SYARAH SHOLAWAT NARIYAH

Posted: Juli 10, 2017 in STOP MENUDUH BID'AH !!
Tag:

SHOLAWAT

Oleh : KH. Muhammad Idrus Ramli

Dalam tulisan sebelumnya telah kami uraikan biografi penyusun shalawat yang populer dengan nama Nariyah, Taziyah dan Tafrijiyah. Tulisan ini akan mengupas makna enam kalimat yang tidak dipahami oleh kaum Wahabi. Kupasan ini sebagai syarah terhadap enam kalimat tersebut, berdasarkan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Redaksi shalawat tersebut secara lengkap sebagai berikut:

اَللّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِى كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

Perhatian kaum Wahabi yang menuduh shalawat di atas mengandung kesyirikan umumnya tertuju pada enam kalimat berurutan di bawah ini:

تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وحسن الخواتم ويستسقى الغمام بوجهه الكريم

Berikut ini keterangan keenam kalimat tersebut beserta dalil-dalilnya.

تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ

Artinya: “Segala ikatan bisa lepas sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Yang dimaksud dengan ikatan dalam redaksi tersebut, adalah kekakuan lidah yang menyebabkan pembicaraan seseorang sulit dimengerti. Hal ini seperti dalam doa Nabi Musa ‘alaihissalam:

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

“Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku”. (QS Thaha : 27-28).

Dalam ayat di atas, Nabi Musa ‘alaihissalam berdoa kepada Allah agar melepaskan ikatan atau kekakuan dari lidah beliau, agar perkataannya dapat dimengerti oleh lawan bicaranya. Pertanyaannya adalah, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat melepaskan kekakuan lidah seseorang sehingga menjadi bagian dari redaksi shalawat di atas? Ada beberapa riwayat hadits yang dapat dijadikan pijakan dari redaksi tersebut.

Riwayat pertama:

عَنْ بَشِيْرِ بْنِ عَقْرَبَةَ الْجُهَنِيّ يَقُوْلُ: أَتَى أَبِيْ عَقْرَبَةُ الْجُهَنِيُّ إِلىَ النَّبِيِّ صلّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «مَنْ هَذَا مَعَكَ يَا عَقْرَبَةُ» ؟ قَالَ: اِبْنِيْ بَحِيْرٌ، قَالَ: «اُدْنُ» ، فَدَنَوْتُ حَتَّى قَعَدْتُ عَلىَ يَمِيْنِهِ، فَمَسَحَ عَلىَ رَأْسِيْ بِيَدِهِ، وَقَالَ: «مَا اسْمُكَ» ؟ قُلْتُ: بَحِيْرٌ يَا رَسُوْلَ الله، قَالَ: «لاَ، وَلَكِنْ اِسْمُكَ بَشِيْرٌ» ، وَكَانَتْ فِيْ لِسَانِيْ عُقْدَةٌ فَنَفَثَ النَّبِيُّ صلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ فِيَّ، فَانْحَلَّتْ الْعُقْدَةُ مِنْ لِسَانِيْ، وَابْيَضَّ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ رَأْسِيْ مَا خَلاَ مَا وَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ فَكَانَ أَسْوَدَ.

“Sahabat Basyir bin Aqrabah al-Juhani berkata: “Ayahku Aqrabah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau bertanya: “Siapa anak ini yang bersamamu wahai Aqrabah?” Ayahku menjawab: “Anakku, Bahir.” Lalu beliau bersabda: “Mendekatlah!” Akupun mendekat, sehingga aku duduk di sebelah kanan beliau. Lalu beliau mengusap kepalaku dengan tangannya dan bertanya: “Siapa namamu?” Aku menjawab: “Bahir, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Tidak. Tapi namamu Basyir.” Pada waktu itu, di lidahku ada kekakuan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meludahi mulutku. Maka kekakuan itu lepas dari lidahku. Kemudian dalam perjalanan waktu, semua rambut kepalaku memutih, kecuali tempat rambut yang Nabi pernah meletakkan tangannya di situ, masih berwarna hitam.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah, juz 1 hlm 434, dan al-Hafizh al-Shalihi al-Syami, Subul al-Huda wa al-Rasyad juz 10 hlm 19).

Dalam hadits di atas, kekakuan pada lidah sahabat Basyir terlepas sebab ludah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berarti redaksi shalawat di atas sesuai dengan hadits tersebut.

Riwayat Kedua:

عن مُعْرِضِ بْنِ مُعَيْقِيبٍ الْيَمَانِيِّ، قَالَ: «حَجَجْتُ حَجَّةَ الْوَدَاعِ، فَدَخَلْتُ دَارًا بِمَكَّةَ، فَرَأَيْتُ فِيهَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَوَجْهُهُ مِثْلُ دَارَةِ الْقَمَرِ، وَسَمِعْتُ مِنْهُ عَجَبًا، جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَامَةِ بِغُلامٍ يَوْمَ وُلِدَ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ أَنَا؟ ” قَالَ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ. قَالَ: ” صَدَقْتَ، بَارَكَ اللهُ فِيكَ» قَالَ: ثُمَّ إِنَّ الْغُلامَ لَمْ يَتَكَلَّمْ بَعْدَ ذَلِكَ حَتَّى شَبَّ. قَالَ أَبِي: فَكُنَّا نُسَمِّيهُ مُبَارَكُ الْيَمَامَةِ

“Sahabat Mu’ridh bin Mu’aiqib al-Yamani berkata: “Aku menunaikan haji wada’, lalu aku memasuki rumah di Makkah. Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di situ, wajahnya seperti bulatannya rembulan. Aku mendengar sesuatu yang aneh. Seorang laki-laki dari penduduk Yamamah datang kepada beliau membawa seorang bayi laki-laki yang lahir pada hari itu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada bayi itu: “Siapa aku?” Bayi itu menjawab: “Engkau Raulullah.” Beliau bersabda: “Kamu benar, semoga Allah memberkatimu.” Mu’ridh berkata: “Kemudian bayi itu tidak berbicara lagi setelah kejadian itu sampai menginjak remaja. Kami menyebut anak itu dengan Mubarak al-Yamamah (orang yang diberkati dari Yamamah).” (Hadits riwayat al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah, juz 6 hlm 59).

Dalam hadits di atas ada keterangan bahwa seorang bayi yang baru lahir dapat berbicara dan menjawab pertanyaan baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu saja kasus dalam hadits ini lebih besar daripada kasus dalam hadits sebelumnya. Hadits tersebut sanadnya dha’if, tetapi al-Hafizh Ibnu Katsir menyampaikan pembelaan sebagai berikut:

قُلْتُ: هَذَا الْحَدِيثُ مِمَّا تَكَلَّمَ النَّاسُ فِي مُحَمَّدِ بْنِ يُونُسَ الْكُدَيْمِيِّ بِسَبَبِهِ، وَأَنْكَرُوهُ عَلَيْهِ وَاسْتَغْرَبُوا شَيْخَهُ هَذَا، وَلَيْسَ هَذَا مِمَّا يُنْكَرُ عَقْلًا بَلْ وَلَا شَرْعًا، فَقَدْ ثَبَتَ فِي ” الصَّحِيحِ ” فِي قِصَّةِ جُرَيْجٍ الْعَابِدِ، أَنَّهُ اسْتَنْطَقَ ابْنَ تِلْكَ الْبَغِىِّ فَقَالَ لَهُ: يَا بَابُوسُ ابْنُ مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ: ابْنُ الرَّاعِي. فَعَلِمَ بَنُو إِسْرَائِيلَ بَرَاءَةَ عِرْضِ جُرِيْجٍ مِمَّا كَانَ نُسِبَ إِلَيْهِ.

“Aku berkata (Ibnu Katsir): “Hadits ini termasuk hadits yang menjadi perbincangan para ulama sebab perawi Muhammad bin Yunus al-Kudaimi. Mereka menolak hadits ini kepadanya dan menganggap aneh gurunya dalam sanad ini. Tetapi substansi hadits ini bukanlah sesuatu yang dianggap tertolak dalam tinjauan akal, bahkan tidak pula dalam tinjauan syara’. Telah diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dalam kisah Juraij al-‘Abid, yang mengajak bicara anak bayi dari wanita pelacur itu. Beliau berkata kepada bayi itu: “Hai Babus, kamu anak siapa?” Bayi itu menjawab: “Aku anak seorang penggembala.” Akhirnya Bani Israil tahu terbebasnya Juraij dari apa yang dituduhkan kepada beliau.” (Al-Hafizh Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah juz 9 hlm 60).

Riwayat ketiga:

عَنْ شَمِرِ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ بَعْضِ أَشْيَاخِهِ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلم أُتِيَ بِصَبِيٍّ قَدْ شَبَّ لَمْ يَتَكَلَّمْ قَطُّ، قَالَ: مَنْ أَنَا؟ قَالَ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ.

