KITAB NUZHAH AL-NADHAR DAN RE-AKTUALISASI KAJIAN (ILMU) HADIS DI PESANTREN (Bag. II)

Posted: Juli 13, 2017 in NGAJI ONLINE
Tag:

KITAB NUZHAH AL-NADHAR

Oleh : Muhammad Hanifuddin

Setelah di tulisan bagian pertama, kami fokus mendedah urgensi re-aktualisasi kajian (ilmu) Hadis di Pesantren, maka tulisan singkat kedua ini, difokuskan untuk menyisir sandaran historis dari tawaran gagasan tersebut. Dan dengan sengaja, kitab “Nuzhah al-Nadhar” karya Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani (773-852 H) ini kami pilih sebagai salah satu alternatif yang bisa dijadikan sebagai pintu masuk untuk membincangkan telaah basis historis itu. Mengapa demikian?

Setidaknya ada dua alasan yang relevan untuk diajukan. Pertama, dari sudut pandang filsafat sejarah ilmu pengetahuan (philosophical history of knowledge), kitab yang berjudul lengkap “Nuzhah al-Nadhar fi Taudlih Nukhbah al-Fikr fi Mushthalah Ahl al-Atsar” ini memiliki posisi strategis dan inspiratif dalam proses pematangan ilmu Hadis.

Strategis dalam artian, kitab karya Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani tersebut dapat dipandang sebagai titik simpul dari karya-karya ulama sebelumnya. Mulai dari kitab karya Imam al-Nawawi (676 H) yang berjudul “al-Taqrib wa al-Taisir li Ma’rifah Sunan al-Basyir al-Nadzir”, kitab karya Imam Ibnu al-Shalah (643 H) yang berjudul “Ulum al-Hadits” atau yang sering disebut dengan nama “Muqaddimah Ibnu al-Shalah”, kitab karya Imam al-Yahshubi (544 H) yang berjudul “al-Ilma’ ila Ma’rifah Ushul al-Riwayah”, kitab karya Imam al-Khatib al-Baghdadi (463 H) yang berjudul “Kifayah fi ‘Ilmi al-Riwayah”, kitab karya Imam al-Hakim al-Naisaburi (405 H) yang berjudul “Ma’rifah Ulum al-Hadits”, hingga kitab karya Imam al-Ramahurmuzi (360 H) yang berjudul “al-Muhaddits al-Fashil baina al-Rawi wa al-Wa’i”.

Alasan kedua, dari segi content, kitab “Nuzhah al-Nadhar” menyimpan fakta inspiratif bahwa, disiplin ilmu (apapun itu) harus senantiasa dikembangkan dan diperbaruhi dengan bekal kesungguhan dan penuh tanggung jawab. Di titik inilah tawaran ide re-aktualisasi kajian (ilmu) Hadis di pesantren di atas mendapatkan sandaran historisnya.

Sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh Dr. Nur al-Din al-‘Itr dalam kata pengantarnya selaku pentahqiq kitab “Nuzhah”, kitab karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani ini memiliki tiga sumbangan penting dalam bidang pembaharuan ilmu Hadis. Satu diantaranya ialah, kitab “Nuzhah” sangat berpengaruh terhadap pematangan istilah-istilah kunci dalam bidang ilmu Hadis. Pembakuan definisi yang disodorkan oleh Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitab ini (lantas) diikuti dan dilanjutkan oleh ulama-ulama setelahnya.

Semisal pembedaan secara definitif antara Hadis al-Syadz dan Hadis al-Munkar, pembakuan definisi Hadis al-Shahih li Dzatihi, al-Shahih li Ghairihi, al-Hasan li Dzatihi, dan al-Hasan li Ghairihi. Beberapa istilah ini, selain masih ada yang diperselisihkan di antara para ulama Hadis sebelumnya, juga bahkan ada istilah yang belum dikenal sebelumnya (semisal pembagian Hadis Shahih dan Hasan li Dzatihi dan li Ghairihi di atas).

Dari titik ini, dapat diajukan sebuah pertanyaan sederhana sebagai bahan refleksi, jika pembaharuan dan pematangan kajian-kajian ilmu Hadis sudah (senantiasa) disuri tauladankan oleh ulama-ulama terdahulu kita, lantas sudikah kiranya kita berempati kepadanya?

Semoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s