HUKUM MENULIS NAMA DI NISAN KUBURAN

Posted: Agustus 8, 2017 in AMAL GENERASI SALAF, MADZHAB & KHILAFIYAH, TAFSIR & QOUL ULAMA
Tag:
batu nisan

Ilustration pic by: alamy.com

Sering kita melihat keluarga almarhum meletakkan sesuatu atau tanda di kuburan, agar mudah dikenali oleh ahli waris dan masyarakat lainnya.

Dalam perspektif hukum Islam, para ulama telah menjelaskan hukum memasang nisan/batu dan menulis nama di papan.

Sebagian ulama menyebutkan hukum memasang nisan sebagai tanda pengenal merupakan sunnah, karena Rasul juga memberi batu nisan pada putranya sahabat yang bernama Utsman ibnu Madz’un. Dan Rasul berkata: dengan tanda batu nisan ini saya dapat mengetahui putra Utsman ibnu Madz un. Dan saya akan menguburkan keluargaku yang meninggal di samping Ustman bin madz’un. (Kitab Al-Aziz Syarh Al-Wajiz: V: 228, Kitab Majmuk Syarah Muhazzab: V: 296)

● Hukum Memberi Nama

Hukum pemberian nama pada batu Nisan / pada kuburan hukum nya khilaf dan terdapat perincian di antara 4 madzhab.

Alfiqhu ‘alaa madzahibil 4. Juz 1 hal 414 :

أما الكتابة على القبر تفصيل في المذاهب . فانظر ه تحت الخط ( ٢)ا
٢) المالكية قالوا : الكتابة على القبر ان كانت قران حرمت ، وان كانت لبيان اسمه ، او تاريخ موته ، فهي مكروهة ،
الحنفية قالوا الكتابة على القبر مكروهة تحريما مطلقا ، الا اذا خيف ذهاب اثره فلا يكره .
الشافعية قالوا : الكتابة على القبر مكروهة سواء كانت قرأنا او غيره ، الا اذا كان قبر عالم اوصالح ، فيندب كتابة اسمه ، وما يميزه ليعرف ،
الحنابلة قالوا ؛ تكره الكتابة على القبر من غير تفصيل بين عالم وغيره .
( الفقه على المذاهب الاربعة – الجزاء الاول ص٤١٤ )

Adapun penulisan pada kuburan terdapat beberapa penafsilan di antara 4 madzhab. Yaitu :

1.) ulama’ malikiyah berpendapat: penulisan Pada kuburan jika yang di tulis berupa Ayat al Qur’an maka haram . Dan jika bertujuan Untuk mengingat Nama Nya atau tgl kematian Nya maka Hal tersebut adalah makruh .

2.) menurut ulama’ hanafiyah .Penulisan Pada kuburan adalah makruh tahrim ( mendakati haram ) kecuali takut hilang jejak Nya ( takut kuburan itu hilang jejak ) maka tidak makruh .

3.) menurut ulama’ syafi’eyah .Penulisan Pada kuburan hukum Nya makruh Baik berupa Ayat al Qur’an / yang lain . Kecuali kuburan Nya orang ‘Alim Arah orang sholeh maka hukum Nya sunnah menulis Nama Nya Dan menulis sesuatu yang dapat membedakan Nya dengan yang lain

4.) .menurut ulama’ hanabilah .Penulisan Pada kuburan makruh tanpa ditafsil Baik kuburan Orang ‘allim / bukan.

Semua itu bertujuan sebagai tanda bahwa orang yang dikuburkan adalah salah satu keluarga atau kerabat mereka, juga membedakan antara makam yang satu dengan yang lain. Ditambah lagi jika yang dikuburkan adalah orang saleh dan wali, semua itu bertujuan agar makam beliau masih tetap bisa diketahui selama berjalannya waktu dan menunjang untuk melestarikan budaya ziarah atau tabarruk di makam mereka.

