KITAB NUZHAH AL-NADHAR DAN RE-AKTUALISASI KAJIAN (ILMU) HADIS DI PESANTREN (BAG.I)

Posted: Juli 5, 2017 in NGAJI ONLINE, SUNNAH - ADAB & NASIHAT
Tag:

KITAB NUZHAH AL-NADHAR

Oleh: Muhammad Hanifuddin

Dalam beberapa tahun terakhir, geliat diskursus tentang Sunnah (Hadis) di tanah air nampak semakin semarak. Selain faktor “rembesan” ekspansi ideologis, faktor kemajuan teknologi, juga sangat signifikan mempengaruhi “kesemarakan” ini. Tak aneh bila, (sebagian) masyarakat muslim mulai kritis beragama, khususnya dalam menelisik dalil. Sebagai misal, menanyakan mana dalil dari ayat al-Qur’an atau Hadisnya. Dan khususnya yang kedua, mereka juga tidak segan menanyakan kualitas Hadis tersebut; apakah Shahih, Hasan, atau Dha’if. Selain itu, dengan argumen dan pertimbangan tersendiri, ada sebagian kalangan pendakwah yang menyebut diri atau kelompoknya sebagai “ustadz sunnah”. Lantas?


Sudah barang tentu, kecenderungan ini memiliki ekses positif dan negatif. Positif dalam artian, mendorong umat muslim untuk mendekati dan mengetahui teks-teks Hadis yang dulu disabdakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad (shalawat dan salam semoga tersanjungkan kepada beliau). Negatif dalam arti kata, dapat memicu dan menimbulkan riak-riak benturan pendapat dan pemahaman, baik di kalangan sebagian masyarakat atau di kalangan para pendakwah sendiri. Semisal klaim sunnah dan bid’ah. Di titik inilah, perlu dipikirkan bersama, bagaimana mendorong perdebatan ini (supaya) menuju pada debat yang produktif dan konstruktif.

Dari latar ini, salah satu cara yang elegan dan strategis adalah dengan upaya reaktualisasi kajian (ilmu) Hadis di lembaga-lembaga pendidikan agama, semisal di madrasah atau pesantren. Tanpa menafikan peran kajian jenjang kesarjanaan di perguruan tinggi, hanya saja, titik potensial yang ingin saya bidik adalah pengajaran-pengajaran Hadis dan ilmu Hadis (musthalah al-hadits) yang selama ini sudah disajikan di pesantren. Sependek yang saya ketahui, kurikulum di banyak pesantren sudah (cukup) sistematis dalam meramu kajian bidang ini. Semisal mulai dari pengajaran kitab “al-Mandhumah al-Baiquniyah” karya Syaikh ‘Umar bin Muhammad al-Baiquni (1080 H), “al-Manhal al-Lathif” karya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki (1945-2004 M), hingga “Alfiyyah al-Suyuthi” karya Imam al-Suyuthi (911 H). Tiga kitab ini, secara berjenjang diajarkan di Madrasah Al-Asna Pesantren Mahir Arriyadl Ringinagung Pare Kediri. Di pesantren-pesantren lain, semisal Ploso, Lirboyo, Tebuireng, Sidogiri, atau yang lainnya, baik di Jawa atau di luar Jawa, tentu memiliki ramuan kurikulum yang tidak jauh berbeda.

Begitu pula dalam kajian Hadis, deretan judul kitab Hadis juga sudah dibacakan di madrasah atau pesantren, semisal kitab “al-Arba’in al-Nawawiyah” karya Imam al-Nawawi (631-676 H), kitab “Bulugh al-Maram” karya Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani (852 H). Bahkan sering kali, di momen-momen bulan Ramadhan dikaji juga beberapa kutub al-sittah, diantaranya ialah kitab “Shahih al-Bukhari” karya Imam al-Bukhari (194-256 H), dan “Shahih Muslim” karya Imam Muslim (204-261 H).

Hanya saja, setidaknya ada dua hal penting yang perlu kita insafi bersama. Pertama, meskipun tidak semua, tetapi kebanyakan kajian-kajian kitab ilmu Hadis di atas masih dimarginalkan dan kalah pamor dengan pengajaran kitab-kitab ilmu alat (grammatikal bahasa Arab) dan Fiqih. Alangkah indahnya jika konsep, istilah, dan kaidah-kaidah musthalah di atas juga didorong untuk diaplikasikan sebagai pisau analisis kajian Hadis yang sudah diberikan. Lebih matang dan bergengsi lagi jika diadakan forum-forum Bahtsul Masaail yang khusus membahas dan mengkaji kualitas sebuah Hadis, baik dengan kerangka kajian sanad ataupun matan.

Kedua, meskipun sudah disebutkan di atas beberapa kitab Hadis yang dikaji di pesantren, namun jika dibanding dengan banyaknya literatur kitab Hadis yang sudah disumbangkan oleh ulama klasik dulu, tentunya masih banyak judul kitab Hadis yang selama ini belum (atau tidak) diajarkan atau dikenalkan di kalangan santri. Padahal, sebagai misal, Syaikh Yasin al-Fadani (1915-1990) saja memiliki koleksi sanad guru hingga menyambung dengan 40 kitab Hadis yang telah diwariskan oleh generasi ulama abad II-IV H.

Jika saja upaya penggalakkan dan “penghidupan” kajian Hadis dan Ilmu Hadis (reaktualisasi) ini sukses dirumuskan dan dilakukan, tentunya, di tahun-tahun mendatang, debat dan “kesemarakan” diskursus tentang Sunnah di atas akan produktif dan konstruktif.

Hanya saja, berminat atau tidak kah kita mengupayakannya?
(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s