“Dari Syamir bin Athiyah, dari sebagian gurunya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan seorang anak yang telah menginjak remaja tetapi tidak bisa berbicara sama sekali. Beliau bertanya kepada anak itu: “Siapa aku?” Ia menjawab: “Engkau Rasulullah.” (Hadits riwayat al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah, juz 6 hl 61. Riwayat ini dha’if karena mursal).

Dalam riwayat lain disebutkan:

عَنْ شَمِرِ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ بَعْضِ أَشْيَاخِهِ قَالَ: جَاءَتِ امْرَأَةٌ بِابْنٍ لَهَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَدْ تَحَرَّكَ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ ابْنِي هَذَا لَمْ يَتَكَلَّمْ مُنْذُ وُلِدَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَدْنِيهِ» ، فَأَدْنَتْهُ مِنْهُ، فَقَالَ: «مَنْ أَنَا؟» فَقَالَ: أَنْتَ رَسُولُ الله .

“Dari Syamir bin Athiyyah, dari sebagian gurunya yang berkata: “Seorang wanita datang membawa anaknya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah mampu bergerak-gerak. Lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, anakku ini tidak bisa berbicara sejak lahir.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Dekatkan anakmu kepadaku.” Lalu wanita itu mendekatkan anak itu kepada beliau. Lalu beliau bertanya kepada anak itu: “Siapa aku?” Anak itu menjawab: “Engkau Rasulullah.” (Hadits riwayat al-Baihaqi, Dalail al-Nubuwwah juz 6 hlm 61).

Al-Hafizh Ibnu Katsir mengomentari hadits di atas, bahwa sanadnya mursal. Sedangkan Syamir bin Athiyah adalah perawi yang dapat dipercaya.

Riwayat keempat:

رَوَى ابْنُ سَعْدٍ عَنْ عِكْرِمَةَ وَالزُّهْرِيِّ وَعَاصِمِ بْنِ عَمْرِو بْنِ قَتَادَةَ مُرْسَلاً أَنَّ مِخْوَسَ بْن مَعْدِيْ كَرِبَ، قَالَ: يَا رَسُوْلَ الله، اُدْعُ اللهَ أَنْ يُذْهِبَ عَنِّيْ الرِتَةَ، فَدَعَا لَهُ، فَذَهَبَتْ.

“Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ikrimah, al-Zuhri dan Ashim bin Amr bin Qatadah secara mursal, bahwa Mikhwas bin Ma’dikarib berkata: “Hai Rasulullah, doakan kepada Allah agar menghilangkan kegagapan dalam berbicara dariku.” Lalu beliau mendoakannya, maka kegagapan itupun hilang.” (Al-Shalihi, Subul al-Huda wa al-Rasyad fi Sirah Khair al-‘Ibad juz 10 hlm 20).

Beberapa riwayat di atas mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi sebab atau perantara hilangnya kekakuan dan kegagapan seseorang dalam perkataan, sehingga beliau berhak untuk dipuji dengan mukjizat yang agung tersebut.

Perlu dijelaskan di sini, bahwa kalimat-kalimat yang terdapat dalam shalawat-shalawat susunan para ulama, merupakan ungkapan dari kebesaran dan keagungan baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat ditelusuri dalam al-Qur’an dan hadits-hadits. Akan tetapi kalimat-kalimat tersebut menjadi sasaran pensyirikan dan pengkafiran kaum Wahabi karena kebodohan dan kesempitan akal mereka. Berikut lanjutan dari syarah shalawat Nariyah.

وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ

Artinya: “Segala kesusahan bisa tersingkap sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Tidak diragukan lagi, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menjadi sebab tersingkapnya atau terlepasnya kesusahan, baik sebelum baginda dilahirkan, setelah dilahirkan maupun kelak pada hari kiamat, baik kesusahan bagi umat manusia maupun bagi makhluk binatang. Ada beberapa dalil terkait hal ini.

Dalil Pertama
Jauh sebelum dilahirkan ke dunia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadi sebab terlepasnya Nabi Adam ‘alaihissalam dari kesusahan dalam pertaubatannya. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam hadits berikut ini:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطاَّبِ رضي الله عليه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: لَمَّا اقْتَرَفَ آدَمُ الْخَطِيْئَةَ قَالَ: يَا رَبِّ أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ لَمَا غَفَرْتَ لِيْ فَقَالَ اللهُ: يَا آدَمُ وَكَيْفَ عَرَفْتَ مُحَمَّداً وَلَمْ أَخْلُقْهُ، قَالَ: يَا رَبِّ ِلأَنَّكَ لَمَّا خَلَقْتَنِيْ بِيَدِكَ وَنَفَخْتَ فِيَّ مِنْ رُوْحِكَ رَفَعْتُ رَأْسِيْ فَرَأَيْتُ عَلَى قَوَائِمِ الْعَرْشِ مَكْتُوْباً لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ، فَعَلِمْتُ أَنَّكَ لَمْ تُضِفْ إِلَى إسْمِكَ إِلاَّ أَحَبَّ الْخَلْقِ إِلَيْكَ، فَقَالَ اللهُ صَدَقْتَ يَا آدَمُ إِنَّهُ َلأَحَبُّ الْخَلْقِ إِلَيَّ اُدْعُنِيْ بِحَقِّهِ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ وَلَوْلاَ مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُكَ.

“Dari Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu, berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setelah Adam melakukan kesalahan, beliau berdoa: “Ya Tuhan, aku memohon kepada-Mu dengan derajat Muhammad, ampunilah aku”. Lalu Allah berfirman: “Wahai Adam, bagaimana engkau mengetahui Muhammad sedang aku belum menciptakannya?” Beliau menjawab: “Ya Tuhan, karena ketika Engkau menciptakan aku dengan kekuasaan-Mu dan Engkau meniupkan ruh dalam tubuhku, maka aku mengangkat kepalaku dan aku melihat di atas tiang-tiang Arasy tertulis “Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah”, maka aku meyakini bahwa Engkau tidak menyisipkan kepada Nama-Mu kecuali makhluk yang paling Engkau cintai”. Lalu Allah berfirman: “Engkau benar Adam. Ia makhluk yang paling Aku cintai. Berdoalah kepada-Ku dengan derajatnya, Aku pasti mengampunimu. Dan andai bukan karena Muhammad, Aku tidak menciptakanmu.”

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak (2/615) dan dinilainya shahih, al-Ajuri dalam al-Syari’ah (hal. 427), al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah (5/489), al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Shaghir (2/82) dan lain-lain. Menurut para pakar, hadits ini dapat dinilai hasan atau shahih berdasarkan syawahid (penguat eksternal)nya, antara lain hadits Maisarah al-Fajr yang dikutip oleh Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa juz 2 hlm 150 sebagai berikut:

عَنْ مَيْسَرَةَ قَالَ قُلْت: يَا رَسُولَ اللهِ مَتَى كُنْت نَبِيًّا؟ قَالَ لَمَّا خَلَقَ اللهُ اْلأَرْضَ وَاسْتَوَى إلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ وَخَلَقَ الْعَرْشَ: كَتَبَ عَلَى سَاقِ الْعَرْشِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ خَاتَمُ الأَنْبِيَاءِ وَخَلَقَ اللهُ الْجَنَّةَ الَّتِي أَسْكَنَهَا آدَمَ وَحَوَّاءَ فَكَتَبَ اسْمِي عَلَى الأَبْوَابِ وَالأَوْرَاقِ وَالْقِبَابِ وَالْخِيَامِ وَآدَمُ بَيْنَ الرُّوحِ وَالْجَسَدِ فَلَمَّا أَحْيَاهُ اللهُ تَعَالَى: نَظَرَ إلَى الْعَرْشِ فَرَأَى اسْمِي فَأَخْبَرَهُ اللهُ أَنَّهُ سَيِّدُ وَلَدِك فَلَمَّا غَرَّهُمَا الشَّيْطَانُ تَابَا وَاسْتَشْفَعَا بِاسْمِي إلَيْهِ.

“Maisarah berkata: “Aku berkata: “Wahai Rasulullah kapan engkau menjadi nabi?” Beliau bersabda: “Ketika Allah menciptakan bumi, dan bermaksud pada langit, lalu menyempurnakannya menjadi tujuh langit, dan menciptakan Arasy, maka Allah menulis pada tiang Arasy Muhammad Rasulullah penutup para nabi. Allah menciptakan surga sebagai tempat tinggal Adam dan Hawa. Maka Allah menulis namaku pada pintu-pintu, daun-daun, kubah-kubah dan kemah-kemah, sedangkan Adam masih di antara roh dan jasad. Ketika Allah subhanahu wa ta’ala menghidupkan Adam, maka ia melihat ke Arasy, lalu melihat namaku. Maka Allah mengabarkannya bahwa ia penghulu anak cucumu. Maka ketika Setan menipunya, maka Adam dan Hawa bertaubat dan meminta pertolongan dengan namaku kepada-Nya.”

