MENGAPA IMAM SYAFI’I TIDAK BANYAK MENGARANG KITAB HADIS?

Posted: Juli 10, 2017 in MADZHAB & KHILAFIYAH, SUNNAH - ADAB & NASIHAT
Tag:

Imam Syafi'i

Sebenarnya Imam Syafi’i kalau dulu mau menulis Musnad seperti Imam Ahmad, insyaallah beliau mampu. Sebab beliau sudah hafal Al Muwatho (kitab hadis milik gurunya, Imam Malik) ketika beliau berusia belasan tahun. Belum lagi hadis-hadis yang beliau dapatkan dari perjalanan (rihlah) beliau ke Yaman, Iraq dan Mesir.

Andaikan beliau dulu mau bersusah-payah (Jawa: ngoyo) untuk mengejar “as sanad al ‘ālī” (sanad yang tinggi) sebagaimana trend para ahli hadis pada masa itu, beliau juga mampu insyaallah.

Tapi beliau sengaja berkonsentrasi kepada fiqh (pemahaman) terhadap makna-makna hadis, khususnya yang berkaitan dengan hukum syar’i amali. Sebab menurut beliau, menggali makna-makna hadis jauh lebih penting untuk digarap daripada hanya sekadar mencari sanad yang tinggi. Lagipula sanad yang tinggi ataupun sanad yang rendah tidak terlalu berpengaruh besar terhadap otentisitas hadis setelah dipastikan bahwa hadis tersebut tsābit. Bagi beliau, sanad yang tinggi cukup diwakili oleh sebagian ahli hadis yang ada saat itu. Selanjutnya yang harus dikerjakan adalah menggali makna-makna hadis itu supaya jangan sampai hilang. Sebab kalau urusan ini tidak dikejar, nanti keburu mati dan hilanglah ilmu.

Itulah salah satu penyebab beliau tidak menghabiskan waktu untuk “sekadar” mengumpulkan lafal-lafal hadis saja. Beliau ingin berkhidmat di bidang yang sama pentingnya dengan menjaga lafal hadis, yaitu menjaga makna hadis.

Bukan tanpa alasan beliau memilih pilihan itu. Sebab di zaman beliau, para penghafal lafal hadis (al huffāzh) jumlahnya cukup banyak, termasuk beliau sendiri. Silahkan baca biografi para ahli hadis yang hidup sezaman dengan beliau.

Hadis-hadis Rasulullah SAW boleh dibilang cukup “aman” kondisinya sehingga cukuplah sebagian orang yang menjaga lafalnya secara lengkap dari sanad sampai matannya.

Tapi bagaimana dengan makna hadis itu sendiri?

Ini menjadi satu kekhawatiran tersendiri kalau sampai teks-teks hadis itu hanya dihafal saja lafalnya tapi maknanya tidak ada yang tahu, atau dipahami secara keliru.

Ini juga bukan tanpa alasan. Buktinya, Abdurrahman bin Mahdi, salah seorang ahli hadis yang hidup sezaman dengan Imam Syafi’i meminta kepada beliau untuk menuliskan suatu rumusan (metode) dalam memahami makna hadis. Sebab pada saat itu sedang terjadi perang fiqih antara kelompok yang dinamakan Ahlul Hadis dengan kelompok yang dinamakan Ahlur Ro’yi. Ahlul Hadis sering menyindir Ahlur Ro’yi miskin hadis, cuma bisa pakai logika saja. Sebaliknya, Ahlur Ro’yi sering menyindir Ahlul Hadis tidak paham makna hadis, cuma hafal teksnya saja.

Maka Imam Syafi’i menyambut permintaan itu. Beliau menulis kitab beliau yang sangat fenomenal sampai sekarang, yaitu Ar Risalah. Isinya tentang kaidah-kaidah dalam memahami teks-teks agama, baik itu Al Quran maupun As Sunnah. Atau bahasa mudahnya adalah cara menyimpulkan hukum dari sumber-sumbernya. Belakangan dinamakan dengan istilah Ushul Fiqh.

Dari situ para ahli hadis yang sempat resah semisal Ibnu Mahdi menjadi seperti orang kehausan yang mendapatkan air segar, atau seperti orang di kegelapan malam yang mendapatkan pancaran cahaya. Tak heran bila ahli hadis sekelas Imam Ahmad sampai mengatakan, “Dulu sebelum Syafi’i datang, kami tidak tahu fiqhnya hadis.” Akhirnya beliau (Imam Ahmad) mendoakan kebaikan untuk Imam Syafi’i selama sekitar 20 tahun lamanya sebagai bentuk rasa syukur dan balas budi atas jasa Imam Syafi’i yang memberikan pencerahan berharga kepada beliau. Kisah bagaimana Imam Ahmad belajar dari Imam Syafi’i sudah sangat populer, tidak perlu saya tulis lagi di sini.

Imam Syafi’i juga pernah mengatakan kepada Imam Ahmad, “Antum lebih tahu tentang masalah hadis dan rijal (sanad). Kalau ada hadis sahih, tolong beritahu saya, apakah itu dari penduduk Kufah, Basrah dan Syam.”

Beliau tidak menyebut Hijaz (Makkah dan Madinah), sebab beliau sendiri adalah alumnus Hijaz sehingga sudah menguasai hadis-hadis mereka. Sedangkan Imam Ahmad adalah penduduk Iraq, jadi beliau lebih menguasai hadis-hadis wilayah sana juga. Jadi saling melengkapi.

Kembali ke masalah menulis kitab hadis. Jadi, Imam Syafi’i sengaja tidak menyibukkan diri untuk menulis kitab hadis karena beliau ingin fokus kepada maknanya setelah beliau merasa aman terhadap keamanan penjagaan lafalnya yang diwakili oleh para ahli hadis lainnya.

Sedangkan Imam Bukhari, Imam Muslim dan para ahli hadis yang hidup setelah zaman para imam madzhab itu, mereka memang berkhidmat untuk menjaga lafal-lafal hadis. Dan sebagaimana trend ahli hadis saat itu, sanad yang tinggi itu cukup bergengsi. Sehingga Imam Bukhari sering memuat Tsulātsiyyāt (hadis yang sanadnya cuma 3 orang saja antara Rasulullah SAW sampai kepada beliau) dalam Sahihnya, meskipun ada sanad lain yang lebih jayyid rijalnya tapi statusnya nāzil (rendah).

Itulah salah satu penyebab beliau enggan memuat hadis-hadis yang sanadnya melalui Imam Syafi’i, sebab sanad Imam Syafi’i kebanyakan nāzil. Prinsipnya, kalau ada yang tinggi kenapa memilih yang rendah. Ini adalah cara berpikir ahli hadis, berbeda dengan ahli fiqih.

Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat.

Wallahu a’lam.

(Danang Kuncoro Wicaksono)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s