KENAPA MENGKAJI AL-QUR’AN & HADITS TIDAK BOLEH MENGANDALKAN TERJEMAHAN?

Posted: Mei 19, 2017 in SUNNAH - ADAB & NASIHAT

Oleh : Abdi Kurnia Djohan

Pertanyaan ini muncul sejak saya remaja. Dulu, bagi saya pertanyaan di atas seperti menghambat kebebasan berpikir dan lebih menegaskan hegemoni pengetahuan yang berujung kepada praktik pembodohan.

Pada usia 19 tahun hingga 26 tahun, saya mencoba mengikuti alur berpikir orang-orang yang mengkaji Al-Qur’an dan hadits dengan makna terjemahan.

Memang tampak mengagumkan. Bagaimana tidak, rangkaian hubungan ayat dengan ayat dapat dipaparkan dengan lugas hanya dengan melihat makna yang tertulis di dalam terjemahan. Tak pelak, hasil dari kajian terjemahan itu mendorong lahirnya sikap kritis. Kritis terhadap kondisi yang terjadi di sekitar dan kritis terhadap pemahaman orang-orang yang ada di sekitar.

Memahami Al-Qur’an dan hadits dari pendekatan terjemah mendorong pembacanya untuk masuk ke dalam realitas lain yang berada di dalam terjemah. Sebuah realitas ideal menurut mereka yang begitu mengagumi pemahaman terjemah. Realitas yang berbeda dengan realitas yang ada di sekitar.

Namun, setelah mengikuti alur pemikiran mereka yang mengajarkan Al-Qur’an dan hadits dengan mengandalkan terjemah, saya mulai meragukan keaslian pemikiran yang mereka klaim murni dari Al-Qur’an dan hadits.

Kenapa?

1. Ketika mereka mengatakan bahwa pemahaman masyarakat terhadap Islam itu keliru, tanpa disadari mereka pun tengah dihinggapi kekeliruan. Kekeliruan mereka terletak di dalam pemahaman terhadap Al-Qur’an yang sesungguhnya tidak mereka pahami.

Pertanyaan mendasar yang selalu saya lempar kepada mereka yang memahami Al-Qur’an dengan mengandalkan terjemahan adalah siapa yang menjamin bahwa pemahaman anda itu benar persis seperti yang diajarkan Nabi kepada para sahabat? Banyak dari mereka yang terbata-bata menghadapi pertanyaan ini. Bisa jadi mereka tidak pernah membaca ucapan Sayyidina Ali bin Abu Tholib Karramallohu wajhahu ini:
القران مكتوب بين الدفتين لا ينطق انما ينطق به الناطق
Al-Qur’an itu tertulis di antara dua sampul, ia tidak bisa berbicara. Sungguh yang berbicara itu hanyalah orang yang menggunakan Al-Qur’an.

2. Ketika mereka katakan bahwa realitas masyarakat yang ada di sekitar mereka adalah realitas jahiliyyah yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an, tidakkah mereka membaca sejarah bahwa Al-Qur’an pun diturunkan ketika jahiliyyah melanda masyarakat Arab.

3. Mereka memahami Al-Qur’an dan hadits melalui terjemahan tidak menyadari bahwa bahasa merupakan pengantar pesan atas sebuah peristiwa yang terjadi pada masa lalu yang kemudian disampaikan ulang pada masa kini. Dalam posisinya sebagai pengantar, bahasa bersifat netral. Ia tidak mempunyai keberpihakan terhadap siapa saja yang menggunakannya. Maka dari itu, tafsir terhadap bahasa tidak bisa dilakukan secara tunggal, monolitik apalagi berpihak.

Dari cara penafsiran ayat per ayat yang mengandalkan terjemahan, kita sering melihat atau mendengar “pemaksaan” terhadap satu ayat untuk membenarkan tafsir dari orang yang membaca ayat tersebut. Sebagai contoh, di tengah hiruk pikuk perdebatan tentang Nishfu Sya’ban kemarin, seorang aktivis “anti bid’ah” menggunakan ayat 1 surat al-Hujurat untuk menakut-nakuti umat Islam agar tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya di dalam menetapkan hukum. Padahal, konteks ayat 1 Surat al-Hujurat itu tidak ada hubungannya dengan Nishfu Sya’ban.

4. Mereka melupakan atau bisa juga dikatakan tidak tahu menafsirkan Al-Qur’an membutuhkan perangkat yang tidak sedikit. Menafsirkan Al-Qur’an jelas membutuhkan pemahaman hukum. Dan untuk memahami hukum itu sendiri diperlukan sekian banyak perangkat. Jadi, mengandalkan makna terjemah saja tidak akan cukup untuk menyelami kedalaman makna ayat per ayat dari Al-Qur’an.

Kalau begitu, bagaimana bisa jika hanya dengan mengandalkan terjemahan saja seseorang sudah merasa paham isi kandungan Al-Qur’an?

Source: DR. KH. Abdi Kurnia Johan (Dosen UI & Al-Hikam Depok)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s