Demikian hadits yang disebutkan oleh Syaikh Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa. Hadits ini menjadi syahid atau penguat bagi hadits sebelumnya, sebagaimana diisyaratkan oleh Ibnu Taimiyah. Bahkan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari, menegaskan bahwa sanad hadits ini kuat.

Dalam hadits tersebut jelas sekali, bahwa diterimanya pertaubatan Nabi Adam dan Ibu Hawa ‘alaihimassalam, sebab bertawasul dengan nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian, berarti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi sebab terlepasnya Nabi Adam ‘alaihissalam dari kesusahannya. Peran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pelepas kesusahan para nabi sebelumnya telah diabadikan oleh sahabat Abbas bin Abdul Muththalib radhiyallaahu ‘anhu dalam syairnya yang sangat terkenal.

Sahabat Khuraim bin Aus al-Tha’iy, radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku berhijrah kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sepulang beliau dari peperangan Tabuk dan aku masuk Islam. Lalu aku mendengar Abbas bin Abdul Muththalib berkata: “Wahai Rasulullah, aku ingin memujimu.” Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Allah akan memberimu kehidupan dengan gigi-gigi yang sehat.” Lalu Abbas berkata:

مِنْ قَبْلِهَا طِبْتَ فِي الظِّلاَلِ وَفِيْ … مُسْتَوْدَعٍ حَيْثُ يُخْصَفُ الْوَرَقُ

Wahai Rasulullah, engkau telah harum sebelum diciptakan di bumi, dan ketika engkau berada dalam tulang rusuk Adam, ketika ia dan Hawwa menempelkan dedaunan surga ke tubuh mereka

ثُمَّ هَبِطْتَ الْبِلاَدَ لاَ بَشَرُ … أَنْتَ وَلاَ مُضْغَةٌ وَلاَ عَلَقُ.

Engkau harum keetika Adam turun ke bumi engkau berada dalam tulang rusuknya, ketika engkau bukan seorang manusia, bukan gumpalan daging dan bukan gumpalan darah

بَلْ نُطْفَةٌ تَرْكَبُ السَّفِيْن وَقَدْ … أَلْجَمَ نَسْراً وَأَهْلَهُ الْغَرَقُ.

Bahkan engkau harum ketika berupa setetes air di punggungnya Nabi Nuh ‘alaihissalam ketika naik perahu, sementara berhala Nasr dan orang-orang kafir pemujanya ditenggelamkan dalam banjir bandang

تُنْقَلُ مِنْ صَالَبٍ إِلىَ رَحِمِ … إِذَا مَضَى عَالَمٌ بَدَا طَبَقُ.

Engkau harum ketika dipindah dari tulang rusuk laki-laki ke rahim wanita, ketika generasi berlalu diganti oleh generasi berikutnya

وَرَدْتَ نَارَ الْخَلِيْلِ مُكْتَتِمًا … فِيْ صُلْبِهِ أَنْتَ كَيْفَ يَحْتَرِقُ

Engkau harum ketika berada pada tulang rusuk Nabi Ibrahim sang kekasih Allah, ketika ia dilemparkan ke sekumpulan api, sehingga tidak mungkin ia terbakar

حَتَّى احْتَوَى بَيْتُكَ الْمُهَيْمِنُ مِنْ … خِنْدِفَ عَلْيَاءَ تَحْتَهَا النُّطُقُ.

Sampai kemuliaanmu yang tinggi yang menjadi saksi akan keutamaanmu memuat dari suku yang tinggi dan di bawahnya terdapat lapisan gunung-gunung

وَأَنْتَ لَمَّا وُلِدْتَ أَشْرَقَتِ اْل … أَرْضُ وَضَاءَتْ بِنُوْرِكَ اْلأُفُقُ.

Ketika engkau dilahirkan, bumi menjadi bersinar dan cakrawala menjadi terang berkat cahayamu

فَنَحْنُ فِي ذَلِكَ الضِّيَاءِ وَفِي ال … نُّوْرِ وَسُبُلِ الرَّشَادِ نَخْتَرِقُ.

Maka Kami menerobos dalam sinar, cahaya dan jalan-jalan petunjuk itu

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir [4167], Abu Nu’aim dalam Ma’rifah al-Shahabah juz 2 hlm 983 dan al-Hakim dalam al-Mustadrak [5417]. Menurut al-Hakim, syair ini diriwayatkan oleh orang-orang Arab pedalaman, yang biasanya tidak memalsukan hadits. Oleh karena itu, syair tersebut dikutip secara tegas (jazm) oleh al-Hafizh al-Dzahabi dalam beberapa kitab sejarahnya seperti Tarikh al-Islam juz 1 hlm 495 dan Siyar A’lam al-Nubala’ juz 1 hlm 161 dan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Zad al-Ma’ad juz 3 hlm 551.

Dalil Kedua
Setelah dilahirkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadi sebab terlepasnya Sayyidah Halimah al-Sa’diyah dan keluarganya dari kesulitan. Hal ini seperti dapat dibaca dari riwayat hadits berikut:

عَنْ حَلِيمَةَ بِنْتِ الْحَارِثِ، أُمِّ رَسُولِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – السَّعْدِيَّةِ الَّتِي أَرْضَعَتْهُ قَالَتْ: خَرَجْتُ فِي نِسْوَةٍ مِنْ بَنِي سَعْدِ بْنِ بَكْرٍ نَلْتَمِسُ الرُّضَعَاءَ بِمَكَّةَ، عَلَى أَتَانٍ لِي قَمْرَاءَ قَدْ أَذْمَتْ فَزَاحَمْتُ بِالرَّكْبِ. قَالَتْ: وَخَرَجْنَا فِي سَنَةٍ شَهْبَاءَ لَمْ تُبْقِ لَنَا شَيْئًا، وَمَعِي زَوْجِي الْحَارِثُ بْنُ عَبْدِ الْعُزَّى. قَالَتْ: وَمَعَنَا شَارِفٌ لَنَا، وَاللهِ إِنْ تَبِضَّ عَلَيْنَا بِقَطْرَةٍ مِنْ لَبَنٍ، وَمَعِي صَبِيٌّ لِي إِنْ نَنَامُ لَيْلَتَنَا مَعَ بُكَائِهِ، مَا فِي ثَدْيِي مَا يُعْتِبُهُ، وَمَا فِي شَارِفِنَا مِنْ لَبَنٍ نَغْذُوهُ إِلا أَنَّا نَرْجُو. فَلَمَّا قَدِمْنَا مَكَّةَ لَمْ يَبْقَ مِنَّا امْرَأَةٌ إِلاّ عُرِضَ عَلَيْهَا رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَتَأْبَاهُ، وَإِنَّمَا كُنَّا نَرْجُو كَرَامَةَ رَضَاعِهِ مِنْ وَالِدِ الْمَوْلُودِ، وَكَانَ يَتِيمًا، فَكُنَّا نَقُولُ: مَا عَسَى أَنْ تَصْنَعَ أُمُّهُ؟ حَتَّى لَمْ يَبْقَ مِنْ صَوَاحِبِي امْرَأَةٌ إِلاَّ أَخَذَتْ صَبِيًّا، غَيْرِي، وَكَرِهْتُ أَنْ أَرْجِعَ وَلَمْ آخُذْ شَيْئًا وَقَدْ أَخَذَ صَوَاحِبِي، فَقُلْتُ لِزَوْجِي: وَاللهِ لأَرْجِعَنَّ إِلَى ذَلِكَ فَلآَخُذَنَّهُ. قَالَتْ: فَأَتَيْتُهُ فَأَخَذْتُهُ فَرَجَعْتُهُ إِلَى رَحْلِي، فَقَالَ زَوْجِي: قَدْ أَخْذَتِيهِ؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ وَاللهِ، ذَاكَ أَنِّي لَمْ أَجِدْ غَيْرَهُ. فَقَالَ: قَدْ أَصَبْتِ، فَعَسَى اللهُ أَنْ يَجْعَلَ فِيهِ خَيْرًا. فَقَالَتْ: وَاللهِ مَا هُوَ إِلا أَنْ جَعَلْتُهُ فِي حِجْرِي قَالَتْ: فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ ثَدْيِي بِمَا شَاءَ مِنَ اللَّبَنِ، قَالَتْ: فَشَرِبَ حَتَّى رُوِيَ وَشَرِبَ أَخُوهُ – تَعْنِي ابْنَهَا – حَتَّى رُوِيَ، وَقَامَ زَوْجِي إِلَى شَارِفِنَا مِنَ اللَّيْلِ، فَإِذَا هِيَ حَافِلٌ فَحَلَبَتْ لَنَا مَا سَنَّنَنَا، فَشَرِبَ حَتَّى رُوِيَ، قَالَتْ: وَشَرِبْتُ حَتَّى رُوِيتُ، فَبِتْنَا لَيْلَتَنَا تِلْكَ بِخَيْرٍ، شِبَاعًا رِوَاءً، وَقَدْ نَامَ صَبْيَانُنَا، قَالَتْ: يَقُولُ أَبُوهُ – يَعْنِي زَوْجَهَا -: وَاللهِ يَا حَلِيمَةُ مَا أَرَاكِ إِلاّ أَصَبْتِ نَسَمَةً مُبَارَكَةً، قَدْ نَامَ صَبِيُّنَا وَرُوِيَ. قَالَتْ: ثُمَّ خَرَجْنَا، فَوَاللهِ لَخَرَجَتْ أَتَانِي أَمَامَ الرَّكْبِ قَدْ قَطَعَتْهُ حَتَّى مَا يَبْلُغُونَهَا، حَتَّى أَنَّهُمْ لَيَقُولُونَ: وَيْحَكِ يَا بِنْتَ الْحَارِثِ، كُفِّي عَلَيْنَا، أَلَيْسَتْ هَذِهِ بِأَتَانِكِ الَّتِي خَرَجْتِ عَلَيْهَا؟ فَأَقُولُ: بَلَى وَاللهِ وَهِيَ قُدَّامُنَا. حَتَّى قَدِمْنَا مَنَازِلَنَا مِنْ حَاضِرِ بَنِي سَعْدِ بْنِ بَكْرٍ، فَقَدِمْنَا عَلَى أَجْدَبِ أَرْضِ اللهِ، فَوَالَّذِي نَفْسُ حَلِيمَةَ بِيَدِهِ إِنْ كَانُوا لَيُسَرِّحُونِ أَغْنَامَهُمْ إِذَا أَصْبَحُوا، وَيُسَرِّحُ رَاعِي غَنَمِي فَتَرُوحُ غَنَمِي بِطَانًا لَبَنًا حُفَّلاً، وَتَرُوحُ أَغْنَامُهُمْ جِيَاعًا هَالِكَةً مَا بِهَا مِنْ لَبَنٍ. قَالَتْ: فَشَرِبْنَا مَا شِئْنَا مِنْ لَبَنٍ وَمَا فِي الْحَاضِرِ أَحَدٌ يَحْلِبُ قَطْرَةً وَلاَ يَجِدُهَا، فَيَقُولُونَ لِرُعَاتِهِمْ: وَيْلَكُمُ أَلاَ تُسَرِّحُونَ حَيْثُ يُسَرِّحُ رَاعِي حَلِيمَةَ؟ فَيُسَرِّحُونَ فِي الشِّعْبِ الَّذِي يُسَرِّحُ فِيهِ رَاعِينَا، وَتَرُوحُ أَغْنَامُهُمْ جِيَاعًا مَا بِهَا مِنْ لَبَنٍ وَتَرُوحُ غَنَمِي حُفْلاً لَبَنًا. قَالَتْ: وَكَانَ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَشِبُّ فِي الْيَوْمِ شَبَابَ الصَّبِيِّ فِي شَهْرٍ، وَيَشِبُّ فِي الشَّهْرِ شَبَابَ الصَّبِيِّ فِي سَنَةٍ، فَبَلَغَ سِتًّا وَهُوَ غُلاَمٌ جَفْرٌ.

