MENJAWAB TUDUHAN DAI SALAFY TENTANG MADZHAB ASY’ARIYAH

Posted: Agustus 10, 2017 in STOP MENUDUH BID'AH !!, TAFSIR & QOUL ULAMA
Tag:

stop-menuduh

Bismillaah, alhamdulillaah, washolaatullaahi wasalaamuhu ‘ala Rasuulillaah, wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man waalaah. (Amma ba’du)

Diantara fitnah yang disebarkan untuk menjatuhkan akidah Asy’ariyyah adalah bahwa Asy’ariyyah menafikan sifat uluw dan istiwa’ Allah. Muta’akhirin Asy’ariyyah yang memilih ta’wil dituduh oleh mereka menafikan dua sifat Allah yang disebutkan dalam al Qur’an tersebut. Ini tuduhan tidak benar!

Kini muncul lagi fitnah, jika madzhab Asy’ariyyah meyakini Allah berada dimana-mana (fi kulli makaan). Padahal siapapun tahu, akidah Asy’ariyyah dan juga akidah jumhur umat Islam, Allah wujud tanpa tempat dan arah.

Seorang penceramah RodjaTV, Ustadz Abu Yahya Badrussalam Lc., dalam dua video berbeda yang diunggah di youtube dan viral di FB, dengan hafalan dan percaya diri mengutip ucapan Syaikh Abdul Qodir al Jilani dalam kitabnya, al Ghunyah, bahwa Asy’ariyyah berakidah “Allah berada dimana-mana”.

Namun, dari dua versi cetakan kitab al Ghunyah yang saya baca, tidak ditemukan nukilan atau pernyataan Syaikh Abdul Qodir al Jilani sebagaimana yang dituduhkan oleh penceramah Rodja tersebut. Saya buka di kitab-kitab Salafi yang menukil ucapan Syaikh Abdul Qodir tentang sifat istiwa’, juga tidak ada nukilan tersebut. Di website-website Salafi berbahasa Indonesia atau Arab, juga tidak ada nukilan sebagaimana penceramah Rodja tersebut. Lalu darimana nukilan di atas?

Ada tiga kemungkinan:

1. Dari naskah kitab al Ghunyah yang muharraf (dirubah) atau madsus (disisipi ucapan lain). Imam Ibn Hajar al Haitami dalam Fatawa Haditsiyyah mengatakan tentang adanya madsus dalam kitab al Ghunyah. Kalau memang kemungkinan ini benar, mengapa penceramah tersebut tak hati-hati dengan membuka al Ghunyah versi cetakan yang lain yang lebih valid?

2. Dia menukil dari kitab-kitab yang memusuhi Asy’ariyyah. Jika betul demikian, mengapa dia tak merujuk kitab aslinya saja? Bukankah ini tuduhan yang sangat serius kepada Asy’ariyyah?!

3. Salah hafalan. Jika kemungkinan ini benar, apakah da’i-da’i Salafi tidak yang mengingatkan dia? Lalu mengapa pula dia tidak berhati-hati terhadap tuduhan yang mengarah fitnah ini?

Terakhir, saya akan nukilkan dua (2) pernyataan Syaikh Abdul Qodir al Jilani tentang sifat istiwa dan juga manhaj akidah beliau dalam sifat ilahiyyah; tafwidh atau itsbat makna zhahir?

Pertama:
Ucapan beliau tentang istawa yang tanpa ta’wil.

Beliau berkata dalam alkitab Ghunyah (juz I, hlm. 73)

ﻭﻳﻨﺒﻐﻲ ﺇﻃﻼﻕ ﺻﻔﺔ ﺍﻻﺳﺘﻮﺍﺀ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺗﺄﻭﻳﻞ ، ﻭﺃﻧﻪ ﺍﺳﺘﻮﺍﺀ ﺍﻟﺬﺍﺕ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﻻ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﻘﻌﻮﺩ ﻭﺍﻟﻤﻤﺎﺳﺔ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻟﺖ ﺍﻟﻤﺠﺴﻤﺔ ﻭﺍﻟﻜﺮﺍﻣﻴﺔ ، ﻭﻻ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﻌﻠﻮ ﻭﺍﻟﺮﻓﻌﺔ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻟﺖ ﺍﻷﺷﻌﺮﻳﺔ ، ﻭﻻ ﻣﻌﻨﻰ ﺍﻻﺳﺘﻴﻼﺀ ﻭﺍﻟﻐﻠﺒﺔ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻟﺖ ﺍﻟﻤﻌﺘﺰﻟﺔ ، ﻷﻥ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﻻ ﻧﻘﻞ ﻋﻦ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻭﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺫﻟﻚ ، ﺑﻞ ﺍﻟﻤﻨﻘﻮﻝ ﻋﻨﻬﻢ ﺣﻤﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﻃﻼﻕ (( ‏[ ﺍﻟﻐﻨﻴﺔ ﺹ 73 / 1 ‏]

Ucapan ini menunjukkan beliau menolak ta’wil. Beliau mengatakan, istawa jangan dita’wil qu’ud (duduk) sebagaimana kaum Mujassimah. Bukankah selama ini yang menta’wil istawa dengan julus atau qu’ud adalah “mereka” sendiri?

