sattâr al-Dahlawî sebagai “waladunâ al-ma’nawî” (anak spiritual)-nya. Al-Dahlawî telah meminta kepada “al-faqîr” (demikian Syaikh Nawawi Banten dengan rendah hati menyebut dirinya sendiri) untuk memberikannya lisensi (ijazah) atas semua kitab yang dikarangnya dan semua periwayatannya.

Dengan penuh kerendah hatian, Syaikh Nawawi menulis;

ولدنا المعنوي العالم الفاضل عبد الستار بن عبد الوهاب الهندي الشهير بالسكتي الصديقي الحنفي تغمد الله برحمته الجلي والخفي، سأل من الفقير أن أجيزه بجميع مروياتي لا سيما مؤلفات الحقير. مع أني ما أدي نفسي من فرسان هذا المجال وممن يعد مع هؤلاء الرجال

(anak maknawi kami, yang alim nan pemilik keutamaan, ‘Abd al-Sattâr putra ‘Abd al-Wahhâb al-Hindî yang masyhur dengan al-Siktî [?] al-Shiddîqî al-Hanafî, semoga Allah membanjirinya dengan kasih saying-Nya yang tampak dan samar. Beliau telah meminta kepadaku yang fakir ini untuk memberikannya ijazah atas semua periwayatanku dan khususnya semua karanganku yang hina ini. Padahal aku sama sekali tidak menganggap diriku sebagai seorang yang ahli dalam bidang pemberian ijazah ini).

Mengingat pentingnya sebuah legalitas serta nilai ijazah dan sanad dalam tradisi keilmuan Islam, Syaikh Nawawi Banten pun memberikan ijazah semua periwayatannya dan juga semua kitab karangannya kepada Syaikh ‘Abd al-Sattâr al-Dihlawî. Dengan adanya ijazah ini, Syaikh ‘Abd al-Sattâr al-Dihlawî berhak untuk mengajarkan dan meriwayatkan kitab-kitab karangan Syaikh Nawawi Banten kepada murid-murid al-Dihlawî. Al-Dihlawî juga menjadi boleh menyambungkan genealogi intelektualnya kepada guru-guru al-Bantanî.

Sebagaimana dituliskan oleh Nawawi;

لكن حفظا للسند وأداء للأمانة الى أهلها وجريا للعادة بالأخذ من المؤلفين اجازة المؤلفات. (؟) وذلك بعد الملازمة لتحصيل المطلوب

Keberadaan “sanad” (transmisi intelektual) dan ijazah (lisensi ilmiah) sangat penting dan menjadi hal yang utama dalam tradisi keilmuan Islam. Sanad menyambungkan seseorang dengan gurunya dalam jalur transmisi keilmuan, yang menyambung lagi dengan gurunya gurunya, terus sampai ke para Sahabat dan kepada Nabi Muhammad, tanpa putus seperti mata rantai.

Sementara ijazah adalah mandat, restu dan lisensi yang diberikan sang guru kepada sang murid untuk boleh meriwayatkan dan mengajarkan apa yang telah ia dapatkan dari gurunya itu.

Yang menjadi catatan penting, pemahaman “ijazah” di sini sama sekali bukan “selembar kertas ijazah tanda kelulusan dari sekolah atau perguruan tinggi yang kemudian digunakan untuk melamar pekeraan” yang galib difahami orang-orang Indonesia saat ini. Sama sekali bukan!

Di Nusantara, tradisi “sanad” dan “ijazah” ini masih benar-benar di jaga hingga kini di dalam lingkungan pesantren tradisional (NU). Ketika belajar di Pesantren Agung Lirboyo (Jawa Timur) dulu, setiap selesai mengkhatamkan sebuah kitab, guru saya pasti akan memberikan ijazah dan sanad atas kitab tersebut, yang akan menghubungkan genealogi intelektual saya, sambung menyambung tanpa putus, hingga ke pengarangnya.

Tradisi “sanad” dan “ijazah” ini, khususnya periwayatan, lebih sangat dijaga lagi dalam bidang keilmuan hadits. ‘Abdullâh ibn Mubârak, ulama besar hadits generasi awal (w. 797 M) berkata; “Sanad adalah bahagian dari agama. Jika saja tidak ada sanad, orang akan berkata apa saja yang ia kehendaki”.

Dalam manuskrip ini, Syaikh Nawawi Banten juga menyebutkan beberapa nama guru beliau yang dari mereka beliau mengambil transmisi intelektual. Mereka adalah Syaikh ‘Abd al-Hamîd al-Dâghastânî, Syaikh Ahmad al-Nahrâwî, Syaikh Yûsuf al-Sunbulâwainî, Syaikh ‘Umar al-Biqâ’î, dan Syaikh ‘Alî al-Rahbînî. Tampaknya, Syaikh Nawawi Banten tidak menyebutkan nama guru utamanya di sini, yaitu Syaikh Ahmad Zainî Dahlân.

Dari sini, titik terang menuju penelusuran genealogi intelektual Syaikh Nawawi Banten semakin terbuka. Kita harus menelusuri kitab-kitab sanad dan tsabat dari tokoh-tokoh yang disebutkan oleh Syaikh Nawawi di atas.

Di halaman akhir, disebutkan jika ijazah ini ditulis dan diberikan oleh Syaikh Nawawi Banten kepada Syaikh ‘Abd al-Sattâr al-Dihlawî pada tanggal 23 Rabî’ al-Tsânî tahun 1307 Hijri (bertepatan dengan 17 Desember 1889 Masehi).

Di sana, Syaikh Nawawi juga membubuhkan stempel pribadi miliknya. Bagi saya ini sangat luar biasa, karena bisa jadi ini adalah untuk pertamakalinya stempel milik Syaikh Nawawi Banten ditemukan dan dapat dilihat lagi oleh generasi abad ke-21 ini.

Bogor, Januari 2017
A. Ginanjar Sya’ban

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s