“Halimah binti al-Harits al-Sa’diyah, ibu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyusuinya berkata: “Aku keluar bersama beberapa wanita suku Bani Sa’ad bin Bakr, mencari bayi-bayi yang disusui di Makkah, menaiki keledaiku yang terlambat dari rombongan pada malam rembulan bercahaya. Kami berangkat pada tahun paceklik yang tidak menyisakan sesuatu apapun pada kami. Aku bersama suamiku al-Harits bin Abdul Uzza. Kami juga membawa unta kami yang telah memasuki masa tua, demi Allah yang tidak memberikan setetes pun air susu.

Aku juga membawa bayiku. Pada malam hari kami tidak bisa tidur karena tangisannya. Di susuku tidak ada air yang dapat ia hisap. Pada unta tua kami juga tidak ada air susu sebagai makanan.

Setelah kami tiba di Makkah, setiap wanita di antara kami yang menerima tawaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menolaknya. Kami hanya mengharapkan upah menyusui dari ayah seorang bayi. Ia seorang bayi yatim. Kami berkata, kira-kira apa yang dapat dilakukan oleh ibunya? Hingga akhirnya sahabat-sahabatku telah mendapatkan bayi untuk disusui, kecuali aku yang belum mendapatkan. Aku benci jika pulang tanpa membawa sesuatu, sementara sahabat-sahabatku telah mendapatkannya.

Aku berkata kepada suamiku: “Demi Allah, aku akan kembali mengambil bayi itu.” Lalu aku mendatanginya. Aku mengambilnya dan kembali ke tempat perlengkapanku. Suamiku berkata: “Kamu telah mengambilnya?” Aku menjawab: “Iya. Demi Allah, aku tidak menemukan selainnya.” Ia berkata: “Kamu benar. Barangkali Allah menjadikan kebaikan pada bayi ini.” Halimah berkata: “Demi Allah, begitu bayi itu aku letakkan pada pangkuanku, susuku memberinya air susu yang luar biasa. Ia meminumnya sampai segar dan saudaranya juga meminumnya sampai segar.

Pada malam hari, suamiku menghampiri unta betina yang sudah tua itu, ternyata telah penuh dengan air susu, sehingga memberikan air susu yang kami kehendaki. Maka suamiku meminumnya sampai segar. Aku juga meminumnya sampai segar. Pada malam itu kami bermalam dengan baik, dalam keadaan kenyang dan segar. Bayi-bayi kami juga tidur. Ayahnya, yaitu suaminya berkata: “Demi Allah hai Halimah, menurutku kamu mendapatkan nikmat yang diberkahi. Bayi kami benar-benar tidur.”

Halimah berkata: “Kemudian kami keluar menuju kampung kami. Demi Allah keledaiku keluar ke depan rombongan yang telah memotongnya sampai mereka tidak mengejarnya, sehingga mereka berkata: “Demi Allah hai Binti al-Harits, bergabunglah pada kami. Bukankah ini keledaimu yang kamu bawa sewaktu berangkat?” Aku menjawab: “Iya, demi Allah. Ia di depan kami. Hingga kami sampai di tempat tinggal kami, daerah Bani Sa’ad bin Bakr.

Kami datang pada bumi Allah yang paling tandus. Demi Tuhan yang menguasai Halimah, apabila pada pagi hari mereka melepaskan kambing-kambing mereka, sementara penggembala kambingku melepaskannya, maka kambing kami akan kembali pada waktu sore dalam keadaan kenyang dan penuh dengan susu, sementara kambing-kambing mereka kembali dalam keadaan lapar dan binasa tanpa membawa susu. Kami dapat minum air susu yang kami kehendaki. Padahal di daerah kami tidak ada seorang pun yang memerah setetes susu dan tidak mendapatkannya.

Mereka berkata kepada para penggembalanya: “Celaka kalian. Mengapa kalian tidak melepas kambing-kambing itu di tempat penggembala Halimah melepas kambingnya?” Akhirnya mereka melepaskan kambing-kambing mereka di jalan bukit pelepasan penggembala kami. Halimah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tumbuh dalam sehari seperti bayi berusia satu bulan. Dalam satu bulan, tumbuh seperti bayi berusia satu tahun. Pada usia enam bulan telah menjadi laki-laki seperti usia empat tahun.”

Hadits shahih riwayat Abu Ya’la [7127], al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir [545], Ibnu Hibban [6335], Abu Nu’aim dalam Ma’rifah al-Shahabah juz 6 hlm 3292 dan al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah juz 1 hlm 13. Al-Hafizh al-Haitsami berkata dalam Majma’ al-Zawaid juz 8 hlm 221, para perawinya dapat dipercaya.

Dalam hadits shahih di atas jelas sekali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi penyebab datangnya keberkahan, kesejahteraan dan kemudahan bagi kehidupan keluarga Halimah binti al-Harits al-Sa’diyyah, ibu yang menyusuinya.