Beliau juga mengatakan, jangan pula istawa dita’wil dengan uluw dan rif’ah (irtifa’). Beliau tidak mengatakan sesat pada ta’wil tersebut. Hanya mengungkapkan ketidak setujuan karena alasan ta’wil. Ini jika benar kalam beliau.

Apakah sesat menta’wil istiwa dengan uluw dan irtifa’?

At Tamimi dalam kitab I’tiqad al Imam al Mubajjal, hlm. 7 (wasithah Musthofa Hamdu) menukil ucapan Imam Ahmad bin Hanbal berikut:

وكان يقول في معنى الاستواء هو العلو والارتفاع

Imam Ibn Jarir ath Thabari dalam Tafsirnya (juz I, hlm. 192) menulis:

ﻭﺃﻭﻟﻰ ﺍﻟﻤﻌﺎﻧﻲ ﺑﻘﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺟﻞ ﺛﻨﺎﺅﻩ : ” ﺛﻢ ﺍﺳﺘﻮﻯ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﻓﺴﻮﺍﻫﻦ” ﻋﻼ ﻋﻠﻴﻬﻦ ﻭﺍﺭﺗﻔﻊ ، ﻓﺪﺑﺮﻫﻦ ﺑﻘﺪﺭﺗﻪ ، ﻭﺧﻠﻘﻬﻦ ﺳﺒﻊ ﺳﻤﺎﻭﺍﺕ . ﻭﺍﻟﻌﺠﺐ ﻣﻤﻦ ﺃﻧﻜﺮ ﺍﻟﻤﻌﻨﻰ ﺍﻟﻤﻔﻬﻮﻡ ﻣﻦ ﻛﻼﻡ ﺍﻟﻌﺮﺏ ﻓﻲ ﺗﺄﻭﻳﻞ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ : ” ﺛﻢ ﺍﺳﺘﻮﻯ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ” ﺍﻟﺬﻱ ﻫﻮ ﺑﻤﻌﻨﻰ ﺍﻟﻌﻠﻮ ﻭﺍﻻﺭﺗﻔﺎﻉ ، ﻫﺮﺑﺎ ﻋﻨﺪ ﻧﻔﺴﻪ ﻣﻦ ﺃﻥ ﻳﻠﺰﻣﻪ ﺑﺰﻋﻤﻪ – ﺇﺫﺍ ﺗﺄﻭﻟﻪ ﺑﻤﻌﻨﺎﻩ ﺍﻟﻤﻔﻬﻢ ﻛﺬﻟﻚ – ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺇﻧﻤﺎ ﻋﻼ ﻭﺍﺭﺗﻔﻊ ﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﻛﺎﻥ ﺗﺤﺘﻬﺎ – ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﺗﺄﻭﻟﻪ ﺑﺎﻟﻤﺠﻬﻮﻝ ﻣﻦ ﺗﺄﻭﻳﻠﻪ ﺍﻟﻤﺴﺘﻨﻜﺮ

Dari dua ucapan ini, ta’wil istiwa dengan uluw dan irtifa’ diakui oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Ibn Jarir ath Thabari.

Kedua:
Akidah Syaikh Abdul Qodir al Jilani

Beliau dalam al Ghunyah (hlm. 86) berkata:

وما اشكل من ذلك وجب اثباته لفظا وترك التعرض لمعناه ونرد علمه الى قائله ونجعل عهدته على ناقله

“Sifat-sifat Allah yang musykil (mutasyabihat) wajib di itsbatkan secara LAFAZH dan menjauhi membahas maknanya serta mengembalikan maknanya kepada Pengucapnya (Allah atau Rasul-Nya) (TAFWIDH). Dan tanggung jawab diserahkan kepada yang menukilnya”.

Itsbat lafazhnya dan menyerahkan maknanya kepada Allah adalah akidah TAFWIDH yang merupakan akidah salaf Ahlussunnah wal Jamaah. Dan Asy’ariyyah tidak mengingkari akidah ini.

Dalam al Ghunyah hlm. 116, beliau juga berkata:

ولا يجوز عليه الحدود ولا النهاية

“Tidak boleh bagi Allah sifat Had dan Nihayah (berujung)”

Bukankah mereka menetapkan had (batas) bagi Allah? Berarti beda antara akidah Syaikh Abdul Qodir al Jilani dengan mereka.

Dengan demikian, akidah Syaikh Abdul Qodir al Jilani adalah akidah tafwidh yang tanzih dan bersih.

Wallaahu A’lam

Source: KH. Hidayat Nur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s