Pendapat ulama Salafy

قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله : ” والكتابة عليه فيها تفصيل : الكتابة التي لا يُراد بها إلا إثبات الاسم للدلالة على القبر ، فهذه لا بأس بها ، وأما الكتابة التي تشبه ما كانوا يفعلونه في الجاهلية يكتب اسم الشخص ويكتب الثناء عليه ، وأنه فعل كذا وكذا وغيره من المديح أو تكتب الأبيات …
فهذا حرام .
ومن هذا ما يفعله بعض الجهال أنه يكتب على الحجر الموضوع على القبر سورة الفاتحة مثلا ..أو غيرها من الآيات فكل هذا حرام وعلى من رآه في المقبرة أن يزيل هذا الحجر ، لأن هذا من المنكر الذي يجب تغييره . والله الموفق ” انتهى من شرح ” رياض الصالحين ”

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Tulisan di atas (nisan kuburan) ada perinciannya, tulisan yang tidak diinginkan kecuali untuk menetapkan nama untuk menunjukkan kuburannya. Hal ini tidak mengapa. Sementara tulisan yang menyerupai prilaku zaman jahiliyah, menulis nama seseorang dan pujian atasnya bahwa dia melakukan ini dan itu, atau pujian lainnya atau menulis syair, hal ini diharamkan. Hal ini seperti yang dilakukan oleh sebagian orang bodoh dengan menuliskan di batu nisan di kuburan surat Al-Fatihah, sebagai contoh, atau ayat-ayat lainnya. Semuanya ini diharamkan. Bagi orang yang melihat hal itu di kuburan, hendaknya dihilangkan nisannya. Karena ini termasuk kemungkaran yang harus dirubah. Wallahu Al-Muwaffiq.” (Syarh Riyadus Shalihin)

وقال الشيخ حمد بن عبد الله الحمد حفظه الله : ” لكن هل يجوز أن يكون ذلك ( وضع الاسم ) علامة إن لم يتمكن أهل الميت أن يضعوا علامة عليه لكثرة القبور وعدم التمييز بغير الكتابة ؟
ذهب طائفة من أهل العلم إلى جواز ذلك ، وأنها إذا وضعت الكتابة مجردة واكتفي بالاسم فحسب ، فإن ذلك لا بأس به ، بشرط ألا يتمكن من وضع علامة غيرها ، وذلك للحاجة إلى معرفة قبر الميت .
فقد ثبت في سنن أبي داود أنه صلى الله عليه وسلم : (وضع صخرة عند رأس عثمان بن مظعون وقال : أتعلم بها قبر أخي ، وأدفن إليه من مات من أهلي) .
وهذا القول حسن إن شاء الله” انتهى. من “شرح الزاد”

والله أعلم

Syekh Hamd bin Abdullah Al-Hamd hafizahullah berkata, “Apakah dibolehkan menulis nama sebagai tanda, jika keluarga keluarga mayat tidak dapat meletakkan sesuatu sebagai tanda untuk kuburan tersebtu, karena banyaknya kuburan dan tidak dapat dibedakan kecuali dengan tulisan?

Sekelompok ahli ilmu berpendapat perbolehkan hal itu. Karena hal itu cuma sekedar meletakkan tulisan saja, maka hal itu tidak mengapa. Dengan syarat tidak memungkinkan meletakkan tanda lainnya. Hal itu karena untuk keperluan mengetahui kuburan mayat. Terdapat dalam Sunan Abu Daud bahwa beliau sallallahu alaihi wa sallam, meletakkan batu bata di bagian kepala (kuburan) Utsman bin Maz’un dan mengatakan, “Agar saya dapat mengetahui kuburan saudaraku, dan saya kuburkan orang yang meninggal dunia dari kerabatku.” Pendapat ini  bagus insyaallah.” (Syarh Az-Zad)

Wallahu’alam .

Source: Ust. Yudit Kandhias Soghir & islamqa.info

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s