Dalil Ketiga
Setelah diangkat menjadi nabi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi sebab terlepasnya orang-orang musyrik dari kekalahan dalam peperangan. Demikian ini seperti diriwayatkan dalam hadits berikut:

عَنْ خَالِدِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: «قَدِمَتْ بَكْرُ بْنُ وَائِلٍ مَكَّةَ، فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لأَبِي بَكْرٍ: ” ائْتِهِمْ فَاعْرِضْ عَلَيْهِمْ “. فَأَتَاهُمْ، فَقَالَ: مَنِ الْقَوْمُ؟ فَقَالُوا: بَنُو ذُهَلِ بْنِ ثَعْلَبَةَ، فَقَالَ: لَسْتُ إِيَّاكُمْ أُرِيدُ، أَنْتُمُ الأَذْنَابُ، فَقَامَ إِلَيْهِ دَغْفَلٌ، فَقَالَ: مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ: رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ، قَالَ: أَمِنْ بَنِي هَاشِمٍ؟ قَالَ: لا. قَالَ: فَمِنْ بَنِي أُمَيَّةَ؟ قَالَ: لا. قَالَ: فَأَنْتُمْ مِنَ الأَذْنَابِ. ثُمَّ عَادَ إِلَيْهِمْ ثَانِيَةً فَقَالَ: مَنِ الْقَوْمُ؟ فَقَالُوا: بَنُو ذُهَلِ بْنِ شَيْبَانَ، قَالَ: فَعَرَضَ عَلَيْهِمُ الإِسْلامَ، قَالُوا: حَتَّى يَجِيءَ شَيْخُنَا فُلاَنٌ – فَلَمَّا جَاءَ شَيْخُهُمْ عَرَضَ عَلَيْهِمْ أَبُو بَكْرٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: إِنَّ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْفُرْسِ حَرْبًا، فَإِذَا فَرَغْنَا مِمَّا بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ عُدْنَا فَنَظَرْنَا، فَقَالَ لَهُ أَبُو بَكْرٍ: أَرَأَيْتَ إِنْ غَلَبْتُمُوهُمْ أَتَتِّبِعُنَا عَلَى أَمْرِنَا؟ قَالَ: لا نَشْتَرِطُ لَكَ هَذَا عَلَيْنَا، وَلَكِنْ إِذَا فَرَغْنَا فِيمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ عُدْنَا فَنَظَرْنَا فِي مَا تَقُولُ. فَلَمَّا الْتَقَوْا يَوْمَ ذِي قَارٍ هُمْ وَالْفُرْسُ، قَالَ شَيْخُهُمْ: مَا اسْمُ الرَّجُلِ الَّذِي دَعَاكُمْ إِلَى اللهِ؟ قَالُوا: مُحَمَّدٌ، قَالَ: هُوَ شِعَارُكُمْ. فَنُصِرُوا عَلَى الْقَوْمِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: ” بِي نُصِرُوا» “.

“Dari Khalid bin Sa’id bin al-Ash, dari ayahnya, dari kakeknya. Ia berkata: “Suku Bakr bin Wail datang ke Makkah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Bakar: “Datangi mereka dan tawarkan kepada mereka untuk masuk Islam!” Abu Bakar mendatangi mereka, lalu bertanya: “Dari kaum mana?” Mereka menjawab: “Suku Dzuhal bin Tsa’labah”. Abu Bakar berkata: “Bukan kalian yang aku maksudkan, kalian hanya pengikut.” Lalu Daghfal menghadap kepadanya dan berkata: “Kamu siapa?” Abu Bakar menjawab: “Seorang laki-laki dari suku Quraisy.” Ia bertanya: “Apakah dari Bani Hasyim?” Abu Bakar menjawab: “Tidak.” Ia bertanya: “Apakah dari Bani Umayah?” Abu Bakar menjawab: “Tidak.” Ia berkata: “Berarti kamu juga pengikut.”

Kemudian Abu Bakar kembali lagi pada mereka untuk yang kedua kalinya. Ia bertanya: “Dari kaum mana?” Mereka menjawab: “Suku Dzuhal bin Syaiban.” Lalu Abu Bakar menawarkan kepada mereka untuk masuk Islam. Mereka menjawab: “Hingga orang yang kami tokohkan, si fulan datang.” Setelah tokoh mereka datang, Abu Bakar radhiyallaahu ‘anhu menawarkan lagi pada mereka. Lalu tokoh itu menjawab: “Sebenarnya antara kami dan Persia ada peperangan. Jika kami selesai dari urusan dengan mereka, kami akan kembali dan memikirkan lagi.” Abu Bakar berkata kepadanya: “Menurutmu, jika kalian menang atas mereka, apakah kalian akan mengikuti agama kami?” Ia menjawab: “Kami tidak menjanjikan hal ini kepadamu. Tapi jika kami telah selesai berurusan dengan mereka, kami akan kembali, dan memikirkan lagi apa yang kamu katakan.”

Setelah mereka berhadapan dengan Persia dalam peperangan Dzi Qar, tokoh mereka berkata: “Siapa nama laki-laki yang mengajak kalian kepada Allah?” Mereka menjawab: “Muhammad.” Lalu ia berkata: “Nama Muhammad jadikan slogan kalian dalam peperangan.” Maka mereka diberi kemenangan menghadapi Persia. Mendengar berita itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebab aku mereka diberi kemenangan.”

Hadits hasan riwayat al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir [5520]. Lihat al-Hafizh al-Haitsami, dalam Majma’ al-Zawaid juz 6 hlm 211. Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi sebab kemenangan mereka yang masih musyrik menghadapi orang-orang Persia, dan beliau membenarkan apa yang mereka lakukan.

Dalil Keempat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadi penyebab terlepasnya seluruh umat manusia dari kesusahan pada waktu hari kiamat kelak ketika berada di padang Mahsyar. Sebab pertolongan tersebut, baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam akan dipuji oleh seluruh manusia di padang Mahsyar.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الشَّمْسَ تَدْنُو يَوْمَ القِيَامَةِ، حَتَّى يَبْلُغَ العَرَقُ نِصْفَ الأُذُنِ، فَبَيْنَا هُمْ كَذَلِكَ اسْتَغَاثُوا بِآدَمَ، ثُمَّ بِمُوسَى، ثُمَّ بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَيَشْفَعُ لِيُقْضَى بَيْنَ الخَلْقِ، فَيَمْشِي حَتَّى يَأْخُذَ بِحَلْقَةِ البَابِ، فَيَوْمَئِذٍ يَبْعَثُهُ اللهُ مَقَامًا مَحْمُودًا، يَحْمَدُهُ أَهْلُ الجَمْعِ كُلُّهُمْ»

“ِAbdullah bin Umar radhiyallaahu ’anhuma berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Matahari akan mendekat pada hari Kiamat, sehingga keringat akan sampai pada separuh telinga. Maka ketika manusia dalam kondisi demikian, mereka beristighatsah (meminta pertolongan) dengan Nabi Adam, kemudian dengan Nabi Musa, kemudian dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau akan memberikan pertolongan agar supaya ditetapkan keputusan di antara makhluk. Lalu ia berjalan hingga mengambil bundaran pintu. Pada hari itulah Allah mengutusnya pada derajat yang terpuji, yang akan dipuji oleh seluruh manusia yang berkumpul pada waktu itu.” (HR al-Bukhari [1475]).

Dalil Kelima
Pertolongan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dalam melepaskan dari kesusahan tidak hanya dilakukan kepada kalangan manusia. Tetapi juga dilakukan kepada makhluk hewan.

عن عبد الله بن جعفر قال: “أرْدَفَني رسول الله -صلى الله عليه وسلم- خلفه ذات يوم، فأسرَّ إليَّ حديثًا، لا أُحدث به أحدًا من الناس،: فدخل حائطًا لرجل من الأنصار، فإذا جمل، فَلَمَّا رأى النبيَّ -صلى الله عليه وسلم- حَنَّ، وذَرَفَتْ عيناه، فأتاه النبيُّ -صلى الله عليه وسلم-، فمَسحَ ذِفْرَاهُ، فَسَكَتَ، فقال: مَنْ رَبُّ هذا الجمل؟ لمن هذا الجمل؟ فجاء فتًى من الأنصار فقال: لي يا رسول الله، فقال: أفلا تتقي الله في هذه البهيمة التي مَلَّكَكَ اللَّه إيَّاها؟ فإنه شكى إليَّ أنك تُجيعه وتُدْئِبه”.

“Abdullah bin Ja’far berkata: “Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memboncengkan aku di belakangnya. Beliau membisikkan pembicaraan kepadaku, yang tidak akan aku ceritakan kepada siapapun. Lalu beliau memasuki kebun milik seorang laki-laki dari kaum Anshar. Ternyata di situ ada unta. Ketika unta itu melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berbunyi dan kedua matanya bercucuran. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya, lalu mengusap telinganya. Unta itupun diam. Lalu beliau bertanya, “Siapa pemilik unta ini? Unta ini milik siapa?” Lalu seorang laki-laki dari kaum Anshar datang, lalu berkata: “Milikku wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Takutlah kamu kepada Allah mengenai hewan yang Allah milikkan padamu ini. Ia mengadu kepadaku bahwa kamu membuatnya lapar dan kelelahan.”

