MAULID NABI: KARENA BERGEMBIRA TAK BUTUH PERINTAH

Posted: Oktober 30, 2019 in SUNNAH - ADAB & NASIHAT
Tag:

Ustadz Abdi Kurnia Djohan

Katanya: kami bukan tidak gembira, dengan kelahiran Sang Nabi. Tapi, karena Nabi tidak memerintahkan kami untuk bergembira. Mana ucapan Nabi yang perintahkan kami untuk bergembira? Tunjukkan, karena kami hanya berbuat jika ada petunjuknya!

Jawaban: entah apa yang merasukimu wahai saudaraku. Bergembira atas kelahiran atau keberadaan Nabi itu ada petunjuknya di dalam al-Qur’an. Coba perhatikan ayat berikut:

(قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَ ٰ⁠لِكَ فَلۡیَفۡرَحُوا۟ هُوَ خَیۡرࣱ مِّمَّا یَجۡمَعُونَ)

Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

[Surat Yunus 58]

Katanya: Lho yang dimaksud dengan karunia dan Rahmat Allah di situ kan, Islam dan al-Qur’an. Bukan Nabi Muhammad, jadi jangan dimanipulasi begitu dong.

Jawaban: begini lur, coba lihat makna dari karunia Allah itu di dalam surat al-Jumu’ah:

(هُوَ ٱلَّذِی بَعَثَ فِی ٱلۡأُمِّیِّـۧنَ رَسُولࣰا مِّنۡهُمۡ یَتۡلُوا۟ عَلَیۡهِمۡ ءَایَـٰتِهِۦ وَیُزَكِّیهِمۡ وَیُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبۡلُ لَفِی ضَلَـٰلࣲ مُّبِینࣲ)

(وَءَاخَرِینَ مِنۡهُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوا۟ بِهِمۡۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِیزُ ٱلۡحَكِیمُ)
(ذَ ٰ⁠لِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ یُؤۡتِیهِ مَن یَشَاۤءُۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِیمِ)

Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.

Demikianlah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki; dan Allah memiliki karunia yang besar. (Qs al-Jumu’ah: 2-4)

Coba baca lagi berulang-ulang, di ayat ke-4 Allah menegaskan bahwa yang dimaksud karunia itu adalah didatangkannya seorang Rasul yang membacakan ayat suci dan mengajak untuk membersihkan dari dosa syirik dan kufur.

Maka wajar, jika Allah menegaskan di dalam Surat Yunus bahwa sudah seharusnya orang Mekkah bergembira dengan kehadiran seorang Nabi.

Katanya: Tapi kan, itu ayat untuk orang Mekkah bukan buat kita yang sudah beriman kepada Nabi Muhammad?

Jawaban: Lho kalau begitu, apakah al-Qur’an hanya diturunkan untuk orang Mekkah? Apakah ayat yang diturunkan tentang Bani Israil hanya untuk Bani Israil dan tidak menjadi pelajaran bagi kita? Begitu?

Katanya: ya gak begitu…

Jawaban: Nah, kalau gak begitu, kenapa kamu tidak bergembira dengan bulan lahirnya Nabi.

Katanya: Tapi, khan Nabi gak perintahkan?

Jawaban: Apakah bergembira itu harus ada perintahnya? Apakah untuk bergembira karena bisa meraih gelar sarjana itu kamu harus menunggu perintah dalil????

“Lebih selamat jika bergembira atas kelahiran Nabi itu, dengan menjalankan sunnah-sunnahnya, bukan dengan mengadakan perayaan hari kelahirannya.”, demikian sayup-sayup terdengar dari seberang sana, mempertahankan pendapatnya.

Gembira adalah perkara isi hati, sedangkan melaksanakan sunnah adalah perkara amaliyah. Lebih selamat mana antara isi hati dengan amal yang tampak. Jawabannya adalah isi hati. Kenapa begitu? Mari dibaca ucapan Nabi berikut:

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ اِلَى أَجْسَامِكُم وَلَا اِلَى صُوَارِكُم وَلَكِنْ يَنْظُرُ الَى قُلُوبكُم وَأَعمَالِكُم

Sungguh Allah tidak melihat kepada bentuk dan rupa kalian, tapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian (Riwayat al-Bukhari)

Perhatikan, wahai kawan, apa yang pertama disebut Nabi di kalimat akhir: Allah melihat kepada hati…

Karena hati itu, Nabi mengatakan:

إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّياتِ

Bahwa amal itu hanya bergantung kepada niat..

Dan tempat niat itu ada di dalam hati. Allah menyindir orang-orang Mekkah yang di dalam hatinya tertanam dengki kepada Nabi Muhammad, sehingga tidak senang dengan kehadiran Nabi di tengah mereka (Yunus:53). Allah juga mengungkap isi hati orang-orang munafik Madinah yang tampak perbuatannya patuh dan taat kepada Nabi, tapi hati mereka bersungut menyimpan dendam.

Maka dari itu, karena bergembira adalah perkara hati, tidak usahlah anda berkilah bahwa yang penting taat kepada Nabi daripada sekedar mengurus kegembiraan. Tidakkah anda pahami wahai kawan, bahwa ketaatan yang dilakukan tanpa kecintaan adalah penipuan. Dan kecintaan tanpa perbuatan adalah kebohongan. Tapi, ketaatan yang berangkat dari kegembiraan, itulah iman yang hakiki….

وَلنَا البُشْرَى بِسَعْدٍ مُسْتَمِرٍّ لَيْسَ يَنْفَد
حَيْثُ أُوْتِيْنَا عَطَاءً جَمَعَ الْفَخْرُ الْمُؤَبَّد…

Source: KH. Abdi Kurnia Johan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s