APAKAH DALIL ADALAH NASH AL-QUR’AN & HADIS SAJA?

Posted: Agustus 10, 2017 in STOP MENUDUH BID'AH !!, SUNNAH - ADAB & NASIHAT
Tag:

sy pengikut Qur'an Hadits bukan pengikut Madzhab

Suatu ketika saya ditanya, mana dalil yang mewajibkan qadha shalat dhuhur ketika seorang wanita haidh telah suci di waktu ashar.

Saya mencoba menjelaskan bahwa itu merupakan pendapat dari jumhur ulama. Karena shalat dhuhur dan ashar itu satu kesatuan atau satu paket. Maka ketika suci di waktu ashar seseorang juga dikenai kewajiban dhuhur, begitu juga suci di waktu isya seseorang juga dikenai kewajiban maghrib. Bukti dia satu paket adalah disyariahkannya shalat jamak. Dua shalat dalam satu waktu. Dan pendapat para ulama yang muktamad itu sudah merupakan dalil bagi kita yang awam. (Karena saya juga belum tahu dan tidak tahu sampai sekarang dalil dari Al-Quran dan hadis tentang hal tersebut. Melainkan itu adalah hasil ijtihadiyah para ulama).

Sebagaimana yang dikatakan Imam An-Nawawi rahimahullah:

(إذا بلغ الصبي أو اسلم الكافر أو طهرت الحائض أو النفساء أو افاق المجنون أو المغمى عليه وقد بقى من وقت الصلاة قدر ركعة لزمه فرض الوقت… فان كان ذلك في وقت الصبح أو الظهر أن المغرب لم يلزمه ما قبلها لان ذلك ليس بوقت لما قبلها وان كان ذلك في وقت العصر أو في وقت العشاء قال في الجديد يلزمه الظهر بما يلزم به العصر ويلزم المغرب بما يلزم به العشاء وفيما يلزم به العصر والعشاء قولان أحدهما ركعة والثانى تكبيرة والدليل عليه أن وقت العصر وقت الظهر ووقت العشاء وقت المغرب في حق أهل العذر وهو المسافر وهؤلاء من أهل العذر فجعل ذلك وقتا لها في حقهم.

Jika seorang anak kecil telah baligh, atau orang kafir telah masuk Islam, atau wanitayang haidh telah suci dari haidh dan nifas, atau orang gila/pingsan telah kembali kesadarannya, dan pada saat itu waktu shalat masih tersisa meskipun hanya akan mendapati satu rakaat shalat, maka orang tersebut dikenai kewajiban shalat.

Jika waktu yang didapati itu adalah waktu shubuh, atau dhuhur, atau maghrib, tidak diwajibkan bagi orang tersebut melaksanakan shalat yang sebelumnya.

Sedangkan kalau waktu yang didapati itu adalah waktu ashar, atau isya, maka imam Asy-Syafii dalam qaul jadidnya menyebutkan, diwajibkan bagi seseorang tersebut shalat dhuhur, sebagaimana diwajibkan baginya shalat ashar. Begitu juga kalau waktu yang didapati adalah isya, maka diwajibkan baginya shalat maghrib sebagaimana diwajibkannya shalat isya. Dan dalil atas masalah tersebut, karena waktu ashar juga adalah juga waktu dhuhur, dan waktu isya juga waktu maghrib bagi orang yang sedang udzur, seperti musafir. Sesungguhnya telah dijadikan kedua shalat dalam satu waktu bagi mereka. [1]

Ibnu Qudamah juga menjelaskan dalam kitabnya Al-Mughni:

وَإِذَا طَهُرَتْ الْحَائِضُ، وَأَسْلَمَ الْكَافِرُ، وَبَلَغَ الصَّبِيُّ قَبْلَ أَنْ تَغِيبَ الشَّمْسُ، صَلَّوْا الظُّهْرَ فَالْعَصْرَ، وَإِنْ بَلَغَ الصَّبِيُّ، وَأَسْلَمَ الْكَافِرُ، وَطَهُرَتْ الْحَائِضُ قَبْلَ أَنْ يَطْلُعَ الْفَجْرُ، صَلَّوْا الْمَغْرِبَ وَعِشَاءَ الْآخِرَةِ وَرُوِيَ هَذَا الْقَوْلُ فِي الْحَائِضِ تَطْهُرُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ، وَابْنِ عَبَّاسٍ، وَطَاوُسٍ، وَمُجَاهِدٍ، وَالنَّخَعِيِّ، وَالزُّهْرِيِّ، وَرَبِيعَةَ، وَمَالِكٍ، وَاللَّيْثِ، وَالشَّافِعِيِّ، وَإِسْحَاقَ، وَأَبِي ثَوْرٍ. قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: عَامَّةُ التَّابِعِينَ يَقُولُونَ بِهَذَا الْقَوْلِ، إلَّا الْحَسَنَ وَحْدَهُ قَالَ: لَا تَجِبُ إلَّا الصَّلَاةُ الَّتِي طَهُرَتْ فِي وَقْتِهَا وَحْدَهَا