Hadits shahih riwayat Muslim [342], Abu Dawud [2542] dan Ibnu Majah [340]. Dalam hadits, lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menolong kijang betina, dalam riwayat berikut ini:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّحْرَاءِ فَإِذَا مُنَادٍ يُنَادِيهِ يَا رَسُولَ اللهِ فَالْتَفَتَ، فَلَمْ يَرَ أَحَدًا، ثُمَّ الْتَفَتَ فَإِذَا ظَبْيَةٌ مُوَثَّقَةٌ، فَقَالَتْ: ادْنُ مِنِّي يَا رَسُولَ اللهِ فَدَنَا مِنْهَا، فَقَالَ: «حَاجَتَكِ؟» قَالَتْ: إِنَّ لِي خَشَفَيْنِ فِي ذَلِكَ الْجَبَلِ فَحُلَّنِي حَتَّى أَذْهَبَ، فَأُرْضِعَهُمَا، ثُمَّ أَرْجِعُ إِلَيْكَ، قَالَ: «وَتَفْعَلِينَ؟» ، قَالَتْ: عَذَّبَنِي اللهُ بِعَذَابِ الْعِشَارِ إِنْ لَمْ أَفْعَلْ، فَأَطْلَقَهَا فَذَهَبَتْ، فَأَرْضَعَتْ خَشَفَيْهَا، ثُمَّ رَجَعَتْ، فَأَوْثَقَهَا وَانْتَبَهَ اْلأَعْرَابِيُّ، فَقَالَ: لَكَ حَاجَةٌ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «نَعَمْ تُطْلِقُ هَذِهِ» ، فَأَطْلَقَهَا فَخَرَجَتْ تَعْدُو، وَهِيَ تَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللهُ وَأَنَّكَ رَسُولُ اللهِ ”

“Ummu Salamah radhiyallaahu ‘anha berkata: “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di padang pasir. Tiba-tiba ada yang memanggil, “Hai Rasulullah!” Beliau menoleh, ternyata tidak melihat sesuatu. Kemudian menoleh, ternyata ada kijang betina yang diikat. Kijang itu berkata: “Hai Rasulullah, mendekatlah kepadaku!” Beliau mendekat, lalu bertanya: “Apakah kamu ada perlu?” Ia menjawab: “Iya. Aku mempunyai dua anak di gunung itu. Tolong lepaskan aku, untuk pergi menyusuinya, lalu aku akan kembali lagi kepadamu.” Beliau bertanya: “Kamu akan kembali?” Ia menjawab: “Allah akan mengazabku seperti azab pengumpul pungutan liar jika aku tidak kembali.” Lalu beliau melepasnya. Lalu ia pergi menyusui kedua anaknya. Kemudian kembali lagi dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikatnya. Dan laki-laki A’rabi (yang memilikinya) terbangun. Ia bertanya: “Apakah engkau ada keperluan hai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Iya, kamu lepaskan kijang betina ini.” Laki-laki itu melepasnya. Kijang itu pergi berlari, dan berkata, “Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan bahwa engkau utusan Allah.”

Hadits riwayat al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir [763], Abu Nu’aim dalam Dalail al-Nubuwwah [273] al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah juz 3 hlm 34-35 dan al-Muzali dalam Mishbah al-Zhalam hlm 193. Lihat al-Hafizh Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah juz 6 hlm 155. Al-Shalihi berkata dalam Subul al-Huda wa al-Rasyad juz 9 hlm 520, hadits ini memiliki banyak jalur yang saling menguatkan bahwa hadits ini memiliki asal. Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga membantu melepaskan seekor burung merah dari kesusahan.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ وَمَرَرْنَا بِشَجَرَةٍ فِيهَا فَرْخَا حُمَّرَةٍ فَأَخَذْنَاهُمَا قَالَ: فَجَاءَتِ الْحُمَّرَةُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ تَصِيحُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ فَجَعَ هَذِهِ بِفَرْخَيْهَا؟» قَالَ: فَقُلْنَا: نَحْنُ. قَالَ: «فَرُدُّوهُمَا» فرددناهما إلى موضعهما.

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu berkata: “Kami dalam perjalanan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami melewati pohon yang ada dua anak burung merah, lalu kami mengambilnya. Lalu seekor burung merah betina mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menjerit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Siapa yang merisaukan burung ini dengan mengambil kedua anaknya?” Kami berkata: “Kami yang mengambilnya.” Beliau bersabda: “Kembalikan lagi.” Maka kami mengembalikannya ke tempatnya.”

Hadits shahih riwayat Abu Dawud [2668] dan al-Hakim [7599]. Pertolongan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melepaskan kesusahan hidup tidak hanya terjadi pada masa hidupnya. Setelah wafat, beliau masih menjadi penyebab terlepasnya banyak orang dari kesusahan. Seperti yang dialami oleh para ulama ahli hadits berikut ini:

قَالَ اْلإِمَامُ أَبُوْ بَكْرٍ بْنِ الْمُقْرِئِ: كُنْتُ أَنَا وَالطَّبَرَانِيُّ وَأَبُو الشَّيْخِ فِيْ حَرَمِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، وَكُنَّا عَلَى حَالَةٍ وَأَثَّرَ فِيْنَا الْجُوْعُ وَوَاصَلْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ، فَلَمَّا كَانَ وَقْتُ الْعِشَاءِ حَضَرْتُ قَبْرَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ الْجُوْعَ الْجُوْعَ، وَانْصَرَفْتُ. فَقَالَ لِيْ أَبُو الْقَاسِمِ: اِجْلِسْ إِمَّا أَنْ يَكُوْنَ الرِّزْقُ أَوْ الْمَوْتُ، قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ: فَنِمْتُ أَنَا وَأَبُو الشَّيْخِ وَالطَّبَرَانِيُّ جَالِسٌ يَنْظُرُ فِيْ شَيْءٍ فَحَضَرَ فِي الْبَابِ عَلَوِيٌّ فَدَقَّ فَفَتَحْنَا لَهُ فَإِذًا مَعَهُ غُلاَمَانِ مَعَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا زَنْبِيْلٌ فِيْ شَيْءٍ كَثِيْرٍ، فَجَلَسْنَا وَأَكَلْنَا، قَالَ الْعَلَوِيُّ: يَا قَوْمُ أَشَكَوْتُمْ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَإِنِّيْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي الْمَنَامِ فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَحْمِلَ بِشَيْءٍ إِلَيْكُمْ.

“Al-Imam Abu Bakar bin al-Muqri’ berkata: “Saya berada di Madinah bersama al-Hafizh al-Thabarani dan al-Hafizh Abu al-Syaikh. Kami dalam kondisi prihatin dan sangat lapar, selama satu hari satu malam belum makan. Setelah waktu isya’ tiba, saya mendatangi makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu saya berkata: “Ya Rasulullah, kami lapar, kami lapar”. Dan saya segera pulang. Lalu al-Hafizh Abu al-Qasim al-Thabarani bertaka: “Duduklah, kita tunggu datangnya rezeki atau kematian”. Abu Bakar berkata: “Lalu aku dan Abu al-Syaikh tidur. Sedangkan al-Thabarani duduk sambil melihat sesuatu. Tiba-tiba datanglah laki-laki ‘Alawi (keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan mengetuk pintu. Kami membukakan pintu untuknya. Ternyata ia bersama dua orang budaknya yang masing-masing membawa keranjang penuh dengan makanan. Lalu kami duduk dan makan bersama. Lalu laki-laki ‘Alawi itu berkata; “Hai kaum, apakah kalian mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Aku bermimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyuruhku membawakan makanan untuk kalian”.

Kisah ini diriwayatkan oleh al-Hafizh Ibn al-Jauzi (508-597 H/1114-1201 M) dalam al-Wafa bi-Ahwal al-Mushthafa (hal. 818), al-Hafizh al-Dzahabi dalam Tadzkirat al-Huffazh (3/973), dalam Tarikh al-Islam (hal. 2808) dan disebutkan oleh Syaikh Yusuf bin Ismail al-Nabhani dalam Hujjatullah ‘ala al-‘Alamin (hal. 805). Kisah-kisah shahih seperti ini banyak kita jumpai dalam kitab-kitab sejarah seperti kitab Tarikh Dimasyq karya Ibnu Asakir, al-Muntazham karya Ibnu al-Jauzi, dan kitab khusus yang memaparkan banyak sekali kisah-kisah seperti di ata, yang berjudul Mishbah al-Zhalam fi al-Mustaghitsin bi-Khair al-Anam ‘alaih al-Shalah wa al-Salam fi al-Yaqzhah wa al-Manam, karya al-Imam al-Muhaddits Ibnu al-Nu’man al-Muzali al-Marakisyi, wafat pada tahun 683 H. Kitab ini yang menjadi rujukan utama Syaikh Yusuf al-Nabhani dalam kitabnya, Hujjatullaah ‘ala al-‘Alamin fi Mu’jizat Sayyid al-Mursalin shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berdasarkan paparan di atas, dapat dipahami bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi sebab hilangnya banyak kesusahan dari siapapun, yang diredaksikan dengan wa tanfariju bihi al-kurab. Wallahu a’lam.
Bersambung – insya Allah.

SYARAH SHALAWAT NARIYAH BERDASARKAN HADITS-HADITS NABI shallallahu ‘alaihi wa sallam
Bagian 3

Dalam redaksi shalawat Nariyah di atas disebutkan:

وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ

Artinya: “Segala kebutuhan bisa terkabulkan sebab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Maksud redaksi tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menjadi sebab terkabulnya hajat dan keperluan apa saja. Hal ini bisa dilihat dari keterangan dalil-dalil dua bagian sebelumnya. Bisa juga dengan didasarkan pada beberapa dalil berikut ini:

Dalil Pertama
Hadits tentang mukjizat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyembuhkan penyakit biduran yang menimpa sebagian sahabat.

