Posts Tagged ‘Adab’

NU-Muhammadiyah

Adalah pendiri NU, Kiai Hasyim Asy’ari, yang turut prihatin dengan perpecahan umat kala itu, dan berjuang mempersatukannya. Saat api fitnah dan pertentangan berkobar-kobar, ia gagas Al-Mawaa’izh: sebuah renungan dan nasihat yang mendalam akan pentingnya persaudaraan dan persatuan umat Islam. Al-Mawaa’izh ini beliau siarkan di Kongres NU ke XI di Banjarmasin tahun 1935.

(lebih…)

Salim a Fillah & Sayyid Ahmad al Maliki

Oleh : Ust. Salim A Fillah

“Dia yang mengajariku seayat ilmu”, begitu dikatakan oleh Sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, “Sungguh memiliki hak untuk memperbudakku.”

(lebih…)

Memuliakan-Ulama

SAUDARAKU, para ulama kita yang bermartabat sangat berhati-hati ketika menuntut ilmu. Mereka takut terjerumus ke dalam perangkap setan. Karena ilmu bisa buat pemiliknya sombong, angkuh, riya’, sum‘ah, ujub, dan penyakit hati lainnya. Jika dia salah niat dan keliru motivasinya.

(lebih…)

Dialog Batal

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefisinikan debat sebagai “Pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing.” Debat semacam ini positif selama kedua belah pihak masih bisa beragumentasi dengan baik. Akan tetapi ketika keduanya sudah dikuasai emosi dan bahkan saling serang pribadi masing-masing, maka perdebatan seamcam ini bisa berkepanjangan dan berpotensi menimbulkan madharat.

(lebih…)

Baca Qur'an

Dalam kitab Tadzkirah al-Auliya, Fariruddin Attar mencatat sebuah kisah menarik tentang kemuliaan hati Imam al-A’dham, Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit (699-767 M) rahimahu Allah. Diceritakan:

(lebih…)

Imam Syafi'i
Ketika masih berada di Baghdad, suatu ketika Imam Syafi’i berziarah ke maqbarah Abu Hanifah Ra di daerah Khaizaran. Di dekat maqbarah Abu Hanifah, Imam Syafi’i sempat melakukan shalat dua rakaat dan tidak mengangkat kedua tangannya.

(lebih…)

Habib Umar bin Hafiz

Sekalipun kebenaran ada pada pihaknya, -tidak ada yang meragukan itu- Rasul s.a.w. tidak pernah menyampaikan kebenaran itu dengan menyakiti perasaan orang yang diajaknya atau diajarnya. Ini yang mestinya diteladani bagi para pendakwah atau setidaknya penyampai “kebenaran”. Benar sudah pasti, tapi tak ada kata-kata kotor menyertai, tak juga ada kemarahan yang mengikuti, ” ngotot” bukan gaya Nabi, menyindir pun selalu Nabi s.a.w. jauhi, tak satupun tersakiti dari makhluk mulia ini. Buktinya;

(lebih…)