Jika wanita haid telah suci, dan orang kafir telah masuk islam, dan anak kecil telah baligh di waktu sebelum terbenamnya matahari, maka mereka semua melakukan shalat dzuhur kemudian Ashar. Dan jika anak kecil telah baligh, dan orang kafir telah masuk islam dan wanita haid telah suci sebelum terbitnya fajar, maka mereka semua melakukan shalat maghrib dan isya. Dan perkataan ini diriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf dan Ibnu Abbas dan Thawus dan Mujahid dan An-Nakha’i dan Rabi’ah, dan Malik, dan Al-Laits dan Asy-Syafi’i, dan Ishaq, dan begitu pula Abu Tsaur. Imam Ahmad berkata: Keumuman para tabi’in berpendapat dengan perkataan ini kecuali Hasan Al-Bashri sendirian saja. Dia berkata: Tidak wajib shalat kecuali shalat yang dia telah suci di waktu itu[2]

Kembali ke masalah di atas. Ternyata si penanya tetap memaksa minta dalil. Saya mencoba memahami apa maksud dan yang diinginkan penanya. Rupanya dia meminta dalil dari Al-Quran dan hadis langsung dari rasulullah SAW. Dia beranggapan ketika disebut dalil maka yang di maksud adalah Al-Qur’an dan hadis.

Sebuah anggapan yang tidak salah. Cuma perlu dipahami, bahwa makna dalil tidak sesempit itu. Karena dalil tidak bisa hanya dibatasi pada Al-Quran dan hadis saja. Dalil yang muttafaq atau disepakati saja ada empat. Diantaranya dan paling utama adalah Al-Qur’an dan hadis serta ijma dan qiyas. Belum lagi dalil yang tidak disepakati tapi digunakan oleh para ulama untuk mengistinbath atau mengetahui suatu hukum.Seperti qaul shahabiy (Pendapat para sahabat), istihsan, mashlahah mursalah, urf (adat yang tidak bertentangan dengan syara’), syaru man qablana (syariat umat terdahulu), saddud dzariah dan istishab.

Dalil tidak mesti berupa nash. Karena dalil terbagi kepada dua,
1. Manshush (nash Al-Quran dan hadis/dalil naqli)
2. Ghair Manshush (dalil aqli) seperti qiyash, ijma’, istihsan, mashlahah mursalah dan yang lainnya.

Jangan kita membatasi dalil pada Al-Qur’an dan sunnah, sehingga menafikan atau melupakan yang lainnya. Kalau dalil hanya dipahami pada al-qur’an dan sunnah akan terjadi kekosongan hukum di dunia. Karena masa turunnya al-qur’an telah berakhir. Dan nabi SAW telah wafat. Sedangkan masalah kian hari kian muncul dan baragam. Begitu banyak masalah yang tidak ada secara tekstual disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis hukumnya, dan masalah tersebut membutuhkan status hukum yang jelas. Maka ketika masalah tidak ada hukumnya dalam dalam Al-Qur’an dan hadis, menuntut para ulama atau mujtahid untuk berijtihad. Hasil Ijtihad inilah yang kemudian kita yang awam ini ikuti.

Saya teringat perkataan salah seorang dosen kita Dr. Muradh Haidar suatu ketika beliau ditanya, “apa pendapat anda wahai doktor terhadap seseorang yang selalu bertanya mana dalilnya?” beliau menjawab: “Orang tersebut tidak beradab”.

Kenapa sampai beliau berpendapat demikian. Karena hal tersebut seolah menghina ulama atau mufti atau seseorang yang ditanya. Meragukan keilmuannya. Seolah mereka tidak memakai dalil dalam berpendapat atau berfatwa. Sedangkan kapasitas dia penanya hanyalah orang awam. Sama halnya hal di atas. Pendapat para ulama madzhab fiqih yang muktamad sudah cukup bagi kita yang awam. Tanpa perlu kita mengorek-ngorek lebih dalam apakah pendapat mereka berlandaskan Al-Qur’an atau hadis.

@Wallahua’alam bis showab.

[1] An- Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 3, hal.64.

[2] Ibnu Qudamah, Al-Mughni, Jilid 1, hal 287

Source: Ustzh. Isnawati, Lc via rumahfiqh.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s