عَن أم عَاصِم امْرَأَة عتبَة بن فرقد قَالَت كُنَّا عِنْد عتبَة أَربع نسْوَة مَا منا امْرَأَة إِلا وَهِي تجتهد فِي الطّيب لتَكون أطيب من صاحبتها وَمَا يمس عتبَة الطّيب وَهُوَ أطيب ريحًا منا وَكَانَ إِذا خرج إِلَى النَّاس قَالُوا مَا شممنا ريحًا أطيب من ريح عتبَة فَقُلْنَا لَهُ فِي ذَلِك قَالَ أَخَذَنِي الشرى على عهد رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فشكوت ذَلِك إِلَيْهِ فَأمرنِي أَن أتجرد فتجردت وَقَعَدت بَين يَدَيْهِ وألقيت ثوبي على فَرجي فنفث فِي يَده ثمَّ وضع يَده على ظَهْري وبطني فعبق بِي هَذَا الطّيب من يَوْمئِذٍ

“Ummu Ashim, istri sahabat Utbah bin Farqad berkata: “Kami bersama Utbah ada empat orang istri. Masing-masing kami berusaha menggunakan parfum agar lebih harum dari yang lainnya. Utbah tidak pernah memakai parfum, tetapi aromanya lebih harum daripada kami. Apabila Utbah pergi kepada orang-orang, mereka akan berkata, kami tidak mencium aroma yang lebih harum daripada Utbah. Kami bertanya latar belakang keharumannya. Utbah berkata: “Dulu saya terkena penyakit biduran pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu aku mengeluhkan penyakit itu kepada beliau. Beliau menyuruh saya melepas pakaian. Aku melepaskan pakaian, duduk di depan beliau dan bajuku aku tutupkan pada kemaluanku. Lalu beliau meludahi tangannya, kemudian meletakkan tangan itu ke bagian punggung dan perutku, sehingga sejak saat itu aroma harum ini melekat pada tubuhku.”

Hadits shahih riwayat al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir [329, 330, 331] dan al-Mu’jam al-Shaghir [98], Ibnu Abi Ashim dalam al-Ahad wa al-Matsani [1387], Abu Nu’aim dalam al-Thibb al-Nabawi [480], dan Ma’rifah al-Shahabah juz 4 hlm 2136, dan al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah juz 6 hlm 216. Al-Hafizh al-Suyuthi berkata dalam al-Khashaish al-Kubra juz 2 hlm 141, sanad hadits ini jayyid (bagus).

Dalam hadits shahih di atas diterangkan, bahwa sahabat Utbah yang terkena penyakit biduran di kulitnya, setelah kulitnya diusap dengan tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak hanya sembuh dari sakitnya, bahkan kulitnya menjadi harum, dan lebih harum daripada orang yang memakai parfum apapun.

Dalil Kedua
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembuhkan dan mengembalikan mata sebagian sahabat yang keluar dan menggantung di pipinya dalam suatu peperangan. Syaikh Ibnu Utsaimin, ulama Wahabi terkemuka berkata:

أَنَّ قَتَادَةَ بْنَ النُّعْمَانِ لَمَا جُرِحَ فِيْ أُحُدٍ نَدَرَتْ عَيْنُهُ حَتَّى صَارَتْ عَلَى خَدِّهِ، فَجَاءَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَأَخَذَهَا بِيَدِهِ، وَوَضَعَهَا فِيْ مَكَانِهَا، فَصَارَتْ أَحْسَنَ عَيْنَيْهِ. (العثيمين، شرح العقيدة الواسطية، ص/630).

“Ketika Qatadah bin al-Nu’man terluka dalam peperangan Uhud, salah satu matanya keluar sehingga menggantung di pipinya. Lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil mata yang keluar itu dan meletakkannya pada tempatnya, sehingga pulih dan menjadi salah satu matanya yang terbaik selama hidupnya.” (Ibnu ‘Utsaimin, Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyyah, hal. 630).

Dalam hadits yang disebutkan oleh al-‘Utsaimin di atas, Sayidina Qatadah yang matanya keluar dan menggantung di pipinya, tidak langsung berdoa kepada Allah. Tetapi beliau mendatangi Rasul shallallahu alaihi wa sallam, dan beliau pun tidak menegurnya dengan berkata: “Mengapa kamu melapor kepadaku, dan tidak langsung berdoa kepada Allah”, dan tidak pula berkata: “Kamu telah syirik, karena melaporkan penderitaanmu kepadaku, bukan kepada Allah.” Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berhasil menyembuhkan matanya dengan izin Allah.

Dalil Ketiga
Hadits seorang sahabat yang selamat dari terkaman singa, setelah menjelaskan bahwa beliau adalah maula, budak atau pembantu yang dimerdekakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنْ سَفِينَةَ، مَوْلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رَكِبْتُ سَفِينَةً فِي الْبَحْرِ فَانْكَسَرَتْ بِي , فَرَكِبْتُ لَوْحًا مِنْهَا فَأَخْرَجَنِي إِلَى أَجَمَةٍ فِيهَا أَسَدٌ إِذْ أَقْبَلَ الْأَسَدُ , فَلَمَّا رَأَيْتُهُ قُلْتُ: يَا أَبَا الْحَارِثِ، أَنَا سَفِينَةُ مَوْلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَقْبَلَ نَحْوِي حَتَّى ضَرَبَنِي بِمَنْكِبِهِ , ثُمَّ مَشَى مَعِي حَتَّى أَقَامَنِي عَلَى الطَّرِيقِ , قَالَ: ثُمَّ هَمْهَمَ وَضَرَبَنِي بِذَنَبِهِ , فَرَأَيْتُ أَنَّهُ يُوَدِّعُنِي

“Safinah, maula (budak yang dimerdekakan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Aku menaiki perahu di lautan. Lalu perahu itu pecah. Maka aku menaiki satu papan dari perahu itu. Akhirnya mengantarkan aku sampai ke hutan yang ada singanya. Tiba-tiba seekor singa mengadapku. Begitu aku melihatnya, aku berkata: “Hai singa, aku Safinah, maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu ia menghampiriku hingga menggiringku dengan pundaknya. Kemudian ia berjalan bersamaku hingga mengantarkan aku ke jalan yang benar. Kemudian ia bersuara sebentar dan memukulkan ekornya kepadaku. Aku mengira bahwa ia mengucapkan selamat tinggal kepadaku.”

Hadits shahih riwayat al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir [6432], al-Hakim dalam al-Mustadrak juz 3 hlm 606, Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya’ juz 1 hlm 369 dan Dalail al-Nubuwwah [511], al-Bazzar (Kasyf al-Astar [2733]), dan al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah juz 6 hlm 45 dan al-I’tiqad hlm 368. Al-Hakim berkata, hadits ini sesuai persyaratan Muslim dan al-Dzahabi menyetujuinya.

Hadits shahih di atas memberikan penjelasan bahwa Safinah radhiyallaahu ‘anhu yang tersesat di hutan tempat singa, selamat dari terkaman singa, setelah memberitahu bahwa beliau adalah maula yaitu budak atau pembantu yang dimerdekakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian setelah itu beliau diantarkan ke jalan yang benar.

Dalil Keempat
Hadits seorang laki-laki tuna netra yang memohon kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk mendoakannya agar sembuh dari kebutaan. Hadits tersebut dikenal dengan hadits dharir, maksudnya hadits seorang tuna netra yang menginginkan kesembuhan.

Sahabat Utsman bin Hunaif radhiyallaahu ‘anhu berkata, bahwa seorang laki-laki tuna netra datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata: “Doakan kepada Allah agar menyembuhkan aku dari kebutaan.” Beliau bersabda: “Kalau kamu mau, kamu aku doakan. Tetapi kalau kamu mau, kamu sabar saja dengan kebutaan ini, dan ini yang lebih baik baik bagimu.” Laki-laki itu berkata: “Doakan saja agar sembuh.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh laki-laki itu melakukan wudhu dengan baik, lalu menunaikan shalat dua rakaat, kemudian membaca doa ini:

اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ، وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، يَا مُحَمَّدُ، إِنِّي تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي هَذِهِ، فَتَقْضِي لِي، اللهُمَّ شَفِّعْهُ فِيَّ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, dan aku bertawasul kepada-Mu dengan Nabi-Mu, Muhammad, Nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku bertawasul denganmu kepada Tuhanku mengenai hajatku ini, agar engkau mengabulkan untukku. Ya Allah terimalah pertolongan Nabi untukku.”

Lalu laki-laki buta itu melaksanakan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,dan demi Allah kita belum berpisah dan belum lama dalam majlis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba laki-laki itu kembali datang ke majlis dan telah bisa melihat, seakan-akan sebelumnya tidak pernah terkena kebutaan sama sekali.”

Hadits shahih riwayat Ahmad [17240], Abd bin Humaid dalam al-Muntakhab [379], al-Tirmidzi [3578], al-Nasai dalam al-Kubra [10495] dan ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah [659], Ibnu Majah [1385], Ibnu Khuzaimah [1219], al-Hakim dalam al-Mustadrak juz 1 hlm 313 dan 519, al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir [8311] dan al-Mu’jam al-Shaghir [508], Ibnu al-Sunni dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah [633] dan al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah juz 6 hlm 166. Hadits tersebut dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, al-Tirmidzi, al-Thabarani, al-Hakim, al-Baihaqi dan lain-lain.

Hadits shahih di atas menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi sebab terkabulnya doa seorang tuna netra tersebut yang menginginkan kesembuhan dari kebutaannya. Doa tersebut dianjurkan oleh para ulama untuk dibaca dalam hajat-hajat yang lain.

Sebagian kaum Wahabi yang alergi dengan kesunnahan tawasul dan istighatsah, mengatakan bahwa doa di atas boleh dilakukan ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup. Sedangkan setelah beliau wafat, membaca doa tersebut tidak boleh karena termasuk perbuatan syirik. Tentu saja pernyataan kaum Wahabi tersebut salah fatal dan tidak benar. Karena setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, doa tersebut masih diajarkan oleh sahabat kepada muridnya.

Al-Thabarani meriwayatkan, bahwa sahabat Utsman bin Hunaif, perawi hadits dharir di atas, melihat seorang laki-laki yang mondar mandir ke pintu rumah Khalifah Utsman bin Affan, radhiyallaahu ‘anhu. Lalu laki-laki itu ditanya oleh Utsman bin Hunaif, mengapa mondar mandir ke pintu rumah Khalifah Utsman. Laki-laki itu menjawab, bahwa ia mengajukan permohonan kepada Khalifah, tetapi sampai saat ini belum dipanggil dan permohonan belum dikabulkan. Lalu Utsman bin Hunaif menyarankan laki-laki tersebut untuk mengamalkan doa hadits dharir di atas. Begitu ia melakukan, dan mendatangi pintu Khalifah Utsman, pintu langsung dibukakan, lalu dipanggil dan permohonannya dikabulkan oleh Khalifah Utsman.

Setelah para sahabat tiada, doa hadits dharir tersebut masih diamalkan oleh generasi salaf yang shaleh. Al-Imam Ibnu Abi al-Dunya meriwayatkan dari Katsir bin Muhammad, bahwa seorang laki-laki datang kepada Imam Abdul Malik bin Hayyan bin Said bin al-Hasan bin Abjar untuk mengobati sakit perutnya yang membengkak. Lalu Ibnu Abjar meraba perut laki-laki tersebut. Lalu ia berkata: “Di perutmu ada penyakit yang tidak akan sembuh.” Laki-laki itu bertanya: “Penyakit apa?” Ibnu Abjar menjawab: “Pembengkakan kecil (semacam kangker)”. Lalu laki-laki itu berpaling dan membaca doa berikut ini:

اللهُ، اللهُ، رَبِّي لا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا، اللَّهُمَّ إِنِّي أَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، يَا مُحَمَّدُ، إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ وَرَبِّي أَنْ يَرْحَمَنِي مِمَّا بِي رَحْمَةً يُغْنِينِي بِهَا عَنْ رَحْمَةِ مَنْ سِوَاهُ

Ia membaca doa tersebut sebanyak tiga kali. Kemudian ia menghampiri Ibnu Abjar lagi untuk memeriksa perutnya. Setelah memeriksa, Ibnu Abjar berkata: “Kamu telah sembuh, penyakitnya sudah tidak ada.” (Ibnu Abi al-Dunya, Mujabu al-Da’wah [127]).

Ibnu Abjar di atas adalah seorang hafizh (penghapal hadits), termasuk perawi yang diterima dalam kitab Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi dan al-Nasai. Ia juga ahli pengobatan yang tidak mengambil upah dalam mengobati seseorang. Ia dinilai tsiqah (dipercaya) oleh Ahmad bin Hanbal, Ibnu Ma’in dan lain-lain. Mereka juga memujinya sebagai orang yang baik. Wallahu a’lam. (Al-Ghumari, Mausu’ah Sayyidi al-Ghumari al-Hasani, juz 14 hlm 527).

Doa dalam hadits dharir di atas memang ampuh dan luar biasa. Ada beberapa pengalaman beberapa orang yang ingin saya ceritakan di sini seputar keampuhan doa di atas.

Sekitar akhir tahun 2005, seorang sahabat saya, pagi-pagi menghubungi saya via telepon seluler. Ternyata dalam pembicaraan itu, ia meminta maaf kepada saya, karena khawatir segera meninggal dunia. Karena selama beberapa hari telah berbaring di rumah sakit, karena menderita penyakit komplikasi. Akhirnya setiap pagi, saya sempatkan menelepon teman ini, memberinya motivasi untuk sembuh dari sakitnya. Kira-kira dapat dua minggu, teman ini kemudian tidak bisa dihubungi, selulernya tidak aktif. Saya berpikir mungkin orang ini sudah meninggal dunia.

Kira-kira sekitar tujuh bulan kemudian, teman ini menghubungi saya dengan nomor baru. Saya bertanya, bagaimana keadaan Anda sekarang? Ia menjawab, ada dua kabar gembira tentang saya. Pertama, saya alhamdulillah sudah sehat wal afiyat. Kedua, saya sudah menambah istri lagi. Begitu kata teman saya itu. Saya bertanya, apa yang Anda baca, sehingga mudah sekali berpoligami. Ia jawab, mengamalkan doa dalam hadits dharir di atas. Kata teman tadi, setelah mengamalkan doa tersebut, justru istrinya yang memotivasi untuk berpoligami. Teman tadi bilang, bahwa ia mendapatkan ijazah doa hadits dharir tersebut dari saya ketika sama-sama di pesantren dulu. Saya sendiri tidak ingat kalau pernah memberikan ijazah doa tersebut kepada teman tadi. Pada tahun 2011, ketika saya mengisi acara di rumah beliau, istrinya sudah tiga orang.

Sekitar awal tahun 2014, saya mengisi acara pelatihan selama tiga hari, yang diikuti oleh lima puluh orang para ulama dan ustadz yang diadakan oleh Mufti Kerajaan Johor Malaysia. Dalam acara pelatihan tersebut, saya berbicara tentang Ahlussunnah Wal-Jamaah, Syiah dan Wahabi. Dalam kesempatan tersebut saya sempat berbicara tentang hadits dharir dan pengalaman teman saya yang mudah berpoligami dengan mengamalkannya.

Kemudian kira-kira awal tahun 2016, ketika saya akan pulang dari Johor, dalam suatu acara penting, sesampainya di Bandara Senai, ada seorang ustadz yang pernah mengikuti pelatihan tersebut menyalami saya dengan penuh hormat. Ia membawa istri dan anaknya yang masih balita. Saya bertanya, itu keluargamu? Ia menjawab, “Ini barokah mengikuti pelatihan Anda awal 2014.” Saya tidak mengerti dengan maksud jawaban ustadz tersebut. Saya bertanya lagi, maksudnya bagaimana? Kemudian seorang pejabat dari Jabatan Agama Johor yang mengantarkan saya ke Bandara, membisiki saya, bahwa wanita ini adalah istri mudanya dan baru melahirkan anaknya. Saya bertanya lagi, jadi Anda berpoligami? Ia menjawab, ia dan alhamdulillah dimudahkan setelah mengamalkan doa hadits dharir di atas.

Pada akhir tahun yang lalu, ada seorang teman mengabarkan kepada saya, bahwa seorang ustadz terkenal dan alumni al-Azhar yang sering mengikuti acara saya di Johor Malaysia, telah melakukan poligami secara diam-diam, tetapi dengan persetujuan istri pertama dan keluarganya. Ketika ustadz ini menjumpai saya, saya bertanya tentang proses poligaminya? Ia menjawab, prosesnya mudah dan lancar setelah mengamalkan doa hadits dharir di atas di Multazam, di depan Ka’bah ketika menunaikan ibadah umrah.

Itulah sebagian kisah beberapa orang yang dimudahkan berpoligami dengan mengamalkan hadits dharir di atas. Karena itu para ulama menganjurkan mengamalkan hadits dharir tersebut apabila ada keperluan dan hajat yang ingin dimudahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Berdasarkan paparan di atas jelas sekali bahwa baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebab terkabulnya banyak hajat dan keperluan, sehingga masuk dalam redaksi shalawat Nariyah dengan kalimat, wa tuqdha bihi al-hawaij. Hadits-hadits seperti di atas sebenarnya banyak sekali didapati dalam kitab-kitab hadits. Tulisan ini hanya mengutip sebagian kecil saja. Wallahu a’lam.

Bersambung – insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s